Hello
pemuda pemudi yang katanya penerus bangsa..!!
Kali
ini gue mau cerita tentang kegalauan hidup yang tiada tara, yang kalau dilihat
hikmahnya gue dapat bersyukur, tapi kalau fokus pada deritanya bikin gue pingin
masuk rahim buat dilahirin kembali. Ya kale.
Semua
berawal dari semenjak gue lulus SMA. Kenapa? Nih gue ceritain agak panjang tapi
gak lebar biar kalian pada ngerti bahwa kisah ini ga cukup hanya dikaliin
panjang dan lebarnya buat nyari luasnya segimana. Gue ngomongin apaan sih.
****
Setelah
lulus SMA tepatnya di tahun 2012, gue niat banget mau masuk perguruan tinggi.
Yaps, bener. Perguruan tinggi negeri tentunya. Nah… gue ikutin deh tuh sgala
macam cara, mulai daftar online dan urusan-urusan pengisian data hingga
akhirnya ikutin tes tertulis bersaing dengan puluhan ribu remaja dengan
berbagai tipe suku dan gaya. Gue bersaing dengan mereka-mereka yang rambutnya
keriting, lurus, ada juga yang atasnya lurus bawahnya keriting (rambut kepala
ya gaes). Ada juga yang gayanya cool abess, sampai yang alaynya ga abes-abes.
Issss dah gue harus ngadepin orang sebanyak itu buat dapetin satu kursi
perguruan tinggi negeri. Btw, gue ngurus mulai dari data sampai berangkat ujian
ke kota sendiri ya teman. Sorry, ga ada alasan buat manja, apa-apa dibawa mama
apa-apa bareng papah. Setelah umur 17tahun dan lo masih ibantuin mulu
kemana-mana ama ortu? Kapan orangtua bisa duduk manis minum teh anget, kalau
kemana-mana harus liatin kamu? (maaf gaes, merepet terbawa suasana)
Nah,
setelah mengikuti ujian, beberapa bulan gue jadi pengangguran (syeh elah,
gaya). Maksud gue, pengangguran karena kuliah enggak, kerja juga enggak. Gue
masih menunggu pengumuman online Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi
Negeri.
Tibalah
saatnya untuk pengumuman, jantung gue dag dig dug (ya iyalah namanya berdetak)
buka email pengumumannya. Gue terkejut… gue langsung mangap. Ternyata gue gak
lulus. Gue perjelas… GUE GAK LULUS. Puas? Isi emailnya kaya gini nih:
“Sdri
Naomi, Anda belum beruntung. COBA LAGI”
Ya
kale macam tulisan produk berhadiah. Gue bercanda. Intinya gue ga lulus.
Langsung
gue obrak-abrik apa yang ada di hadapan gue. Meja, bangku, tembok, gedung,
rumah, semua yang ada di kota gue hancurin (gue langsung berimajinasi sebagai
hulk ngamuk).
Hari
demi hari, minggu demi minggu, gue demi apaah, gue berubah menjadi pemurung.
Gue cemburu ama teman-teman lain yang bisa masuk perguruan tinggi dan gue
enggak tau bakalan jadi apa. Gue ga minta dimasukin ortu ke p0erguruan tinggi
swasta, karna menurut gue pada saat itu ung kuliah swasta itu bakalan mencapai
puluhan juta rupiah dan gue takut menyusahkan orangtua.
Waktu
terus berlalu, gue udah gak galau lagi. Gue nyadar, waktu terus berjalan. Kalau
kita selalu berdiam pada suatu titik penyesalan maka kita tak akan bisa
menggambar sebuh garis yang panjang. Pada satu tahun itu gue kerja. Ngumpulin
duit. Disela-sela gue kerja gue ngerjain soal-soal ujian yang ada dalam buku
paket soal-soal. Sebagian besar saya lupa beberapa mata pelajaran terutama
pelajaran ngitung, tapi gue terus mencoba. Mempelajarinya berulang-ulang lalu
mengerjakan soal lagi.
Tibalah
waktunya ujian SNMPTN untuk penerimaan 2013. Gue ikutin lagi. Gue urus lagi
semuanya (sendiri) dengan harapan dalam hati semoga sang Maha Kuasa mengabulkan
doa dan memberkati segala usaha gue. Asik.
Terimakasih
Tuhan gue lulus dengan jurusan pilihan ke tiga. WHAT?? Gue baru sadar ternyata
gue lulus pada pilihan ke tiga. Gue galau lagi. Bukan berarti saya tidak
bersyukur ya. Gue cuma menyesali kenapa bisa milih jurusan itu waktu milih
jurusan pra-ujian. Jurusan itu adalah jurusan yang gue gak suka semenjak gue
lahir sampai SMA.
Sebagai
orangtua yang berbangga hati akhirnya putrinya masuk PTN, sampailah kabar itu
ke seluruh penjuru tetangga, mulai dari tetangga baik hati sampai tetangga yang
doyannya menggosip.
“Waaah…
selamat yaa, nanti bagus-bagus kuliahnya jangan ikuti pergaulan yang ga bener
ya”
“Hehe..
iya bu. Terima kasih”
“Lulus
jurusan apa nak?”
“Jurusan
…….. buk”
“Lah..
nanti mau jadi apa?”
Kalau gue binatang buas, da gue lahap ampe ga
bersisa ni ibuk. Daftar ulang aja gue belum da ditanya mau jadi apa. Ya intinya
gue masuk seleksi meskipun jurusannya mungkin bagi mereka-mereka yang ga ngerti
sebuah perjuangan buat ngeraih tu bangku kuliah kudu ngelawan berapa ribu
orang.
****
Masuklah pada masa pendaftaran ulang, plonco, dan
perkenalan maba yang menurut gue lumayan buat ga bisa tidur karna mikirin entah
penyiksaan apa lagi yang akan gue dapatkan. Semua terasa berkesan walau agak
mnyiksa. Hingga akhirnya gue dapatkan beberapa teman baru, teman baru yang
mukanya agak lama, hingga ada juga temen lama yang mukanya gak baru-baru.
Pada bulan agustus 2013 perkuliahan pun dimulai. Dosen
masuk. Kami semua perkenalan satu persatu. Bahagia gak kepalang gue. Kenapa? Karena
ternyata banyak yang masuk kelas satu jurusan dengan gue. Intinya: bukan gue
satu-satunya orang yang salah jurusan ternyata hahahha (tersenyum gaya setan
dalam hati). Mulai deh dosennya ngomong.
“kalian
mau jadi apa?”
Lahhhh.. pertanyaan ini lagi. Sepertinya gue memang
akan menjadi hulk beneran ini buat mangsa korban kedua.
Compulison:
Live must go on guys. Mau lu berhasil, gagal, jahat,
baik, orang taunya hanya berkomentar. Kita semua mau jadi apa kelak, who knows?
Jalani dengan bersyukur, lakukan yang terbaik. Sebab kata pepatah tak ada usaha
yang menghianati hasil. Betul toh? Tohhhhhhh.
Gue punya prinsip, kadang kala muka tembok itu
penting. Kadang kala loh ya. Jangan jadi muka tembok everytime and everywhere.
Akhir kata, salam semangat buat kita semua terutama
buat kalian yang mungkin baru saja gagal dalam suatu urusan. Ingat bahwa
kegagalan/masa lalu adalah guru yang baik. Ambil hikmahnya. Maju terus jangan
perdulikan apa kata orang. Apa yang kamu peroleh mungkin buruk hari ini, namun
bukan berarti mereka yang berkomentar melakukan yang lebih baik daripada kamu. Be
the best, do your best, and get the best.