BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Karya sastra merupakan luapan
spontan dari perasaan yang kuat, cermin emosi yang dikumpulkan oleh pengarang dalam
keheningan mendalam, yang kemudian diolah dalam penciptaan melalui pemikiran.
Dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai macam permasalahan sosial yang
biasanya memberikan pengaruh dan tercermin didalam karya sastra. Permasalahan
sosial dipengaruhi oleh adanya ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan.
Sebagai anggota masyarakat, pengarang dengan sendirinya lebih berhasil untuk
melukiskan msyarakat ditempat ia tinggal, lingkungan hidup yang benar-benar
dialaminya secara nyata.
Damono (1979:7) mengungkapkan bahwa
seperti halnya sosiologi, sasta berurusan dengan manusia dalam masyarakat.
Usaha manusia untuk menyelesaikan diri dan usahannya untuk merubah masyarakat
itu. Hubungan manusia dengan keluargannya, lingkungannya, politik, negara, dan
sebagainya. Dalam penelitian murni, jelas tampak bahwa novel berurusan dengan
tekstur sosial, ekonomi dan politik yang juga menjadi urusan sosiologi. Novel
menyusup, menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukan cara-cara manusia
menghayati masyarakat dengan perasaannya.
Sehubungan dengan pendapat di atas,
Adisaputera, dkk (2015:49) menyatakan
bahwa apabila ditinjau dari segi sejarahnya, konsep sosiologi sastra didasarkan
pada dalil bahwa karya sastra dilukis oleh seorang pengarang, dan pengarang
merupakan a silent being, makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam
kehidupan empirik masyarakatnya. Dengan demikian, sastra juga dibentuk oleh
masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam
masyarakatnya.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
konteks sosial pengarang yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja
karya Achmad Munif.
2. Bagaimanakah
gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja
karya Achmad Munif.
3. Bagaimanakah
fungsi sosial dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.
C. Tujuan
Tujuan
yang akan dicapai dalam analisis ini adalah:
1. Mendeskripsikan
bagaimana konteks sosial pengarang yang tercermin dalam Novel
Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy.
2. Mendeskripsikan
bagaimanakah gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel
Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy.
3. Mendeskripsikan
bagaimanakah fungsi sosial dalam Novel Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya
Taufiqurrahman Al-Azizy.
D. Manfaat
1. Analisis
novel ini diharapkan dapat memberikan masukan pada perkembangan sastra
khususnya pada analisis dengan pendekatan sosiologi sastra.
2. Analisis
novel ini juga dapat dijadikan bahan bacaan atau pegangan dalam melakukan
penelitian berikutnya khususnya penelitian dengan pendekatan sosiologi sastra.
BAB II
PEMBAHASAN
Wilayah sosiologi sastra cukup luas.
Wellek dan Austin Warren (Adisaputera, dkk 2015:49) membagi telaah sosiologis
menjadi tiga klasifikasi. Pertama, sosiologi pengarang, yakni yang
mempermasalahkan tentang status sosial, ideologi politik, dan lain-lain yang
menyangkut diri pengarang. Kedua, sosiologi karya sastra, yakni
mempermasalahkan tentang suatu karya sastra. Yang menjadi pokok telaah adalah
tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau
amanat yang hendak disampaikannya. Ketiga, sosiologi sastra yang
mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.
Semi dalam Renita, dkk (2013) berpendapat
bahwa sastra merupakan media komunikasi yang mampu merekam gejolak hidup
masyarakat, dan sastra mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat. Disisi
lain, fenomena hidup dalam masyarakat merupakan sumber ide bagi pengarang dalam
melahirkan karya sastra. Apa yang dirasakan dan apa yang diungkapkannya tidak
hanya berasal dari diri pribadi melainkan perpaduan ide kreatif, imajinasi dan estetiknya
dengan persoalan hidup yang ada dalam masyarakat. Apa yang terjadi di
sekeliling pengarang akan menjadi bahan yang menarik untuk dimanifestasikan ke
bentuk tulisan.
Sosiologi sastra sendiri disiplin ilmu dari pendekatan mimesis yang
merupakan bagian dari pendekatan ektrinsik. Mimesis sendiri bertolak dari
pemikiran yang sastra itu adalah hasil seni yang mencerminkan kehidupan nyata,
merupakan tiruan atau pemaduan antara kenyataan dengan imajinasi pengarang. Disini
saya mengkaji novel ‘Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman
Al-Azizy’ dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra.
A. Sosiologi
Pengarang
Taufiqurrahman al-Azizy, lahir pada
9 Desember 1975. Asli orang Indonesia, tepatnya Jawa Tengah. Pernah nyantri
di Pesantren Ilmu al-Qur’an “Hidayatul Qur’an” yang diasuh oleh KH. Drs.
Ahsin Wijaya al-Hafizh, M.A. Pernah pula kuliah di Institut Ilmu al-Qur’an
(IIQ) Jawa Tengah. Namanya melejit setelah meluncurkan trilogi novel
spiritual Makrifat Cinta, yang terdiri dari Syahadat Cinta(DIVA
Press, 2006), Musafir Cinta (DIVA Press, 2007), dan Makrifat
Cinta (DIVA Press, 2007). Novelnya setelah trilogi novel
spiritual “Makrifat Cinta” yang juga telah beredar adalah Kitab
Cinta Yusuf Zulaikha (DIVA Press, 2007) Munajat Cinta (DIVA Press,
2009), Jangan Biarkan Surau Ini Roboh (DIVA Press, 2009) Sahara
Nainawa (DIVA Press, 2009), Kidung Shalawat Zaki dan Zulfa (DIVA Press, 2010),
Alif (DIVA Press, 2011), Kecupan yang Sangat Dirindunya (DIVA Press, 2012),
Rintihan dari Lembah Lebanon (DIVA Press, 2012), dan Lelaki yang Menggenggam
Ayat-Ayat Tuhan (DIVA Press, 2012).
Konteks sosial sastrawan ada
hubungannya dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya
dengan karyanya. Dilihat dari kelahiran penulis yaitu dari daerah Jawa Tengah,
penulis memberi penamaan tokoh yang berkaitan dengan sukunya yaitu: Sumirah,
Neneng, Lawuk, Bu Suminah, Mbak Rohmah dan Mbah Kamiyem. Selain penamaan tokoh
tersebut, latar tempat dalam novel tersebut pun berkaitan dengan latar belakang
tempat kelahiran pengarang yaitu Temanggung, Wonosobo. Seperti yang diungkapkan
oleh Sigalingging (2015:103) bahwa sebagai anggota masyarakat, penulis tidak
dapat melepaskan diri dari lingkungan sosial budaya, politik, keamanan,
ekonomi, dan alam yang melingkupinya.
Pada bagian pengantar novelnya,
Al-Azizy menyatakan dengan gamblang “kisah yang saya tulis ini memang fiktif
belaka, tetapi isi dan tema yang saya sajikan adalah nyata.” Penulis menyatakan
bahwa novelnya merupakan transformasi dari pengalaman kehidupannya. Selain itu,
penulis juga menyatakan bahwa yang menginspirasinya dalam penulisan novel
Wanita Baik untuk Lelaki Baik ini pun teringat dari isi firman.
“Ibunya
sangat kolot soal menantu ini, penginnya orang Jawa”
Kutipan
tersebut sangatlah berkaitan dengan kehidupan pengarang yang berasal dari Jawa
dan juga yang menyelesaikan studinya di Jawa. Pengarang tidak lepas dari
pencitraan masyarakat Jawa di dalam penceritaan novelnya. Oleh karena pengarang
juga merupakan bagian dari masyarakat dan hidup di tengah pola hidup dan
kebudayaan masyarakat, tentu karya yang diciptakannya tak lepas dari sisi-sisi
kemasyarakatan dalam kehidupannya yaitu lingkungan Jawa.
B. Sosiologi
Karya Sastra
Pendekatan ini
meninjau sampai sejauh mana sastra dapat mencerminkan keadaan social masyarakat. Keadaan sosial tersebut dapat
mencerminkan berbagai hal tentang masyarakat baik dari segi kehidupan dan mata
pencaharian masyarakat, kisah cinta dan kesabaran dalam menjalani hidup, nilai
moral, agama dan lain sebagainya.
1. Penggambaran
Pola Hidup Masyarakat
Dalam
novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik, digambarkan kehidupan masyarakat Temanggung
yang bekerja sebagai petani tembakau.
“telah puluhan
bahkan ratusan tahun para orangtua sudah mengajarkan bakat bertani tembakau
kepada anak-anak mereka.tanpa sekolah, tanpa kuliah, toh banyak warga yang bisa membeli mobil-mobil mewah. (14)”
Hal tersebut memperjelas
penggambaran kehidupan masyarakat yang di cantumkan ke dalam cerita novel.
Bahwa masyarakat sudah memiliki persepsi kehidupan yang sama, yaitu mengajarkan
kehidupan bertani yang merupakan sumber uang dan kehidupan masyarakat. Dalam
novel tersebut pun digambarkan bahwa sekolah bukan sebagai hal yang penting.
Mereka beranggapan bahwa sekolah adalah cara yang licik untuk menghabiskan uang
orangtua.
Selain
itu,relasi yang erat masyarakaat paponan dengan tokoh yang bernama Koh Adi
penganut budaya Cina yang tinggal di Indonesia. Hal ini memberi penggambaran
dalam novel tentang hubungan masyarakat yang tidak hanya berhubungan dengan
masyarakat sebudayanya, namun akrab juga dengan kebudayaan lain.
2. Nilai
Moral dan Kesantunan
Budaya Jawa
mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari
hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Hal tersebut terlihat
dalam kutipan:
“Kaum laki-laki
yang menyelempangkan kain sarung dan perempuan-perempuan desa yang mengenakan
baju tertutup rapat dengan mengenakan jaket, bahkan bila mereka berangkat ke
ladang tembakau.(11)”
Selain itu, dalam novel Al-Azizy
ini, kita dapat menemukan permasalahan nilai moral yang digambarkan oleh pemuda
yang anarkis yang melakukan aksi demo untuk menuntut hak mereka yaitu Agung dan
Lawuk beserta pemuda-pemuda kampung melakukan demo untuk menolak gerakan
antirokok dan antitembakau yang digalakkan Pemerintah. Hal tersebut dikarenakan
mereka menghawatirkan nasib kehidupan mereka yang bergantung pada pertanian
tembakau di kampung(60).
Dalam
novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik inipun menggambarkan masalah sosial pemuda
yang anarkis yang melakukan aksi demo untuk menuntut hak mereka. Dalam novel
tersebut digambarkan tokoh Agung dan Lawuk beserta pemuda-pemuda kampung
melakukan demo untuk menolak gerakan antirokok dan antitembakau yang digalakkan
Pemerintah. Hal tersebut dikarenakan mereka menghawatirkan nasib kehidupan
mereka yang bergantung pada pertanian tembakau di kampung.
“ Zina adalah perbuatan
buruk yang sanagat dicela agama. Disebut sebagai fakhisyah dan jalan yang buruk untuk melampiaskan syahwat dan
mendapatkan keturunan.(329)”
Dalam novel Wanita Baik Untuk
Lelaki Baik karya Taufiqurrahman ini memang berisi kisah percintaan yang
berakhir menyedihkan oleh sebab perselingkuhan Yazid yang begitu sempurna di
mata Sumirah gadis desa yang sangat baik. Selain mengemas cerita dengan kisah-kisah
yang mengena di hati, pengarang juga banyak menuliskan ajaran-ajaran moral di
sela-sela cerita, termasuk pesan moral dalam kutipan di atas.
3. Nilai-Nilai
Sosial dalam Kekeluargaan
Dalam
kekeluargaan tentu memiliki nilai-nilai dalm kehidupan bermasyarakat. Dan
nilai-nilai itu pun terdapat dalam novel karya Tauifqurrahman.
“Kita ini orang kecil
nduk, tetapi kita tak boleh sembarangan dalam menjalin hubungan(27)”
pada kutipan ini, terlihat jelas
pada lingkungan keluarga di masyarakat bahwa orangtua selalu mengharapkan yang
terbaik untuk anaknya salah satunya yaitu untuk pendamping hidup yang
diharapkan.
“Dan, dia ingat pesan
neneknya. Dimanapun kau tinggal, jangan pernah melupakan adat dan sopan
santunmu sebagai putri Jawa. Jangan pernah tinggalkan sopan santun itu, sebab
sia akan menjadi penolongmu dimanapun kau berada.(188)”
Dalam kehidupan kekeluargaan yang
tak lepas dari nasehat-nasehat, dalam tokoh Sumirah ini pengarang
menanamkannya. Dimana sang tokoh memegang teguh segala ajaran yang didapatkannya dalam keluarganya. Seperti yang dinyatakan Renita, dkk (2013)
dalam jurnalnya bahwa keluarga orang Jawa adalah merupakan keluarga dimana
dikembangkan rasa kasihan, merasakan penderitaan orang lain, rasa tanggung
jawab, dan perhatian terhadap sesama. Di mata orang Jawa, menjadi seorang
masyarakat Jawa berarti menjadi manusia beradab, yang mengetahui bagaimana
seharusnya bertingkah laku atau mengetahui tatanan Jawa.
“apa pun, yang penting
kita ada penghasilan. Aku khawatir, keadaan tidak segera membaik, bu. Besok aku
akan pergi ke kota. Siapa tahu aku bisa mengerjakan sesuatu yang menghasilkan
uang.(68)”
Dalam kutipan di atas menunjukkan
tanggung jawab seorang suami yang memang harus memenuhi nafkah istri dan
anak-anaknya. Pengarang menggambarkan seorang suami sekaligus ayah yang
berjuang demi menghidupkan keluarganya di saat sumber mata pencahariannya tak
lagi ada. Selain ayah yang bertanggungjawab, pengarang juga menggambarkan tokoh
Sumirah sebagai anak yang berbakti pada orang tuanya. Hal tersebut terlihat
pada kutipan dibawah ini:
“Sumirah menggeleng.
Pada detik selanjutnya, Sumirah memberanikan diri. Dia berkata kepada Bapaknya,
Pak Bolehkah saya bekerja?(69)”
Pada novel tersebut menunjukkan
seorang bunga desa yang bernama Sumirah sebagai bunga desa yang hidup dalam
keluarga yang sederhana. Pada kutipan di atas menunjukkan dia sebagai anak yang
berbakti sebab tak ingin melihat orangtuanya yang begitu pusing memikirkan
pekerjaan dan uang yang disebabkan hilangnya sumber mata pencaharian kedua
orangtuanya sebagai petani tambakau.
4. Nilai
Keagamaan
Kehidupan beragama juga terlihat
pada cuplikan cerita novel, yang menggambarkan aktivitas tokoh yang sedang
menunaikan ibadah sholat.
“didorong rasa
penasaran yang teramat sangat, usai menjalankan shalat Zhuhur, Lawuk mendekati
Agung yang tampak duduk merenung di depan masjid sembari memandang
kejauhan.(61)”
Dalam novel Wanita Baik untuk
Lekaki Baik tersebut pun menggambarkan tentang permasalahan sosial tentang
tokkoh Agung yang bertato dan terkenal preman. Hal tersebut membuat persepsi
warga bahwa penampilannya seburuk penampilannya. Namun, malah sebaliknya seorang
berpenampilan layaknya preman tidak menutup kemungkinan bahwa akhlak dan
perbuatannya malah lebih baik dari yang berpenampilan kalam. Agung menuntut
ilmu agama. Dalam kehidupan kita juga masalah ini kerap terjadi. Kita memandang
perilaku seseorang hanya dari tampilan luarnya saja. Dan setelah kita mengenal
lebih jauh, ternyata kenyataannya berbeda.
5. Penggambaran
Sikap Wanita Baik dan Lelaki Baik dalam Masyarakat
Apabila pada
kehidupan masyarakat jawa kita beranggapan bahwa seorang waanita Jawa hendaknya
hidup sebagai wanita yang murah senyum dan ramah pada siapa saja, dalam hal
ini, pengarang menggambarkan masalah sosial dalam harga diri wanita yang
merupakan makhluk terhormat, bukan makhluk penggoda. Pengarang memberi
penegasaan pada keindahan wanita yang hendaknya dijaga agar tetap indah dan
berharga.
“Wanita harus sombong
karena kesombongan itulah yang akan menjadikan dirinya terhormat di hadapan
pria. Dalam kesombongan itu, harga dirinya ditambatkan(91).
Pengarang berpendapat lain, bahwa kehormatan dan keindahan
wanita tidak selayaknya diumbar pada siapa saja. Melainkan lewat keosmbongan
itulah wanita terjaga.
“Sumirah yang polos dan
lugu tidak memiliki jiwanya sendiri. Sebab, kepada ayah dan ibunya itulah hati
dan jiwanya terikat(26)”
Kutipan diatas menunjukkan sikap
baik tokoh Sumirah yang sangat mematuhi orangtuanya. Dimana segala hal yang
mencakup dirinya tidak dengan semena-mena mengambil keputusan sendiri secara
egois. Namun semua hal akan dipertanyakan kepada kedua orangtuanya sebab
keyakinannya, mereka akan memberi jawaban yang trerbaik untuk hidupnya.
“Mas kok hanya
bilang-bilang terus sih? Aku harus bagaimana? Maafkan isterimu ini Mas. Aku
ingin taat dan berbakti kepadamu”
Dalam kutipan itu juga pengarang
menggambarkan wanita yang taat pada suami. Sama halnya dengan pernyataan Ritzer
dan Goodman (2004:415) bahwa perempuan digambarkan memiliki posisi inferior dan
tunduk pada laki-laki.
“Dia seperti
gados-gadis laain pada umumnya, melihat seseorang dari apa yang dimilikinya,
bukan melihat sebagai seseorang itu sendiri. Belum juga jadian, dia telah
meminta ini dan itu.(179)”
Dalam novel Wanita Baik untuk
Lelaki Baik tersebut, menyiratkan bahwa seorang wanita yang baik tidaklah
memandang siapapun dari segi keberadaan materi. Namun memandang dari segi
kepribadian sebagaimana seseorang itu bersikap. Dan sikap yang baik itu
tergambar pada sosok Sumirah yang menerima siapapun apa adanya dan sama sekali
tak menoleh pada harta dan kekayaan.
Selain penggambaran Wanit Baik,
dalam novel tersebut pun terdapat penggamabaran bagaimana seorang lelaki
dikatakan baik.
“kalu dia
benar-benar pemuda baik dan tak jahat, tentu dia akan ikhlas mengantar jemput
kau selama ini.(29)”
Kutipan diatas membuktikan bahwa
pengarang menggambarkan sosok lelaki yang baik yaitu lelaki yang ikhlas, yang
tidak menuntut balas, dan tidak memaksa.
“tato yang tadinya bagus, kini terhapus,
sedang kulit lengan Agung tempat bekas tato itu berada tampak menjadi buruk sekali.(61)”
Tokoh Agung dalam kutipan diatas
tampak menghapus tatonya. Sebab dalam pandangan masyarakat yang memandangnya
buruk oleh otot dan tatonya itu. Sosok lelaki baik yang digambarkan sebagai
lelaki yang tak bertato diwujudkannya.
“Kalau sekarang
aku rajin sembahyang, karena aku sadar bahwa tidak ada yang bisa membantu dan
menolong kita kecuali Dzat yang lebih kuat yaitu Allah kita kepadanya kita
mengadu, memohon pertolongan dan kekuatan. Karna itulah aku shalat.(64)”
Dapat dikatakan, melalui kutipan diatas
bahwa pengarang menggambarkan tokoh lelaki baik yaitu lelaki yang kelak akan
menjadi imam yang baik bagi keluarganya yaitu lelaki yang taat menunaikan
ibadah.
“Yazid menahan
geram. Tetapi, dia tetap bersabar. Yang penting, isterinya mau dipertemukan
dengan atasan dan isterinya.(226)”
Dalam kutipan diatas, menyiratkan
bahwa pengarang juga menggambarkan sosok lelaki baik yang penyabar dan tidak
emosional. Sifat yang dituangkannya terhadap tokoh Yazid tersebut memberi
penjelasan secara tidak langsung bahwa lelaki yang baik adalah lelaki yang yang
tidak d4engan semena-mena memaksakan kehendaknya terhadap istrinya dengan
meninggikan statusnya sebagai suami. Seperti yang dikatakan Wildan (2009:32)
dalam skripsinya bahwa batas kepemimpinan pria tidak menyinggung perasaan
wanita atas kehormatannya. Dalam kebiasaan, yang memimpin adalah yang mengatur
dan berlaku adil, bukan menindas dan menguasai.
C. Sosiologi
Sastra
Sosiologi Sastra
mengharapkan dampak ataupun perubahan social yang ditimbulkan oleh pembaca
setelah membaca novelnya. Novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik ini sangat banyak
memberi nilai moral terhadap pembaca dengan penyajian bahasa yang tidak
monoton. Setiap cerita yang dipaparkan selalu dibubuhkan cerita lucu yang tentu
saja tidak membuat pembaca bosan. Dan apabila dilihat dari isi cerita,
pengarang sangat peduli terhadap situasi masyarakat yang kerap kali muncul
berbagai masalah dalam setiap lika-liku kehidupan. Yang paling utama pengarang
mengajarkan tentang arti cinta dan bagaimana mengelola hati dan mengahadapi
setiap persoalan hidup. Kemarahan, kecemburuan, iri hati, dengan cara khusus
dituturkannya dalam cerita. Kemarahan tidak harus berarti dilampiaskan, menjadi
anarkis, mencaci maki, dan lain sebagainya.
BAB III
KESIMPULAN
Sosiologi Sastra dibentuk oleh
masyarakatnya dan memiliki keterkaitan timbal-balik dengan masyarakat, dan
sosiologi sastra berupaya meneliti hubungan antara sastra dengan kenyataan
masyarakat dalam berbagai aspek. Hal tersebut dikarenakan sebuah karya sastra
merupakan cerminan dari alam dan kehidupan manusia yang dikemas dengan
pemilihan bahasa dan gaya bercerita sebagaimana agar cerita tersebut terasa
lebih nyata dan memberi kesan bagi pembacanya.
Dan saya pun menyimpulkan bahwa
novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy merupakan sebuah
cerminan dari kehidupan pengarang. Sebab begitu banyak kesamaan yang dapat
ditemukan antara latar belakang pengarang serta gaya penceritaan pengarang
dalam novelnya. Pengarang yang besar pada lingkungan Jawa, demikian pula isi
cerita novel yang banyak menyinggung tentang kehidupan dan pola hidup
masyarakat Jawa. Selain itu, latar dalam cerita juga berkisar pada wilayah
Jawa, serta penamaan-penamaan tokoh yang banyak terpengaruh pada penamaan
masyarakat Jawa.
DAFTAR PUSTAKA
Adisaputera,
dkk. 2015. Modul Pengantar Pengkajian Prosa
Fiksi. Medan: Universitas Negeri Medan.
Al-Azizy,
Taufiqurrahman. Wanita Baik untuk Lelaki
Baik. Jogjakarta: Najah
Damono,
Sapardi Djoko.1978. Sosiologi Sastra
Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta:
Depdikbud.
Sigalingging.
2015. Pengantar Kritik Sastra.
Jakarta: Halaman Moeka.
Wildan,
Syaiful. 2009. Kedudukan dan Peran Perempuan sebagai Istri dalam Masyarakat Kraton Yogyakarta Hadiningrat.
Skripsi Ilmu Hukum Islam. Hal 1-63.
LAMPIRAN
SINOPSIS
NOVEL
Sumirah adalah bunga desa. Rumit dan
berliku jalan kehidupan yang dilalui Sumirah. Bunga desa yang lahir dan tumbuh
di Paponan, sebuah tempat di Temanggung. Dia adalah cermin dari gadis yang
polos dan lugu. Jiwa pedesaan telah menanamkan berbagai sifat yang baik dan
mulia kepada dirinya. Dia tidak pernah pacaran dan mengenal jatuh cinta. Dia
selalu taat dan patuh pada orangtuanya. Gadis sebaik dia, mnurut anggapan
warga, mustahil harus menerima cinta seorang pemuda dari ndesa tetangga, Agung
namanya. Agung dianggap terlalu buruk. Dia bertato di lengan dan hanya tukang
ojek. Bunga desa tak pantas bersanding dengan pemuda preman yang pekerjaannya
hanya tukang ojek.
Keadaan pun berubah, sebab waktu
selalu berubah. Kala itu, muncul isu tentang gerakan antirokok dan anti
tembakau. Isu yang seperti ini sangat mencemaskan dan membuat kecut serta takut
masyarakat Temanggung. Mereka selama ini bekerja sebagai peta ni temabakau.
Banyak pula yang hanya menjadi buruh tani tembakau. Seperti kedua orangtua
Sumirah yang menjadi buruh ladang tembakau Koh Adi.
Cinta bertepuk sebelah tangan yang
dialami Agung telah merubah kehidupan Agung sendiri. Anggapan orang memang
tidak selalu sesuai dengaan kenyataan. Orang yang dianggap baik dan mulia belum
tentu sebenar-benarnya baik dan mulia. Dia yang dicap sebagai preman, bisa jadi
memiuliki hati yang bersih. Nurani Agung terpanggil untuk membela
masyarakatnya. Demo-demo digelar dan dipimpinnnya hingga mengantarkannya ke
penjara.
Pada saat yang bersamaan, seorang
pemuda baik, tampan, kaya, dan terhormat, datang ke Paponan untuk berjumpa
dengan Sumirah. Yazid namanya. Pemuda sukses yang tinggal di Jakarta ini, atas
nasihat dan saran Rohmah dan suaminya yang membuka warung Mi Ayam Narsis di
daerah Kebayoran Baru dan menjadi karib Sumirah ingin berkenalan langsung
dengan Sumirah. Pandangan pertama pun terjadilah.
Yazid suka kepada Sumirah.
Sumirah pun jatuh hati kepada Yazid.
Mereka menikah. Sumirah yang lugu
dan polos akhirnya harus meninggalkan Paponan menuju tampat baru, tempat yang
belum pernah didatanginya: kota besar Jakarta. Pasangan suami-istri inipun
bagai langit dan bumi. Keluguan dan kepolosan hati Sumirah membuat Sumirah
sering kali terjebak pada keadaan yang sulit. Misalnya, Sumirah akan selalu
jongkok di toilet duduk. Begitulah sumirah yang tenyata sangat ndeso. Tangan Sumirah juga pernah
terkilir ketika pertama kali naik eskalator. Banyak kejadian-kejadian lucu dan
menggelikan yang dilakukan Sumirah. Puncaknyaa, ulah Sumirah telah meledakkan
rasa malu suaminya dihadapan atasannya dan para kolega dari atasannya. Gadis dari masa lalu Yazid pun datang kembali
atas permintaan Yazid. Neneng namanya. Dengan caranya, Neneng membantu Sumirah
untuk mengubah citra dirinya. Akhirnya Sumirah menjadi diva. Tetapi tak lama
kemudian apa yang tak pernah terbayang olehnya menimpa dirinya.
Segala permasalahan bertubi-tubi
didapatkannya termasuk suaminya yang tenyata secara diam-diam telah menjalin
hubungan dengan Neneng. Kemarahan, kecemburuan, serta iri hati, semua bercampur
aduk. Kemarahan tidak harus berarti dilampiaskan dengan cara brutal,
berteriak-teriak, mencaci maki, dan seterusnyaa. Ada cara yang cerdas dan bijak
menyalurkan hati yang dipenuhi kegalauan, kemarahan, dan sakit hati. Sumirah
mengajarkan hal itu. Begitu pula Agung.