Rabu, 21 September 2016

Kisah dalam Sajak

Pabila dengan puisi, senjaku bisa kembali. Maka kala kelam, larik-larikku kan tetap bersuara.
Salam Pujangga!!

Tembikar Pilu
Dalam tembikar, bertanak piluku
bercampur dengan golak emosi yang kian mendidih
dengan langkah gontai, dengan lesu
ku tapaki jalan itu, jalan yang penuh duri
Meski duri itu melukai, kian menanah perih
menyiksaku dengan sakit yang teramat tak tertahankan
aku tetap melangkah, bersama mereka
yang tak berpaling, tak peduli dengan lukaku
Pun dengan sebelah mata kau bisa menatapku
mengapa kedua mata itu malah tak menoleh?
tak cukup letihkah engkau
bermuram durja dengan dunia angkuhmu
ahhhh.... sudahlah
kau tak akan peduli!

Kala Malam
Kala malam menghampiri dalam kerosak
bertemankan jangkrik yang meronta dengan nyaring
bersama cicak-cicak yang melata
di sela-sela dinding kamar yang tiada bergeming
sementara aku masih memejamkan mata
bukan tertidur, sayang
namun aku ingin berdamai dengan kelamnya malam
temaramnya hariku ingin kuhapuskan
layaknya cahaya bintang di luar sana
mengusir gelapnya malam
dan senantiasa, aku jua ingin becahaya

Tentang Senja
 Semburat senja menjelma
pada langit jingga yang membias sendu
apa gerangan jiwa yang tiada bergeming
rasanya.. senja ini asing bagiku
menerawang kisahku tak sempurna
kisahku yang menyepi, terpaku dan bisu
sungguh wahai senja.. hadirmu taburkan gundah
engkau pantulkan langitmu yg jingga
sedang jiwaku membiru oleh haru rindu
untuknya..!

Asa dan Rasa
 Jiwa mengaram..
bersemayam dalam tubuhku kian lama
merajut sesal yang bersimphoni haru
jika saja asaku terajut indah
akankah..
akankah rasa yang terikat rindu menyatu
jua mendayung lembut bersama riak rindu yang mencair
biarlah asa itu nyata dengan jalannya sendiri
dan biarkan rasaku tetap di sini
berdiam dengan apik dalam jiwaku
jiwa dengan ribuan harap




Tidak ada komentar:

Posting Komentar