Pabila dengan puisi, senjaku bisa kembali. Maka kala kelam, larik-larikku kan tetap bersuara.
Salam Pujangga!!
Salam Pujangga!!
Tembikar
Pilu
Dalam tembikar, bertanak piluku
bercampur dengan golak emosi yang kian mendidih
dengan langkah gontai, dengan lesu
ku tapaki jalan itu, jalan yang penuh duri
Meski duri itu melukai, kian menanah perih
menyiksaku dengan sakit yang teramat tak tertahankan
aku tetap melangkah, bersama mereka
yang tak berpaling, tak peduli dengan lukaku
Pun dengan sebelah mata kau bisa menatapku
mengapa kedua mata itu malah tak menoleh?
tak cukup letihkah engkau
bermuram durja dengan dunia angkuhmu
ahhhh.... sudahlah
kau tak akan peduli!
Dalam tembikar, bertanak piluku
bercampur dengan golak emosi yang kian mendidih
dengan langkah gontai, dengan lesu
ku tapaki jalan itu, jalan yang penuh duri
Meski duri itu melukai, kian menanah perih
menyiksaku dengan sakit yang teramat tak tertahankan
aku tetap melangkah, bersama mereka
yang tak berpaling, tak peduli dengan lukaku
Pun dengan sebelah mata kau bisa menatapku
mengapa kedua mata itu malah tak menoleh?
tak cukup letihkah engkau
bermuram durja dengan dunia angkuhmu
ahhhh.... sudahlah
kau tak akan peduli!
Kala
Malam
Kala malam menghampiri dalam kerosak
bertemankan jangkrik yang meronta dengan nyaring
bersama cicak-cicak yang melata
di sela-sela dinding kamar yang tiada bergeming
sementara aku masih memejamkan mata
bukan tertidur, sayang
namun aku ingin berdamai dengan kelamnya malam
temaramnya hariku ingin kuhapuskan
layaknya cahaya bintang di luar sana
mengusir gelapnya malam
dan senantiasa, aku jua ingin becahaya
Kala malam menghampiri dalam kerosak
bertemankan jangkrik yang meronta dengan nyaring
bersama cicak-cicak yang melata
di sela-sela dinding kamar yang tiada bergeming
sementara aku masih memejamkan mata
bukan tertidur, sayang
namun aku ingin berdamai dengan kelamnya malam
temaramnya hariku ingin kuhapuskan
layaknya cahaya bintang di luar sana
mengusir gelapnya malam
dan senantiasa, aku jua ingin becahaya
Tentang
Senja
Semburat senja menjelma
pada langit jingga yang
membias sendu
apa gerangan jiwa yang
tiada bergeming
rasanya.. senja ini
asing bagiku
menerawang kisahku tak
sempurna
kisahku yang menyepi,
terpaku dan bisu
sungguh wahai senja..
hadirmu taburkan gundah
engkau pantulkan
langitmu yg jingga
sedang jiwaku membiru
oleh haru rindu
untuknya..!
Asa
dan Rasa
Jiwa mengaram..
bersemayam dalam
tubuhku kian lama
merajut sesal yang bersimphoni
haru
jika saja asaku terajut
indah
akankah..
akankah rasa yang
terikat rindu menyatu
jua mendayung lembut
bersama riak rindu yang mencair
biarlah asa itu nyata
dengan jalannya sendiri
dan biarkan rasaku
tetap di sini
berdiam dengan apik
dalam jiwaku
jiwa dengan ribuan
harap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar