Selasa, 20 September 2016

KAJIAN SOSIOLOGI PENGARANG DALAM NOVEL WANITA BAIK UNTUK LELAKI BAIK KARYA TAUFIQURRAHMAN AL-AZIZY

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Karya sastra merupakan luapan spontan dari perasaan yang kuat, cermin emosi yang dikumpulkan oleh pengarang dalam keheningan mendalam, yang kemudian diolah dalam penciptaan melalui pemikiran. Dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai macam permasalahan sosial yang biasanya memberikan pengaruh dan tercermin didalam karya sastra. Permasalahan sosial dipengaruhi oleh adanya ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan. Sebagai anggota masyarakat, pengarang dengan sendirinya lebih berhasil untuk melukiskan msyarakat ditempat ia tinggal, lingkungan hidup yang benar-benar dialaminya secara nyata.
            Damono (1979:7) mengungkapkan bahwa seperti halnya sosiologi, sasta berurusan dengan manusia dalam masyarakat. Usaha manusia untuk menyelesaikan diri dan usahannya untuk merubah masyarakat itu. Hubungan manusia dengan keluargannya, lingkungannya, politik, negara, dan sebagainya. Dalam penelitian murni, jelas tampak bahwa novel berurusan dengan tekstur sosial, ekonomi dan politik yang juga menjadi urusan sosiologi. Novel menyusup, menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukan cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya.
            Sehubungan dengan pendapat di atas, Adisaputera, dkk (2015:49)  menyatakan bahwa apabila ditinjau dari segi sejarahnya, konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra dilukis oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan a silent being, makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam kehidupan empirik masyarakatnya. Dengan demikian, sastra juga dibentuk oleh masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam masyarakatnya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konteks sosial pengarang yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja
karya Achmad Munif.
2.      Bagaimanakah gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja
karya Achmad Munif.
3.      Bagaimanakah fungsi sosial dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.
C.     Tujuan
Tujuan yang akan dicapai dalam analisis ini adalah:
1.      Mendeskripsikan bagaimana konteks sosial pengarang yang tercermin dalam Novel
Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy.
2.      Mendeskripsikan bagaimanakah gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel
Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy.
3.      Mendeskripsikan bagaimanakah fungsi sosial dalam Novel Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy.
D.    Manfaat
1.      Analisis novel ini diharapkan dapat memberikan masukan pada perkembangan sastra khususnya pada analisis dengan pendekatan sosiologi sastra.
2.      Analisis novel ini juga dapat dijadikan bahan bacaan atau pegangan dalam melakukan penelitian berikutnya khususnya penelitian dengan pendekatan sosiologi sastra.



BAB II
PEMBAHASAN
            Wilayah sosiologi sastra cukup luas. Wellek dan Austin Warren (Adisaputera, dkk 2015:49) membagi telaah sosiologis menjadi tiga klasifikasi. Pertama, sosiologi pengarang, yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, ideologi politik, dan lain-lain yang menyangkut diri pengarang. Kedua, sosiologi karya sastra, yakni mempermasalahkan tentang suatu karya sastra. Yang menjadi pokok telaah adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya. Ketiga, sosiologi sastra yang mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.
            Semi dalam Renita, dkk (2013) berpendapat bahwa sastra merupakan media komunikasi yang mampu merekam gejolak hidup masyarakat, dan sastra mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat. Disisi lain, fenomena hidup dalam masyarakat merupakan sumber ide bagi pengarang dalam melahirkan karya sastra. Apa yang dirasakan dan apa yang diungkapkannya tidak hanya berasal dari diri pribadi melainkan perpaduan ide kreatif, imajinasi dan estetiknya dengan persoalan hidup yang ada dalam masyarakat. Apa yang terjadi di sekeliling pengarang akan menjadi bahan yang menarik untuk dimanifestasikan ke bentuk tulisan.
            Sosiologi sastra sendiri  disiplin ilmu dari pendekatan mimesis yang merupakan bagian dari pendekatan ektrinsik. Mimesis sendiri bertolak dari pemikiran yang sastra itu adalah hasil seni yang mencerminkan kehidupan nyata, merupakan tiruan atau pemaduan antara kenyataan dengan imajinasi pengarang. Disini saya mengkaji novel ‘Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy’ dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra.
A.    Sosiologi Pengarang
            Taufiqurrahman al-Azizy, lahir pada 9 Desember 1975. Asli orang Indonesia, tepatnya Jawa Tengah. Pernah nyantri di  Pesantren Ilmu al-Qur’an “Hidayatul Qur’an” yang diasuh oleh KH. Drs. Ahsin Wijaya al-Hafizh, M.A. Pernah pula kuliah di Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jawa Tengah. Namanya melejit setelah meluncurkan trilogi novel spiritual Makrifat Cinta, yang terdiri dari Syahadat Cinta(DIVA Press, 2006), Musafir Cinta (DIVA Press, 2007), dan Makrifat Cinta (DIVA Press, 2007). Novelnya setelah trilogi novel spiritual “Makrifat Cinta” yang juga telah beredar adalah Kitab Cinta Yusuf Zulaikha (DIVA Press, 2007) Munajat Cinta (DIVA Press, 2009), Jangan Biarkan Surau Ini Roboh (DIVA Press, 2009) Sahara Nainawa (DIVA Press, 2009), Kidung Shalawat Zaki dan Zulfa (DIVA Press, 2010), Alif (DIVA Press, 2011), Kecupan yang Sangat Dirindunya (DIVA Press, 2012), Rintihan dari Lembah Lebanon (DIVA Press, 2012), dan Lelaki yang Menggenggam Ayat-Ayat Tuhan (DIVA Press, 2012).
            Konteks sosial sastrawan ada hubungannya dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan karyanya. Dilihat dari kelahiran penulis yaitu dari daerah Jawa Tengah, penulis memberi penamaan tokoh yang berkaitan dengan sukunya yaitu: Sumirah, Neneng, Lawuk, Bu Suminah, Mbak Rohmah dan Mbah Kamiyem. Selain penamaan tokoh tersebut, latar tempat dalam novel tersebut pun berkaitan dengan latar belakang tempat kelahiran pengarang yaitu Temanggung, Wonosobo. Seperti yang diungkapkan oleh Sigalingging (2015:103) bahwa sebagai anggota masyarakat, penulis tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan sosial budaya, politik, keamanan, ekonomi, dan alam yang melingkupinya.
            Pada bagian pengantar novelnya, Al-Azizy menyatakan dengan gamblang “kisah yang saya tulis ini memang fiktif belaka, tetapi isi dan tema yang saya sajikan adalah nyata.” Penulis menyatakan bahwa novelnya merupakan transformasi dari pengalaman kehidupannya. Selain itu, penulis juga menyatakan bahwa yang menginspirasinya dalam penulisan novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik ini pun teringat dari isi firman.  
“Ibunya sangat kolot soal menantu ini, penginnya orang Jawa”
Kutipan tersebut sangatlah berkaitan dengan kehidupan pengarang yang berasal dari Jawa dan juga yang menyelesaikan studinya di Jawa. Pengarang tidak lepas dari pencitraan masyarakat Jawa di dalam penceritaan novelnya. Oleh karena pengarang juga merupakan bagian dari masyarakat dan hidup di tengah pola hidup dan kebudayaan masyarakat, tentu karya yang diciptakannya tak lepas dari sisi-sisi kemasyarakatan dalam kehidupannya yaitu lingkungan Jawa.
B.     Sosiologi  Karya Sastra
Pendekatan ini meninjau sampai sejauh mana sastra dapat mencerminkan keadaan social   masyarakat. Keadaan sosial tersebut dapat mencerminkan berbagai hal tentang masyarakat baik dari segi kehidupan dan mata pencaharian masyarakat, kisah cinta dan kesabaran dalam menjalani hidup, nilai moral, agama dan lain sebagainya.
1.      Penggambaran Pola Hidup Masyarakat
            Dalam novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik, digambarkan kehidupan masyarakat Temanggung yang  bekerja sebagai petani tembakau.
“telah puluhan bahkan ratusan tahun para orangtua sudah mengajarkan bakat bertani tembakau kepada anak-anak mereka.tanpa sekolah, tanpa kuliah, toh banyak warga yang  bisa membeli mobil-mobil mewah. (14)”
Hal tersebut memperjelas penggambaran kehidupan masyarakat yang di cantumkan ke dalam cerita novel. Bahwa masyarakat sudah memiliki persepsi kehidupan yang sama, yaitu mengajarkan kehidupan bertani yang merupakan sumber uang dan kehidupan masyarakat. Dalam novel tersebut pun digambarkan bahwa sekolah bukan sebagai hal yang penting. Mereka beranggapan bahwa sekolah adalah cara yang licik untuk menghabiskan uang orangtua.
            Selain itu,relasi yang erat masyarakaat paponan dengan tokoh yang bernama Koh Adi penganut budaya Cina yang tinggal di Indonesia. Hal ini memberi penggambaran dalam novel tentang hubungan masyarakat yang tidak hanya berhubungan dengan masyarakat sebudayanya, namun akrab juga dengan kebudayaan lain.
2.      Nilai Moral dan Kesantunan
Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Hal tersebut terlihat dalam kutipan:
“Kaum laki-laki yang menyelempangkan kain sarung dan perempuan-perempuan desa yang mengenakan baju tertutup rapat dengan mengenakan jaket, bahkan bila mereka berangkat ke ladang tembakau.(11)”
Selain itu, dalam novel Al-Azizy ini, kita dapat menemukan permasalahan nilai moral yang digambarkan oleh pemuda yang anarkis yang melakukan aksi demo untuk menuntut hak mereka yaitu Agung dan Lawuk beserta pemuda-pemuda kampung melakukan demo untuk menolak gerakan antirokok dan antitembakau yang digalakkan Pemerintah. Hal tersebut dikarenakan mereka menghawatirkan nasib kehidupan mereka yang bergantung pada pertanian tembakau di kampung(60).
            Dalam novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik inipun menggambarkan masalah sosial pemuda yang anarkis yang melakukan aksi demo untuk menuntut hak mereka. Dalam novel tersebut digambarkan tokoh Agung dan Lawuk beserta pemuda-pemuda kampung melakukan demo untuk menolak gerakan antirokok dan antitembakau yang digalakkan Pemerintah. Hal tersebut dikarenakan mereka menghawatirkan nasib kehidupan mereka yang bergantung pada pertanian tembakau di kampung.
“ Zina adalah perbuatan buruk yang sanagat dicela agama. Disebut sebagai fakhisyah dan jalan yang buruk untuk melampiaskan syahwat dan mendapatkan keturunan.(329)”
Dalam novel Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman ini memang berisi kisah percintaan yang berakhir menyedihkan oleh sebab perselingkuhan Yazid yang begitu sempurna di mata Sumirah gadis desa yang sangat baik. Selain mengemas cerita dengan kisah-kisah yang mengena di hati, pengarang juga banyak menuliskan ajaran-ajaran moral di sela-sela cerita, termasuk pesan moral dalam kutipan di atas.
3.      Nilai-Nilai Sosial dalam Kekeluargaan
Dalam kekeluargaan tentu memiliki nilai-nilai dalm kehidupan bermasyarakat. Dan nilai-nilai itu pun terdapat dalam novel karya Tauifqurrahman.
“Kita ini orang kecil nduk, tetapi kita tak boleh sembarangan dalam menjalin hubungan(27)”
pada kutipan ini, terlihat jelas pada lingkungan keluarga di masyarakat bahwa orangtua selalu mengharapkan yang terbaik untuk anaknya salah satunya yaitu untuk pendamping hidup yang diharapkan.
“Dan, dia ingat pesan neneknya. Dimanapun kau tinggal, jangan pernah melupakan adat dan sopan santunmu sebagai putri Jawa. Jangan pernah tinggalkan sopan santun itu, sebab sia akan menjadi penolongmu dimanapun kau berada.(188)”
Dalam kehidupan kekeluargaan yang tak lepas dari nasehat-nasehat, dalam tokoh Sumirah ini pengarang menanamkannya. Dimana sang tokoh memegang teguh segala ajaran yang didapatkannya  dalam keluarganya.  Seperti yang dinyatakan Renita, dkk (2013) dalam jurnalnya bahwa keluarga orang Jawa adalah merupakan keluarga dimana dikembangkan rasa kasihan, merasakan penderitaan orang lain, rasa tanggung jawab, dan perhatian terhadap sesama. Di mata orang Jawa, menjadi seorang masyarakat Jawa berarti menjadi manusia beradab, yang mengetahui bagaimana seharusnya bertingkah laku atau mengetahui tatanan Jawa.
“apa pun, yang penting kita ada penghasilan. Aku khawatir, keadaan tidak segera membaik, bu. Besok aku akan pergi ke kota. Siapa tahu aku bisa mengerjakan sesuatu yang menghasilkan uang.(68)”
Dalam kutipan di atas menunjukkan tanggung jawab seorang suami yang memang harus memenuhi nafkah istri dan anak-anaknya. Pengarang menggambarkan seorang suami sekaligus ayah yang berjuang demi menghidupkan keluarganya di saat sumber mata pencahariannya tak lagi ada. Selain ayah yang bertanggungjawab, pengarang juga menggambarkan tokoh Sumirah sebagai anak yang berbakti pada orang tuanya. Hal tersebut terlihat pada kutipan dibawah ini:
“Sumirah menggeleng. Pada detik selanjutnya, Sumirah memberanikan diri. Dia berkata kepada Bapaknya, Pak Bolehkah saya bekerja?(69)”
Pada novel tersebut menunjukkan seorang bunga desa yang bernama Sumirah sebagai bunga desa yang hidup dalam keluarga yang sederhana. Pada kutipan di atas menunjukkan dia sebagai anak yang berbakti sebab tak ingin melihat orangtuanya yang begitu pusing memikirkan pekerjaan dan uang yang disebabkan hilangnya sumber mata pencaharian kedua orangtuanya sebagai petani tambakau.
4.      Nilai Keagamaan
Kehidupan beragama juga terlihat pada cuplikan cerita novel, yang menggambarkan aktivitas tokoh yang sedang menunaikan ibadah sholat.
“didorong rasa penasaran yang teramat sangat, usai menjalankan shalat Zhuhur, Lawuk mendekati Agung yang tampak duduk merenung di depan masjid sembari memandang kejauhan.(61)”
Dalam novel Wanita Baik untuk Lekaki Baik tersebut pun menggambarkan tentang permasalahan sosial tentang tokkoh Agung yang bertato dan terkenal preman. Hal tersebut membuat persepsi warga bahwa penampilannya seburuk penampilannya. Namun, malah sebaliknya seorang berpenampilan layaknya preman tidak menutup kemungkinan bahwa akhlak dan perbuatannya malah lebih baik dari yang berpenampilan kalam. Agung menuntut ilmu agama. Dalam kehidupan kita juga masalah ini kerap terjadi. Kita memandang perilaku seseorang hanya dari tampilan luarnya saja. Dan setelah kita mengenal lebih jauh, ternyata kenyataannya berbeda.
5.      Penggambaran Sikap Wanita Baik dan Lelaki Baik dalam Masyarakat
Apabila pada kehidupan masyarakat jawa kita beranggapan bahwa seorang waanita Jawa hendaknya hidup sebagai wanita yang murah senyum dan ramah pada siapa saja, dalam hal ini, pengarang menggambarkan masalah sosial dalam harga diri wanita yang merupakan makhluk terhormat, bukan makhluk penggoda. Pengarang memberi penegasaan pada keindahan wanita yang hendaknya dijaga agar tetap indah dan berharga.
“Wanita harus sombong karena kesombongan itulah yang akan menjadikan dirinya terhormat di hadapan pria. Dalam kesombongan itu, harga dirinya ditambatkan(91).
Pengarang berpendapat lain, bahwa kehormatan dan keindahan wanita tidak selayaknya diumbar pada siapa saja. Melainkan lewat keosmbongan itulah wanita terjaga.
“Sumirah yang polos dan lugu tidak memiliki jiwanya sendiri. Sebab, kepada ayah dan ibunya itulah hati dan jiwanya terikat(26)”
Kutipan diatas menunjukkan sikap baik tokoh Sumirah yang sangat mematuhi orangtuanya. Dimana segala hal yang mencakup dirinya tidak dengan semena-mena mengambil keputusan sendiri secara egois. Namun semua hal akan dipertanyakan kepada kedua orangtuanya sebab keyakinannya, mereka akan memberi jawaban yang trerbaik untuk hidupnya.
“Mas kok hanya bilang-bilang terus sih? Aku harus bagaimana? Maafkan isterimu ini Mas. Aku ingin taat dan berbakti kepadamu”
Dalam kutipan itu juga pengarang menggambarkan wanita yang taat pada suami. Sama halnya dengan pernyataan Ritzer dan Goodman (2004:415) bahwa perempuan digambarkan memiliki posisi inferior dan tunduk pada laki-laki.
“Dia seperti gados-gadis laain pada umumnya, melihat seseorang dari apa yang dimilikinya, bukan melihat sebagai seseorang itu sendiri. Belum juga jadian, dia telah meminta ini dan itu.(179)”
Dalam novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik tersebut, menyiratkan bahwa seorang wanita yang baik tidaklah memandang siapapun dari segi keberadaan materi. Namun memandang dari segi kepribadian sebagaimana seseorang itu bersikap. Dan sikap yang baik itu tergambar pada sosok Sumirah yang menerima siapapun apa adanya dan sama sekali tak menoleh pada harta dan kekayaan.
Selain penggambaran Wanit Baik, dalam novel tersebut pun terdapat penggamabaran bagaimana seorang lelaki dikatakan baik.
“kalu dia benar-benar pemuda baik dan tak jahat, tentu dia akan ikhlas mengantar jemput kau selama ini.(29)”
Kutipan diatas membuktikan bahwa pengarang menggambarkan sosok lelaki yang baik yaitu lelaki yang ikhlas, yang tidak menuntut balas, dan tidak memaksa.
 “tato yang tadinya bagus, kini terhapus, sedang kulit lengan Agung tempat bekas tato itu berada tampak menjadi buruk sekali.(61)”
Tokoh Agung dalam kutipan diatas tampak menghapus tatonya. Sebab dalam pandangan masyarakat yang memandangnya buruk oleh otot dan tatonya itu. Sosok lelaki baik yang digambarkan sebagai lelaki yang tak bertato diwujudkannya.
“Kalau sekarang aku rajin sembahyang, karena aku sadar bahwa tidak ada yang bisa membantu dan menolong kita kecuali Dzat yang lebih kuat yaitu Allah kita kepadanya kita mengadu, memohon pertolongan dan kekuatan. Karna itulah aku shalat.(64)”
Dapat dikatakan, melalui kutipan diatas bahwa pengarang menggambarkan tokoh lelaki baik yaitu lelaki yang kelak akan menjadi imam yang baik bagi keluarganya yaitu lelaki yang taat menunaikan ibadah.
“Yazid menahan geram. Tetapi, dia tetap bersabar. Yang penting, isterinya mau dipertemukan dengan atasan dan isterinya.(226)”
Dalam kutipan diatas, menyiratkan bahwa pengarang juga menggambarkan sosok lelaki baik yang penyabar dan tidak emosional. Sifat yang dituangkannya terhadap tokoh Yazid tersebut memberi penjelasan secara tidak langsung bahwa lelaki yang baik adalah lelaki yang yang tidak d4engan semena-mena memaksakan kehendaknya terhadap istrinya dengan meninggikan statusnya sebagai suami. Seperti yang dikatakan Wildan (2009:32) dalam skripsinya bahwa batas kepemimpinan pria tidak menyinggung perasaan wanita atas kehormatannya. Dalam kebiasaan, yang memimpin adalah yang mengatur dan berlaku adil, bukan menindas dan menguasai.
C.     Sosiologi Sastra
Sosiologi Sastra mengharapkan dampak ataupun perubahan social yang ditimbulkan oleh pembaca setelah membaca novelnya. Novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik ini sangat banyak memberi nilai moral terhadap pembaca dengan penyajian bahasa yang tidak monoton. Setiap cerita yang dipaparkan selalu dibubuhkan cerita lucu yang tentu saja tidak membuat pembaca bosan. Dan apabila dilihat dari isi cerita, pengarang sangat peduli terhadap situasi masyarakat yang kerap kali muncul berbagai masalah dalam setiap lika-liku kehidupan. Yang paling utama pengarang mengajarkan tentang arti cinta dan bagaimana mengelola hati dan mengahadapi setiap persoalan hidup. Kemarahan, kecemburuan, iri hati, dengan cara khusus dituturkannya dalam cerita. Kemarahan tidak harus berarti dilampiaskan, menjadi anarkis, mencaci maki, dan lain sebagainya.




BAB III
KESIMPULAN
            Sosiologi Sastra dibentuk oleh masyarakatnya dan memiliki keterkaitan timbal-balik dengan masyarakat, dan sosiologi sastra berupaya meneliti hubungan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai aspek. Hal tersebut dikarenakan sebuah karya sastra merupakan cerminan dari alam dan kehidupan manusia yang dikemas dengan pemilihan bahasa dan gaya bercerita sebagaimana agar cerita tersebut terasa lebih nyata dan memberi kesan bagi pembacanya.
            Dan saya pun menyimpulkan bahwa novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy merupakan sebuah cerminan dari kehidupan pengarang. Sebab begitu banyak kesamaan yang dapat ditemukan antara latar belakang pengarang serta gaya penceritaan pengarang dalam novelnya. Pengarang yang besar pada lingkungan Jawa, demikian pula isi cerita novel yang banyak menyinggung tentang kehidupan dan pola hidup masyarakat Jawa. Selain itu, latar dalam cerita juga berkisar pada wilayah Jawa, serta penamaan-penamaan tokoh yang banyak terpengaruh pada penamaan masyarakat Jawa.











DAFTAR PUSTAKA
Adisaputera, dkk. 2015. Modul Pengantar Pengkajian Prosa Fiksi. Medan: Universitas Negeri     Medan.
Al-Azizy, Taufiqurrahman. Wanita Baik untuk Lelaki Baik. Jogjakarta: Najah
Damono, Sapardi Djoko.1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta:
            Depdikbud.
Sigalingging. 2015. Pengantar Kritik Sastra. Jakarta: Halaman Moeka.
Wildan, Syaiful.  2009. Kedudukan dan Peran Perempuan sebagai Istri dalam Masyarakat           Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Skripsi Ilmu Hukum Islam. Hal 1-63.












LAMPIRAN
SINOPSIS NOVEL
            Sumirah adalah bunga desa. Rumit dan berliku jalan kehidupan yang dilalui Sumirah. Bunga desa yang lahir dan tumbuh di Paponan, sebuah tempat di Temanggung. Dia adalah cermin dari gadis yang polos dan lugu. Jiwa pedesaan telah menanamkan berbagai sifat yang baik dan mulia kepada dirinya. Dia tidak pernah pacaran dan mengenal jatuh cinta. Dia selalu taat dan patuh pada orangtuanya. Gadis sebaik dia, mnurut anggapan warga, mustahil harus menerima cinta seorang pemuda dari ndesa tetangga, Agung namanya. Agung dianggap terlalu buruk. Dia bertato di lengan dan hanya tukang ojek. Bunga desa tak pantas bersanding dengan pemuda preman yang pekerjaannya hanya tukang ojek.
            Keadaan pun berubah, sebab waktu selalu berubah. Kala itu, muncul isu tentang gerakan antirokok dan anti tembakau. Isu yang seperti ini sangat mencemaskan dan membuat kecut serta takut masyarakat Temanggung. Mereka selama ini bekerja sebagai peta ni temabakau. Banyak pula yang hanya menjadi buruh tani tembakau. Seperti kedua orangtua Sumirah yang menjadi buruh ladang tembakau Koh Adi.
            Cinta bertepuk sebelah tangan yang dialami Agung telah merubah kehidupan Agung sendiri. Anggapan orang memang tidak selalu sesuai dengaan kenyataan. Orang yang dianggap baik dan mulia belum tentu sebenar-benarnya baik dan mulia. Dia yang dicap sebagai preman, bisa jadi memiuliki hati yang bersih. Nurani Agung terpanggil untuk membela masyarakatnya. Demo-demo digelar dan dipimpinnnya hingga mengantarkannya ke penjara.
            Pada saat yang bersamaan, seorang pemuda baik, tampan, kaya, dan terhormat, datang ke Paponan untuk berjumpa dengan Sumirah. Yazid namanya. Pemuda sukses yang tinggal di Jakarta ini, atas nasihat dan saran Rohmah dan suaminya yang membuka warung Mi Ayam Narsis di daerah Kebayoran Baru dan menjadi karib Sumirah ingin berkenalan langsung dengan Sumirah. Pandangan pertama pun terjadilah.
            Yazid suka kepada Sumirah.
            Sumirah pun jatuh  hati kepada Yazid.
            Mereka menikah. Sumirah yang lugu dan polos akhirnya harus meninggalkan Paponan menuju tampat baru, tempat yang belum pernah didatanginya: kota besar Jakarta. Pasangan suami-istri inipun bagai langit dan bumi. Keluguan dan kepolosan hati Sumirah membuat Sumirah sering kali terjebak pada keadaan yang sulit. Misalnya, Sumirah akan selalu jongkok di toilet duduk. Begitulah sumirah yang tenyata sangat ndeso. Tangan Sumirah juga pernah terkilir ketika pertama kali naik eskalator. Banyak kejadian-kejadian lucu dan menggelikan yang dilakukan Sumirah. Puncaknyaa, ulah Sumirah telah meledakkan rasa malu suaminya dihadapan atasannya dan para kolega dari atasannya.  Gadis dari masa lalu Yazid pun datang kembali atas permintaan Yazid. Neneng namanya. Dengan caranya, Neneng membantu Sumirah untuk mengubah citra dirinya. Akhirnya Sumirah menjadi diva. Tetapi tak lama kemudian apa yang tak pernah terbayang olehnya menimpa dirinya.
            Segala permasalahan bertubi-tubi didapatkannya termasuk suaminya yang tenyata secara diam-diam telah menjalin hubungan dengan Neneng. Kemarahan, kecemburuan, serta iri hati, semua bercampur aduk. Kemarahan tidak harus berarti dilampiaskan dengan cara brutal, berteriak-teriak, mencaci maki, dan seterusnyaa. Ada cara yang cerdas dan bijak menyalurkan hati yang dipenuhi kegalauan, kemarahan, dan sakit hati. Sumirah mengajarkan hal itu. Begitu pula Agung.

                       








Tidak ada komentar:

Posting Komentar