Jurnalistik atau journalisme berasal dari kata journal, yang artinya catatan harian, catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga diartikan sebagai surat kabar. Journal berasal dari bahasa latin “diurnalis” yang artinya harian atau tiap hari. Jadi, jurnalistik dapat diartikan menghimpun catatan (surat kabar) setiap hari.
Jurnalistik pada jaman dahulu hanya dipahami sebagai publikasi lewat media cetak. Namun sekarang telah muncul media elektronik berupa radio dan televisi bahkan diperoleh secara tersambung yang dikenal dengan media online. Jika pada zaman dahulu kita harus mencari-cari koran jika ingin mendapatkan berita, namun kini kita bisa membacanya lewat internet (online). Dengan demikian, kapanpun dan dimanapun kita dapat memperoleh informasi yang kita butuhkan. Hal ini menunjukkan, seiring berkembangnya teknologi turut memberi pengaruh terhadap berkembangnya dunia jurnalistik.
Globalisasi dan Politik Dunia Maya
Pada era globalisasi saat ini, media massa sangat mudah diakses dan telah mempengaruhi hubungan sosial di masyarakat. Melalui media yang sangat terbuka dan mudah terjangkau, masyarakat menerima berbagai informasi tentang peradaban baru dari seluruh penjuru dunia. Misalnya, gaya berpakaian dan bergaul mereka yang terkesan modern. Sementara Indonesia memiliki aturan dan etika tersendiri tentang gaya berpakaian dan pergaulan. Dalam hal ini, media massa-lah yang menyebarluaskan dengan cepat segala informasi tersebut sehingga banyak masyarakat yang menangkap informasi tersebut tanpa disaring sehingga mempengaruhi gaya hidupnya.
Selain berpengaruh terhadap keadaan sosial, namun keadaan politik juga seakan dipengaruhi oleh media jurnalistik pada saat ini. Media sosial telah menjadi bagian dalam setiap kehidupan masyarakat termasuk ranah politik yang bisa dimanfaatkan untuk sarana komunikasi, mempromosikan diri, sosialisasi, termasuk promosi partai politik untuk membangun citra partai. Pemanfaatan media sosial untuk berpolitik biasanya akan terlihat ketika akan diselenggarakannya pemilu untuk kampanye politik.
Di satu sisi, dunia maya tersebut memberi wadah bagi para politikus untuk memperkenalkan diri dan misi-misi mereka kepada masyarakat luas. Dengan itu, masyarakat dapat mengenal calon pemimpinnya. Namun yang menjadi fenomena saat ini adalah beberapa media telah menjadi milik para politikus yang menjadikan persaingan di dunia politik tidak lagi seimbang. Keberuntungan seakan berpihak pada mereka yang memiliki media karena memiliki lebih banyak ruang dan waktu mempertontonkan segala hal yang mereka lakukan sebagai pencitraan kepada rakyatnya. Dengan demikian, masyarakat seakan terhipnotis oleh media yang menampilkan calon pemimpin tersebut. Lantas, calon pemimpin yang tidak memiliki media hanya diperkenalkan sepintas saja sementara pemimpin yang memiliki media seolah menjadi calon pemimpin yang lebih banyak berbuat bagi rakyatnya.
Sebagai sarana pemberi hiburan dan informasi, berbagai media hendaknya bersifat objektif terhadap pemberitaan apapun. Sehingga, masyarakat sebagai pengguna media tidak serta merta menerima informasi yang hanya menguntungkan pihak tertentu. Si satu sisi, media harus menjadi alat yang membantu masyarakat untuk berpikir kritis dalam memilih para pemimpinnya. Semakin objektif sikap media dalam pemberitaan politik tentu semakin membantu masyarakat untuk memilih yang sesuai dengan suara hatinya.
Media Baru dan Kebudayaan
Media baru adalah media yang mempermudah proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia dari waktu ke waktu yang melibatkan teknologi terbaru diantaranya yaitu handphone, komputer, internet, dan social network. Media-media tersebut membawa suatu pola pikir dan sikap terhadap setiap individu ke dalam pola hidup yang serba instan namun efektif. Kemunculan media baru memberi berbagai kemudahan termasuk dalam pengolahan informasi, merangsang kreatifitas, dan berkomunikasi dan berbagi informasi dengan siapa saja dengan cepat. Namun dari beberapa dampak baik tersebut, lebih banyak dampak negatif yang telah merusak citra anak bangsa.
Kebutuhan manusia akan teknologi yang semakin canggih seperti sudah tidak bisa dihindari lagi sehingga media baru telah menjadi dunia baru dalam kehidupan masyarakat. Interaksi sosial manusia juga melemah karena munculnya media baru yang semakin lama menjadikan masyarakat yang acuh dalam bersosialisasi.
Teknologi informasi yang tumbuh berkembang saat ini telah menciptakan sebuah budaya baru dalam lingkup masyarakat yang lemah pada interaksi langsung (nyata) namun sangat aktif pada interaksi maya. Nilai-nilai dan norma dalam masyarakat saat ini seakan sangat memudar, seperti para remaja yang saat ini kerap menghabiskan waktu dengan gadget yang mengakibatkan hilangnya sikap bersosialisasi dan menjadi individualis.
Media baru dapat membawa kembali nilai tradisional yang telah hilang, namun juga dapat merendahkan warisan budaya yang telah ada. Hal ini terjadi ketika segelintir orang terpengaruh pada budaya asing. Mulai dari gaya berpakaian, gaya berbicara yang kebarat-baratan, yang menjadikan budaya Indonesia seakan tidak menarik untuk dilestarikan. Selain itu, sikap konsumtif juga menjadi salah satu sikap yang diakibatkan oleh munculnya media baru. Hal ini dikarenakan banyaknya penjualan online yang menawarkan barang-barang menarik baik nasional maupun internasional yang berhasil memikat masyarakat.
Untuk mencegah terbentuknya masyarakat yang individualis, konsumtif, dan kebarat-baratan, masyarakat hendaknya mampu menjadi individu yang selektif terhadap perkembangan zaman, kritis terhadap berbagai informasi yang diterima, dan cinta tanah air. Dengan demikian akan terbentuk masyarakat yang tangguh dan siap untuk menghadapi segala tantangan globalisasi yang menuntut masyarakat untuk lebih cerdas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar