Blog ini berisi tentang ulasan, opini, sastra, curhatan, dan apapun yang bisa saya bagi dengan teman-teman. Semoga suka, semoga bermanfaat, semoga memotivasi.
Rabu, 23 November 2016
Media Massa Berbasis Keindonesiaan
Label: sastra, travel, opini, etc
Membangun Media Massa Indonesia
Kamis, 03 November 2016
Naskah Drama Natal
Drama
Singkat
“Mengasihi
Tuhan dan Tidak Menjadi Hamba Uang”
(terinspirasi
dari kitab 1 Timotius 6:9-11)
By: Naomi Tampubolon
Prolog:
Sejak awal mula penciptaan dunia, Allah menciptakan segala sesuatunya dalam keanekaragaman dan perbedaan. Ada terang ada gelap, ada bulan dan bintang, aneka hewan didarat, di air dan di udara, juga tumbuhan di air dan di darat. Demikian juga dengan manusia, ada pria dan wanita, berbeda sifat dan anggota tubuhnya, dan perbedaan lainnya. Keanekaragaman itu adalah bentuk kemuliaan, keindahan dan kebesaran Tuhan. Namun kini… perbedaan bukan dipandang sebagai keindahan lagi. Manusia memberontak pada kebesaran Tuhan. Manusia menjadi sangat serakah satu dengan yang lain.
Sejak awal mula penciptaan dunia, Allah menciptakan segala sesuatunya dalam keanekaragaman dan perbedaan. Ada terang ada gelap, ada bulan dan bintang, aneka hewan didarat, di air dan di udara, juga tumbuhan di air dan di darat. Demikian juga dengan manusia, ada pria dan wanita, berbeda sifat dan anggota tubuhnya, dan perbedaan lainnya. Keanekaragaman itu adalah bentuk kemuliaan, keindahan dan kebesaran Tuhan. Namun kini… perbedaan bukan dipandang sebagai keindahan lagi. Manusia memberontak pada kebesaran Tuhan. Manusia menjadi sangat serakah satu dengan yang lain.
Jhon:
HAHAHAHA..! Hancurlah kalian. Dengan mudah persatuan kalian kami pecah belah.
Ben : HAHAHA! Betul. Hingga mereka benar-benar pecah. Maka kita mengambil langkah maju untuk menguasai Kota ini.
Ben : HAHAHA! Betul. Hingga mereka benar-benar pecah. Maka kita mengambil langkah maju untuk menguasai Kota ini.
(sementara para orang asing
meningkalkan panggung, masuk 4 orang yang berbeda suku dan Jabatan. Dan mereka
bertikai)
Batak:
Hei kau orang Cina! Tak letihkah kau menguasai pasar negeri ini. Dan tak
memberi sedikitpun ruang untuk kami pribumi untuk berkuasa?
Cina: Apa
kau bilang? Dasar olang-olang Batak berpikiran dangkal! Kalian semua pemalas! Begitu
suburnya lahan negeri ini kalian tidak manfaatkan. Kuasai saja sebangsamu yang
arogan itu!
Jawa: (dengan
lantang namun masih dengan aksen lembut) Tutup Mulut kalian orang-orang munafik!
Kalian ribut mempermasalahkan kekuasaan, uang uang dan uang! Apa kalian pernah berpikir
apa yang telah kalian perbuat bagi negeri ini?
(masyarakat
biasa kebetulan lewat membawa cangkul yang miris melihat pejabat-pejabat itu
bertikai)
Masyarakat Biasa 1: (dengan
nada suara lembut) kalian semua itu sama saja. Kalian mengumpulkan pundi-pundi
kekayaan. Sementara kami, berpeluh sepanjang hari untuk memenuhi kebutuhan
hidup. Tidakkah kalian sadar bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta
uang.
Masyarakat Biasa 2: yah.
Kasihanilah kami wahai wakil-wakil rakyat. Kami memilih kalian bukan untuk menguras
peluh kami hingga tak bersisa.
Cina: beraninya
kalian olang-olang tolol menilai kami. Pergi kalian! (mendorong keras 2 masyarakat biasa itu)
( semua pemain meninggalkan
panggung)
Keesokan harinya, salah
seorang masyarakat ke kebun, kebunnya telah diserang hama.
Masyarakat biasa 2: Bagaimana ini, seluruh ladangku di serang hama. Tak ada satupun yang layak untuk diolah dan dijual. Hu..hu..hu (menangis sambil terduduk)
(petinggi yang bersuku Batak
kebetulan lewat)
Batak:
waaaaah. Ini bahaya. Bagaimana bila ladangmu saya beli. Dan saya akan
mendirikan pabrik di tanah ini. Sehingga semua hasil panen di desa ini semuanya, di olah di pabrik saya.
Masyarakat
biasa 2: lalu, bagaimana dengan keluargaku? Kami bergantung pada
hasil ladangku untuk hidup..
Batak
: haaaah!
Miskin aja belagu kali kau . Kamu bisa kerja di pabrik saya nanti!
Masyarakat
biasa 2: tidak.. saya tidak akan menjual ladang ini..
Batak
: (mendorong
pundak masyarakat tersebut hingga terjatuh) haaaah! Besok saya akan mengurus
semuanya hingga ladang ini menjadi milik sayaa!.
Masyarakat
biasa 2: Tuhan… dimanakah engkau? Kasihani kami dan lindungi kami
dari pada orang-orang jahat itu.
Di tempat lain…
Jhon:
lihat! Hahahaha. Betapa bodohnya mereka. Mereka berpijak pada negeri yang sama.
Hanya dibedakan oleh ras, suku dan keyakinan saja. Tapi mereka berlomba untuk
berkuasa dan menindas yang lemah!
Ben:
hahaha. Benar Jhon. Mereka masing-masing memiliki agama. Tapi sama sekali tak
tau makna dari agama yang mereka anut.
Jawa:
apa yang tengah kalian perbincangkan? Siapa kalian?
Batak: dan
siapa yang kalian katakan bodoh, ha?
Jhon:
hahaha. Ternyata selain penjilat, kalian juga gemar menguping.
Ben:
tentu kalian semua yang kami sebut bodoh. Bangsa yang gemar menindas orang
lemah dan tak segan-segan saling bertikai untuk menduduki kekuasaan!
Jhon:
benar! Kalian pergi beribadah kepada dewa lah, kepada Tuhan manapun itu! Namun tak
sedikitpun kalian mencerminkan kalian makhluk bertuhan!
Ben:
ya. Kalian keji. Tuhan mana yang mengajarkan kalian untuk bertikai satu sama
lain dan menindas yang lain?
Cina:
hayaa! Diam kalian olang-olang asing. Tentu kami punya Tuhan. Tuhan kami
memberi kami kepintaran sehingga bisa menjadi pemimpin di negeri ini!
Jhon: apa? Kami yang akan
menguasai orang-orang bodoh ini dan segala kekayaan alamnya! Kalian tidak
pantas!
Ben: haha
manusia-manusia TOLOL!!!
Tiba-tiba suara
gemuruh terdengar (bisa dibuat melalui suara keyboard pemusik, lalu 1 orang
dibelakang panggung membuat suara Tuhan) saat suara gemuruh dimainkan, semua
yang dipanggung memasang muka bingung dan ketakutan)
Tuhan: Kalian yang ingin
kaya terjatuh ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang
menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan!!
(Masyarakat biasa
1&2 memasuki panggung dengan wajah kalut bercampur bahagia)
Masyarakat biasa 1: Tuhaaaan! Engkaukah itu?
Masyarakat biasa 2: Tuhaaan… janganlah
engkau murka kepada kami makhluk yang berdosa ini. Ampuni.. ampuni kamiii
Jhon: benarkah itu Tuhan? Adakah
Tuhan?
Batak: Yaaaa Tuhann
ampunilah kamiii. Hamba berdosa. Kami telah berdosa.
(suara gemuruh semakin
kencang, dan semua orang memasang wajah mencekam)
TUHAN: siapa menindas orang
yang lemah, menghina penciptanya. Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang
ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi, maka kasih akan Bapa tidak ada di
dalam orang itu.
Demikianlah kehidupan
manusia yang semakin digerus oleh perkembangan zaman. Menjadi hamba uang dan
melakukan hal yang tidah disukai oleh Tuhan. Sebab Tuhan adalah kasih dan
takkan henti memaafkan orang-orang berdosa. Baik engkau kaya ataupun miskin,
tidak menjadikan engkau indah apabila hatimu penuh dengan kejahatan. Hati yang penuh
kasih menjadi persembahan berharga untuk memuliakan nama Tuhan.
(semua pemain
bergandengan tangan dan menyanyikan lagu “kasih itu lemah lembut”)
Semoga bermanfaat J
God bless us.
Label: sastra, travel, opini, etc
Drama Natal
Rabu, 02 November 2016
CERPEN
Si Nenek
Kerentaannya
bukan lagi sebagai penghalang untuk menempuh jarak dua kilometer menuju pasar.
Dia membeli buah-buahan dan sayur bayam kesukaannya namun tak hendak membeli
ikan untuk lauknya siang ini. Dia duduk di sebelah Pak Tono si penjual
sayur-sayuran seperti sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian tampak dari
kejauhan ibu-ibu yang membawa bakul di atas kepalanya, sepertinya dia penjual
nasi keliling. Si nenek tersenyum melihat ibu itu mendekat. Ternyata penjual
itulah yang membuat nenek rela menunggu di tengah keramaian pasar.
“Kamu
kok lama sekali, nenek sudah lama menunggu”
“Ya ampun nenek,
kenapa harus menunggu saya? Kan ada penjual nasi yang lain nek?”
“Saya cuma mau masakan kamu! Ikan Arsik
masakanmu yang cocok di lidah nenek”
Demikian
si nenek setelah membeli ikan arsik kesukaannya dari Ibu Susi. Entah
mengapa si nenek akan dengan setia
menanti Ibu Susi setiap hari senin di pasar sementara masih banyak penjual
makanan di pasar juga di kampungnya.
Setibanya di rumah nenek merebus sayur dengan masakan seadanya dan
segera makan bersama dengan lauk yang dibelinya tadi. Seusai makan nenek duduk
termenung di depan rumah. Meratapi nasibnya yang sebatang kara. Reinhat anak
sulungnya yang sukses bekerja d perusahaan asing di Jepang sudah tujuh tahun
tak pernah pulang ke kampung halamannya. Bahkan Reinhat juga terkabar sudah
berkeluarga dan menikah di negeri orang tersebut. Sementara Sena putrinya yang
kedua, 4 tahun lalu pamitan merantau ke kota besar Jakarta hingga saat ini juga
tak ada kabar.
Tak
jarang ia menangisi kesebatangkaraannya
mengingat umurnya yang kian renta. Rasa takut selalu mengungkung sanubarinya
pabila dia membayangkan hari terakhirnya tak ada yang melihat. Dia takut pabila
nanti dia mulai sakit-sakitan dan tak seorangpun yang mengurusnya. Di tariknya
laci lemari dan mengambil satu lembar foto yang tampak lusuh dan tak berwarna
lagi. Pipinya berlinang air mata menatapi poto yang terlihat bersama kakek, dan
kedua anaknya di saat mereka masih kecil. Si kakek yang tlah lama meninggal
dunia dan meninggalkan nenek yang berjuang sendiri menyekolahkan Reinhat dan
Sena. Ditambah lagi kedua anaknya yang meninggalkannya dan tak pernah memberi
kabar. Hanya merapalkan doalah yang mampu menguatkan hatinya.
Nenek
menyeka air matanya dan menyimpan poto itu kembali ke laci lemari. Dia
membuatkan teh manis untuk dirinya sendiri dan menikmati tatapan senja di sore
hari dari teras rumahnya. Si nenek kemudian masuk ke rumah setelah menyadari
hari mulai gelap. Di sulutnya kayu bakar pada tungku perapian untuk memasak air
yang akan dimasukkannya ke dalam botol bekas. Botol itu akan diguling-gulingkannya
pada bagian tubuhnya yang nyeri. Kesebatangkaraannya membuat dia harus
melakukan apapun sendiri. Meski dengan tenaga seadanya, nenek harus memaksakan
dirinya mengerjakan segala sesuatunya sehingga tubuhnya yang ringkih sering
merasa nyeri.
Sekitar
pukul sembilan malam, nenek membaringkan tubuhnya pada tempat tidurnya. Dia
menatapi langit-langit rumah, dan lagi-lagi meneteslah air matanya. Setiap
malam air mata itu yang akan menjadi penghantar tidur sang nenek setelah
merapalkan doa. berharap Tuhan membukakan mata hati anak-anaknya agar mereka
kembali dalam pelukannya. Pelupuk matanya mulai letih, dan akhirnya si nenek
tertidur dengan air mata yang belum kering di pipinya.
Si
nenek tiba-tiba terbangun dari tidurnya mendengar hujan yang sangat deras
mengguyur gubuknya yang rentan terhadap hujan. Dia lekas berlari semampunya
kearah dapur untuk mengambil beberapa baskom untuk menampung air hujan yang
masuk ke dalam rumah, sebab atap rumah sudah banyak yang bocor. Dia kembali ke kamar
dan ternyata kamarnya pun sudah bocor tepat di atas tempat tidurnya. Nenek
menghembuskan nafas panjang, tak bisa berkata apa-apa lagi karena air hujan
sudah mengenai kasur, bantal juga selimutnya. Padahal nenek sudah sangat kedinginan dan
ingin segera berbaring dan kembali melanjutkan tidurnya. Nenek segera
mengambilkan tikar yang terletak di belakang pintu rumah dan tidur di luar
kamar hanya beralaskan tikar. Apa daya, selimut dan bantal hanya ada satu dan
itu semua sudah basah terkena air hujan. Setelah beberapa menit mencoba
memejamkan mata, tak jua bisa si nenek untuk tertidur, dingin merasuk hingga ke
persendiannya. Lalu teringat, di lemari masih ada satu sarung usang peninggalan
si kakek. Dengan gontai nenek berdiri lagi dan menuju kamar dan mengambil
sarung itu yang ternyata sudah banyak sobeknya.
“Hmmm,
tak apalah, paling tidak ini bisa memberiku sedikit kehangatan”.
Nenek
berujar demikian untuk menguatkan hatinya, meski sebenarnya baginya itu tak
cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang renta dan rentan terhadap dingin. Segera
dia keluar dari kamar, dan kembali membaringkan diri di tikar. Tanpa bantal,
dia mencoba tidur dan menyelimuti tubuhnya dengan sarung usang peninggalan si
kakek. Dia terlihat sangat nyenyak. Seketika itu dia bermimpi, Reinhat dan Sena
tiba-tiba saja pulang dari perantauan, bersama dengan cucunya yang lucu-lucu.
Dengan meneteskan air mata, nenek menangis bahagia. Si nenek bergegas keluar
menemui mereka di halaman rumah. Namun nenek berhenti di depan pintu. Dia heran
mengapa anak-anaknya tampak menangis, bukan menangis behagia seperti dirinya,
namun tampak sangat bersedih hati. Dilihatnya kedua anaknya berlari kencang
setelah turun dari mobil melintasi dirinya yang berdiri di depan pintu tanpa
memeluk atau sekedar menyalamnya. Si nenek menoleh ke belakang saat kedua
anaknya itu berhenti di tikar tempat dia tidur tadi. Mereka duduk dan menangis
tersedu-sedu. Demikian juga para tetanggga nenek mulai berdatangan ke rumah itu, mereka semua datang dengan mata
berkaca-kaca. Nenek mendekat. Dia terkejut melihat tubuhnya terbujur kaku dan
tak berdaya terbaring di tikar itu. Dia menangis, lalu kemudian tersenyum.
“Terimakasih
Tuhan, telah mengembalikan anak-anakku, meski aku bisa melihat mereka dengan wujud yang berbeda.
Label: sastra, travel, opini, etc
sastra
Pemandangan Indah, Balige Tempatnya.
Balige
merupakan ibu kota Kabupaten Tobasa, yang memiliki panorama pantai (bagian dari
danau Toba) yang indah. Di Balige,
banyak hal dan tempat menarik yang bisa kamu dapatkan. Beberapa diantaranya
yaitu Museum TB Silalahi, Tara Bunga, Pantai Lumban Bulbul, dll. Namun kini, yang
paling prioritas adalah desa yang bernama Lumban Bulbul yang memamerkan
pantainya, yang merupakan daerah tujuan wisata, terletak di tepi Danau Toba dan
dikelilingi oleh pebukitan. Terutama pada akhir pekan mulai dari siang hari
hingga petang pantai ini dibanjiri oleh pengunjung.
Selain
Lumban Bulbul, Lumban Silintong adalah objek wisata yang ramai pada hari minggu
dan hari libur, di mana pengunjung juga bisa mandi di danau dan menyantap ikan
mas bakar di kafé-kafé yang berada disekitar desa. Dan tidak usah takut kalau
tidak membawa banyak duit. Makanan disana tidak terlalu menguras isi dompet,
namun rasa juga tidak akan mengecewakan.
gaya tata ruang dari setiap kafe di Lumban Silintong juga sangat beragam dan menarik,
sehingga cocok dijadikan sebagai tempat berkumpul bersama keluarga, maupun
bersama teman-teman. Yang lebih menariknya lagi, sembari menyantap makanan yang
dipesan, kita ditemani oleh angin sepoi-sepoi serta dimanjakan oleh pemandangan
air danau dengan ombak-ombak kecilnya. Apabila Yogyakarta dengan Candi
Borobudur, Jakarta dengan Dufan, Bali dengan Pantai Kuta, maka Balige dengan
pantai Lumban Silintong.
Untuk
bisa berkunjung dan bersenang-senang di Lumban Silintong, harus membawa
kendaraan pribadi atau sewaan. Karena belum ada kendaraan umum yang sampai
kesana. Sehingga, kalau kamu tidak punya motor atau mobil untuk bepergian ke
sana, maka kamu harus menyewa bus bila perginya rombongan, atau kalau
bepergiannya sendiri dan berdua, bisa
menggunakan becak. Sebab kalau menuju
Lumban Silintong dengan jalan kaki, yang ada kaki keram, badan juga akan sangat
letih. Atau, kamu bisa menginap di hotel yang ada disana. Sehingga, selain
dekat dengan tempat wisatanya, kamu tidak akan capek mencari kendaraan umum
lagi.
Terbentangnya
persawahan hijau milik penduduk setempat, menambah keindahan sebelum mencapai
Lumban Silintong. Pengunjung juga dapat dengan bebas memandang jajaran bukit
barisan, dan menghirup udara sejuk dan segar yang akan menyegarkan pikiran.
Selain berupa pemandangan danau dan pebukitan yang indah, disana juga merupakan
tempat untuk memancing ikan. Biasanya, pengunjung ataupun penduduk setempat
menghabiskan waktu berjam-jam di sore hari di pinggiran danau untuk memancing
ikan. Sayangnya, tempat khusus penyewaan pancing belum ada, sehingga pengunjung
yang berminat harus membawa pancingnya masing-masing.
Hal lain yang paling menarik dari Desa Lumban
Silintong, selain berenang dan memancing, yaitu traking menyusuri keindahan
alam menuju Huta Ginjang. Untuk memperoleh layanan perjalanan ini, kamu bisa
meminta bantuan pemuda setempat sebagai pemandu kamu. Selama menyusuri
perjalanan ke sana, tantangannya adalah melewati jalanan setapak berumput
bahkan berduri dan banyak pepohonan. Namun, bila sudah sampai di sana, maka
letihmu akan terbayarkan. Pada pagi hari saat matahari terbit serta sore hari
saat matahari terbenamnya matahari, dari sini dapat dilihat hamparan Danau Toba
dan Pulau Samosir yang diselimuti oleh embun tipis. Dahulu, Lumban Silintong
ini hanyalah sebatas tempat wisata yang apa adanya tanpa pengindahan lokasinya.
Namun sekarang, tempat duduk disepanjang pinggiran danau toba sudah disediakan
pemerintah. Sehingga, siapapun yang lewat bisa singgah menikmati keindahan
danau toba tanpa harus memeriksa isi kantong dulu untuk duduk di rumah makan
atau kafe di sekitar danau. Saat menyusuri sepanjang jalan desa Lumban
Silintong di sore hari, kita juga akan menemui sekumpulan kerbau yang dihalau
gembalanya pulang. Suasana pedesaan seperti ini bisa menjadi alasan bagi setiap
orang yang selalu sibuk di kota untuk menenangkan pikiran dari segala
kesibukan.
Ada satu tempat yang dinamakan “pagoda” di Lumban
Silingtong. Pagoda tersebut adalah sebuah bukit yang bisa dinaiki dari pinggir
jalan. Tidak usah takut letih, bukit yang dimaksudkan disini bukan setinggi
yang anda maksud. Mendaki sekitar ketinggian 8 meter, kita sudah bisa duduk
bersilah di atasny dengan hamparan rumput nan hijau sembari menatap hamparan
danau toba, kapal-kapal yang sedang berlabuh dari jauh, dan pebukitan yang
mengelilinginya. Bila kamu tertarik, kamu bisa mencari buah kecil yang
dinamakan “harimonting” disana. Harimonting adalah buah berbiji di tanah batak
yang paling digemari anak-anak. Disamping rasanya yang manis, saat mencari
buahnya adalah suatu hal yang sangat menyenangkan. Anda tinggal mencari pohon
pendek berdaun kecil, yang tingginya
sekitar setengah meter, dan buahnya lonjong berukuran seperti ceri. Dan untuk
mendapatkan buahnya, bukan hal yang mudah. Dari sekian pohon yang berbuah, kamu
harus memilih yang berwarna merah ranum dan lembek. Jika buahnya masih berwarna
kemerah-merahan dan keras, itu tidak enak rasanya. Menarik bukan?
Setelah letih mencari buah harimonting tersebut,
turun dari bukit pagoda dan duduk di salah satu kafe adalah salah satu pilihan.
Kamupun bisa memesan makanan dan minuman yang kamu suka, bila perut sudah minta
diisi. Dan hal yang perlu kamu ingat saat memesan minuman jus yaitu, bila kamu
ingin jusnya dingin (pake es) jangan lupa untuk menyebutnya pake es kepada
pemilik warung/kafenya. Karena bila kamu yang terbiasa di kota memperoleh jus
dalam keadaan dingin bila memesan jus, maka di sini berbeda. Hal ini
dikarenakan Balige adalah kota bercuaca dingin. Maka, saat kamu hanya memesan
dengan sebutan jus saja meskipun itu di siang bolong, jus yang sampai di depan
kamu hanyalah jus biasa tanpa es.
Salah satu kafe disekitar Lumban Silintong juga ada
yang menyediakan kolam renang terbuka. Dimana kolam tersebut bersentuhan langsung
dengan air danau. Namun air di dalam kolam adalah air saluran bersih, bukan air
yang langsung dari danau. Hal ini menjadi sebuah seuasana berenang yang baru
bagi kamu, yaitu berenang di dalam kolam dan menatap langsung danau di depan
kamu. Tapi jangan berenang terlalu lama ya, karena badan kamu akan menggigil.
Kalau
kamu datang beramai-ramai ke Lumban Silintong, maka pintar-pintarlah memilih
tempat. Disepanjang daerah pantai, banyak kafe dan rumah makan yang tersedia.
Namun, kamu juga harus pandai memilih tempat yang sesuai dengan yang kamu
inginkan dan kamu butuhkan. Di pertengan wilayah Lumban Silintong, kamu bisa
mengunjungi kafe yang di daerah pantainya adalah tempat piknik bersama keluarga
atau teman-teman. Kamu bisa memasang tikar piknik di pinggiran danau yang
terlindungi pepohonan rindang. Memesan ikan mentah dan memanggang ikan sendiri
adalah pilihan terbaik. Suasana ramai sembari “bakar-bakar ikan” ditemani udara
pantai yang sepoi-sepoi adalah pilihan tepat untuk bersenang-senang dan menghabiskan
waktu kebersamaan.
Mayoritas
penduduk lumbanbulbul ataupun Lumban Silintong bekerja sebagai nelayan.
Sehingga bila kamu tengah berkunjung ke salah satu kafe yang ada disana pada
sore hari maka perahu yang belum dipakai bisa digunakan sebagai objek poto kamu
sedangkan pada malam hari, maka kamu akan menjumpai beberapa nelayan yang
menggunakan perahu untuk menebar jala untuk menangkap ikan. Pada malam hari
juga, nuansa danau yang berombak kecil dengan angin malam yang dingin adalah
suatu hal yang harus dirasakan saat berkunjung ke sini. Jika kamu berencana
untuk mennelusuri dan bersantai ria di Lumban Silintong tersebut hingga
malam, jangan coba-coba keluar tanpa
membawa jaket. Dari terbenamnya matahari, cuaca disini sangatlah dingin,
meskipun di siang hari sangat panas. Sehingga, bila kamu keluar dan menikmati
pemandangan hingga malam hari maka bersiap-siaplah untuk menggigil.
Selain melihat panorama danau di
malam hari yang dingin, biasanya kamu akan mendengarkan lagu-lagu khas batak
yang dinyanyikan oleh penyanyi kafe. Kemudian, dari tempat duduk kamu yang
berhadapan dengan danau, kamu bisa menatap jauh kota balige yang bercahaya di
malam hari. Riak-riak air danau yang berombak kecil akan membuat kamu terbawa
suasana bila ketepatan kamu duduk dan makan berdua dengan pasangan. Duduk di
meja berlilin, ditemani oleh angin malam berhembus akan menjadi suasana romantis
yang mengesankan.
Berlibur dan berkunjung ke Lumban
Silintong adalah hal yang harus di coba. Terutama bagi kamu yang selama ini
sibuk dengan hiruk-pikuk kota yang sesak oleh polusi dimana-mana. Menyegarkan
pikiran, serta menikmati nuansa desa yang asri dan berudara segar, maka
disinilah tempatnya. Dan yang menjadi daya tarik, meski Lumban Silintong adalah
primadona, kamu bisa bepergian ke tempat wisata lainnya. Sebab Balige mempunyai
benyak tempat yang bisa kamu kunjungi, yang belum tentu bisa kamu dapatkan di
kota lain. Selain dari biayanya yang tidak terlalu mahal, keindahan yang
ditawarkan juga memanjakan mata dan pikiran.
Label: sastra, travel, opini, etc
Eksplor Sumut
Langganan:
Komentar (Atom)

