Kamis, 03 November 2016

Naskah Drama Natal

Drama Singkat  
“Mengasihi Tuhan dan Tidak Menjadi Hamba Uang”
(terinspirasi dari kitab 1 Timotius 6:9-11)
By: Naomi Tampubolon
Prolog:
Sejak awal mula penciptaan dunia, Allah menciptakan segala sesuatunya dalam keanekaragaman dan perbedaan. Ada terang ada gelap, ada bulan dan bintang, aneka hewan didarat, di air dan di udara, juga tumbuhan di air dan di darat. Demikian juga dengan manusia, ada pria dan wanita, berbeda sifat dan anggota tubuhnya, dan perbedaan lainnya. Keanekaragaman itu adalah bentuk kemuliaan, keindahan dan kebesaran Tuhan. Namun kini… perbedaan bukan dipandang sebagai keindahan lagi. Manusia memberontak pada kebesaran Tuhan. Manusia menjadi sangat serakah satu dengan yang lain.

Jhon: HAHAHAHA..! Hancurlah kalian. Dengan mudah persatuan kalian kami pecah belah.
Ben : HAHAHA! Betul. Hingga mereka benar-benar pecah. Maka kita mengambil langkah maju untuk menguasai  Kota ini.
(sementara para orang asing meningkalkan panggung, masuk 4 orang yang berbeda suku dan Jabatan. Dan mereka bertikai)
Batak: Hei kau orang Cina! Tak letihkah kau menguasai pasar negeri ini. Dan tak memberi sedikitpun ruang untuk kami pribumi untuk berkuasa?
Cina: Apa kau bilang? Dasar olang-olang Batak berpikiran dangkal! Kalian semua pemalas! Begitu suburnya lahan negeri ini kalian tidak manfaatkan. Kuasai saja sebangsamu yang arogan itu!
Jawa: (dengan lantang namun masih dengan aksen lembut) Tutup Mulut kalian orang-orang munafik! Kalian ribut mempermasalahkan kekuasaan, uang uang dan uang! Apa kalian pernah berpikir apa yang telah kalian perbuat bagi negeri ini?
(masyarakat biasa kebetulan lewat membawa cangkul yang miris melihat pejabat-pejabat itu bertikai)
Masyarakat Biasa 1: (dengan nada suara lembut) kalian semua itu sama saja. Kalian mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. Sementara kami, berpeluh sepanjang hari untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidakkah kalian sadar bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta uang.
Masyarakat Biasa 2: yah. Kasihanilah kami wahai wakil-wakil rakyat. Kami memilih kalian bukan untuk menguras peluh kami hingga tak bersisa.
Cina: beraninya kalian olang-olang tolol menilai kami. Pergi kalian!  (mendorong keras  2 masyarakat biasa itu)
( semua pemain meninggalkan panggung)
Keesokan harinya, salah seorang masyarakat ke kebun, kebunnya telah diserang hama.

Masyarakat biasa 2: Bagaimana ini, seluruh ladangku di serang hama. Tak ada satupun yang layak untuk diolah dan dijual. Hu..hu..hu (menangis sambil terduduk)
(petinggi yang bersuku Batak kebetulan lewat)
Batak: waaaaah. Ini bahaya. Bagaimana bila ladangmu saya beli. Dan saya akan mendirikan pabrik di tanah ini. Sehingga semua hasil panen di desa  ini semuanya, di olah di pabrik saya.
Masyarakat biasa 2: lalu, bagaimana dengan keluargaku? Kami bergantung pada hasil ladangku untuk hidup..
Batak : haaaah! Miskin aja belagu kali kau . Kamu bisa kerja di pabrik saya nanti!
Masyarakat biasa 2: tidak.. saya tidak akan menjual ladang ini..
Batak : (mendorong pundak masyarakat tersebut hingga terjatuh) haaaah! Besok saya akan mengurus semuanya hingga ladang ini menjadi milik sayaa!.
Masyarakat biasa 2: Tuhan… dimanakah engkau? Kasihani kami dan lindungi kami dari pada orang-orang jahat itu.

Di tempat lain…
Jhon: lihat! Hahahaha. Betapa bodohnya mereka. Mereka berpijak pada negeri yang sama. Hanya dibedakan oleh ras, suku dan keyakinan saja. Tapi mereka berlomba untuk berkuasa dan menindas yang lemah!
Ben: hahaha. Benar Jhon. Mereka masing-masing memiliki agama. Tapi sama sekali tak tau makna dari agama yang mereka anut.
Jawa: apa yang tengah kalian perbincangkan? Siapa kalian?
Batak: dan siapa yang kalian katakan bodoh, ha?
Jhon: hahaha. Ternyata selain penjilat, kalian juga gemar menguping.
Ben: tentu kalian semua yang kami sebut bodoh. Bangsa yang gemar menindas orang lemah dan tak segan-segan saling bertikai untuk menduduki kekuasaan!
Jhon: benar! Kalian pergi beribadah kepada dewa lah, kepada Tuhan manapun itu! Namun tak sedikitpun kalian mencerminkan kalian makhluk bertuhan!
Ben: ya. Kalian keji. Tuhan mana yang mengajarkan kalian untuk bertikai satu sama lain dan menindas yang lain?
Cina: hayaa! Diam kalian olang-olang asing. Tentu kami punya Tuhan. Tuhan kami memberi kami kepintaran sehingga bisa menjadi pemimpin di negeri ini!
Jhon: apa? Kami yang akan menguasai orang-orang bodoh ini dan segala kekayaan alamnya! Kalian tidak pantas!
Ben: haha manusia-manusia TOLOL!!!

Tiba-tiba suara gemuruh terdengar (bisa dibuat melalui suara keyboard pemusik, lalu 1 orang dibelakang panggung membuat suara Tuhan) saat suara gemuruh dimainkan, semua yang dipanggung memasang muka bingung dan ketakutan)

Tuhan: Kalian yang ingin kaya terjatuh ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan!!
(Masyarakat biasa 1&2 memasuki panggung dengan wajah kalut bercampur bahagia)

Masyarakat biasa 1: Tuhaaaan! Engkaukah itu?
Masyarakat biasa 2: Tuhaaan… janganlah engkau murka kepada kami makhluk yang berdosa ini. Ampuni.. ampuni kamiii

Jhon: benarkah itu Tuhan? Adakah Tuhan?
Batak: Yaaaa Tuhann ampunilah kamiii. Hamba berdosa. Kami telah berdosa.
(suara gemuruh semakin kencang, dan semua orang memasang wajah mencekam)

TUHAN: siapa menindas orang yang lemah, menghina penciptanya. Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
Demikianlah kehidupan manusia yang semakin digerus oleh perkembangan zaman. Menjadi hamba uang dan melakukan hal yang tidah disukai oleh Tuhan. Sebab Tuhan adalah kasih dan takkan henti memaafkan orang-orang berdosa. Baik engkau kaya ataupun miskin, tidak menjadikan engkau indah apabila hatimu penuh dengan kejahatan. Hati yang penuh kasih menjadi persembahan berharga untuk memuliakan nama Tuhan.

(semua pemain bergandengan tangan dan menyanyikan lagu “kasih itu lemah lembut”)
Semoga bermanfaat J God bless us.

Rabu, 02 November 2016

CERPEN

Si Nenek

Kerentaannya bukan lagi sebagai penghalang untuk menempuh jarak dua kilometer menuju pasar. Dia membeli buah-buahan dan sayur bayam kesukaannya namun tak hendak membeli ikan untuk lauknya siang ini. Dia duduk di sebelah Pak Tono si penjual sayur-sayuran seperti sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian tampak dari kejauhan ibu-ibu yang membawa bakul di atas kepalanya, sepertinya dia penjual nasi keliling. Si nenek tersenyum melihat ibu itu mendekat. Ternyata penjual itulah yang membuat nenek rela menunggu di tengah keramaian pasar.

“Kamu kok lama sekali, nenek sudah lama menunggu”
“Ya ampun nenek, kenapa harus menunggu saya? Kan ada penjual nasi yang lain nek?”
“Saya cuma mau masakan kamu! Ikan Arsik masakanmu yang cocok di lidah nenek”
Demikian si nenek setelah membeli ikan arsik kesukaannya dari Ibu Susi. Entah mengapa  si nenek akan dengan setia menanti Ibu Susi setiap hari senin di pasar sementara masih banyak penjual makanan di pasar juga di kampungnya.  
Setibanya di rumah nenek merebus sayur dengan masakan seadanya dan segera makan bersama dengan lauk yang dibelinya tadi. Seusai makan nenek duduk termenung di depan rumah. Meratapi nasibnya yang sebatang kara. Reinhat anak sulungnya yang sukses bekerja d perusahaan asing di Jepang sudah tujuh tahun tak pernah pulang ke kampung halamannya. Bahkan Reinhat juga terkabar sudah berkeluarga dan menikah di negeri orang tersebut. Sementara Sena putrinya yang kedua, 4 tahun lalu pamitan merantau ke kota besar Jakarta hingga saat ini juga tak ada kabar.
Tak jarang ia  menangisi kesebatangkaraannya mengingat umurnya yang kian renta. Rasa takut selalu mengungkung sanubarinya pabila dia membayangkan hari terakhirnya tak ada yang melihat. Dia takut pabila nanti dia mulai sakit-sakitan dan tak seorangpun yang mengurusnya. Di tariknya laci lemari dan mengambil satu lembar foto yang tampak lusuh dan tak berwarna lagi. Pipinya berlinang air mata menatapi poto yang terlihat bersama kakek, dan kedua anaknya di saat mereka masih kecil. Si kakek yang tlah lama meninggal dunia dan meninggalkan nenek yang berjuang sendiri menyekolahkan Reinhat dan Sena. Ditambah lagi kedua anaknya yang meninggalkannya dan tak pernah memberi kabar. Hanya merapalkan doalah yang mampu menguatkan hatinya.
Nenek menyeka air matanya dan menyimpan poto itu kembali ke laci lemari. Dia membuatkan teh manis untuk dirinya sendiri dan menikmati tatapan senja di sore hari dari teras rumahnya. Si nenek kemudian masuk ke rumah setelah menyadari hari mulai gelap. Di sulutnya kayu bakar pada tungku perapian untuk memasak air yang akan dimasukkannya ke dalam botol bekas. Botol itu akan diguling-gulingkannya pada bagian tubuhnya yang nyeri. Kesebatangkaraannya membuat dia harus melakukan apapun sendiri. Meski dengan tenaga seadanya, nenek harus memaksakan dirinya mengerjakan segala sesuatunya sehingga tubuhnya yang ringkih sering merasa nyeri.
Sekitar pukul sembilan malam, nenek membaringkan tubuhnya pada tempat tidurnya. Dia menatapi langit-langit rumah, dan lagi-lagi meneteslah air matanya. Setiap malam air mata itu yang akan menjadi penghantar tidur sang nenek setelah merapalkan doa. berharap Tuhan membukakan mata hati anak-anaknya agar mereka kembali dalam pelukannya. Pelupuk matanya mulai letih, dan akhirnya si nenek tertidur dengan air mata yang belum kering di pipinya.
Si nenek tiba-tiba terbangun dari tidurnya mendengar hujan yang sangat deras mengguyur gubuknya yang rentan terhadap hujan. Dia lekas berlari semampunya kearah dapur untuk mengambil beberapa baskom untuk menampung air hujan yang masuk ke dalam rumah, sebab atap rumah sudah banyak yang bocor. Dia kembali ke kamar dan ternyata kamarnya pun sudah bocor tepat di atas tempat tidurnya. Nenek menghembuskan nafas panjang, tak bisa berkata apa-apa lagi karena air hujan sudah mengenai kasur, bantal juga selimutnya.  Padahal nenek sudah sangat kedinginan dan ingin segera berbaring dan kembali melanjutkan tidurnya. Nenek segera mengambilkan tikar yang terletak di belakang pintu rumah dan tidur di luar kamar hanya beralaskan tikar. Apa daya, selimut dan bantal hanya ada satu dan itu semua sudah basah terkena air hujan. Setelah beberapa menit mencoba memejamkan mata, tak jua bisa si nenek untuk tertidur, dingin merasuk hingga ke persendiannya. Lalu teringat, di lemari masih ada satu sarung usang peninggalan si kakek. Dengan gontai nenek berdiri lagi dan menuju kamar dan mengambil sarung itu yang ternyata sudah banyak sobeknya.
“Hmmm, tak apalah, paling tidak ini bisa memberiku sedikit kehangatan”.
Nenek berujar demikian untuk menguatkan hatinya, meski sebenarnya baginya itu tak cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang renta dan rentan terhadap dingin. Segera dia keluar dari kamar, dan kembali membaringkan diri di tikar. Tanpa bantal, dia mencoba tidur dan menyelimuti tubuhnya dengan sarung usang peninggalan si kakek. Dia terlihat sangat nyenyak.  Seketika itu dia bermimpi, Reinhat dan Sena tiba-tiba saja pulang dari perantauan, bersama dengan cucunya yang lucu-lucu. Dengan meneteskan air mata, nenek menangis bahagia. Si nenek bergegas keluar menemui mereka di halaman rumah. Namun nenek berhenti di depan pintu. Dia heran mengapa anak-anaknya tampak menangis, bukan menangis behagia seperti dirinya, namun tampak sangat bersedih hati. Dilihatnya kedua anaknya berlari kencang setelah turun dari mobil melintasi dirinya yang berdiri di depan pintu tanpa memeluk atau sekedar menyalamnya. Si nenek menoleh ke belakang saat kedua anaknya itu berhenti di tikar tempat dia tidur tadi. Mereka duduk dan menangis tersedu-sedu. Demikian juga para tetanggga nenek mulai berdatangan ke rumah itu, mereka semua datang dengan mata berkaca-kaca. Nenek mendekat. Dia terkejut melihat tubuhnya terbujur kaku dan tak berdaya terbaring di tikar itu. Dia menangis, lalu kemudian tersenyum.
“Terimakasih Tuhan, telah mengembalikan anak-anakku, meski aku bisa melihat      mereka dengan wujud yang berbeda.


Pemandangan Indah, Balige Tempatnya.

    Balige merupakan ibu kota Kabupaten Tobasa, yang memiliki panorama pantai (bagian dari danau Toba) yang indah.  Di Balige, banyak hal dan tempat menarik yang bisa kamu dapatkan. Beberapa diantaranya yaitu Museum TB Silalahi, Tara Bunga, Pantai Lumban Bulbul, dll. Namun kini, yang paling prioritas adalah desa yang bernama Lumban Bulbul yang memamerkan pantainya, yang merupakan daerah tujuan wisata, terletak di tepi Danau Toba dan dikelilingi oleh pebukitan. Terutama pada akhir pekan mulai dari siang hari hingga petang pantai ini dibanjiri oleh pengunjung.

Selain Lumban Bulbul, Lumban Silintong adalah objek wisata yang ramai pada hari minggu dan hari libur, di mana pengunjung juga bisa mandi di danau dan menyantap ikan mas bakar di kafé-kafé yang berada disekitar desa. Dan tidak usah takut kalau tidak membawa banyak duit. Makanan disana tidak terlalu menguras isi dompet, namun rasa juga tidak akan mengecewakan.
gaya tata ruang dari setiap kafe di Lumban Silintong juga sangat beragam dan menarik, sehingga cocok dijadikan sebagai tempat berkumpul bersama keluarga, maupun bersama teman-teman. Yang lebih menariknya lagi, sembari menyantap makanan yang dipesan, kita ditemani oleh angin sepoi-sepoi serta dimanjakan oleh pemandangan air danau dengan ombak-ombak kecilnya. Apabila Yogyakarta dengan Candi Borobudur, Jakarta dengan Dufan, Bali dengan Pantai Kuta, maka Balige dengan pantai Lumban Silintong.
Untuk bisa berkunjung dan bersenang-senang di Lumban Silintong, harus membawa kendaraan pribadi atau sewaan. Karena belum ada kendaraan umum yang sampai kesana. Sehingga, kalau kamu tidak punya motor atau mobil untuk bepergian ke sana, maka kamu harus menyewa bus bila perginya rombongan, atau kalau bepergiannya sendiri dan  berdua, bisa menggunakan  becak. Sebab kalau menuju Lumban Silintong dengan jalan kaki, yang ada kaki keram, badan juga akan sangat letih. Atau, kamu bisa menginap di hotel yang ada disana. Sehingga, selain dekat dengan tempat wisatanya, kamu tidak akan capek mencari kendaraan umum lagi.
Terbentangnya persawahan hijau milik penduduk setempat, menambah keindahan sebelum mencapai Lumban Silintong. Pengunjung juga dapat dengan bebas memandang jajaran bukit barisan, dan menghirup udara sejuk dan segar yang akan menyegarkan pikiran. Selain berupa pemandangan danau dan pebukitan yang indah, disana juga merupakan tempat untuk memancing ikan. Biasanya, pengunjung ataupun penduduk setempat menghabiskan waktu berjam-jam di sore hari di pinggiran danau untuk memancing ikan. Sayangnya, tempat khusus penyewaan pancing belum ada, sehingga pengunjung yang berminat harus membawa pancingnya masing-masing.
 Hal lain yang paling menarik dari Desa Lumban Silintong, selain berenang dan memancing, yaitu traking menyusuri keindahan alam menuju Huta Ginjang. Untuk memperoleh layanan perjalanan ini, kamu bisa meminta bantuan pemuda setempat sebagai pemandu kamu. Selama menyusuri perjalanan ke sana, tantangannya adalah melewati jalanan setapak berumput bahkan berduri dan banyak pepohonan. Namun, bila sudah sampai di sana, maka letihmu akan terbayarkan. Pada pagi hari saat matahari terbit serta sore hari saat matahari terbenamnya matahari, dari sini dapat dilihat hamparan Danau Toba dan Pulau Samosir yang diselimuti oleh embun tipis. Dahulu, Lumban Silintong ini hanyalah sebatas tempat wisata yang apa adanya tanpa pengindahan lokasinya. Namun sekarang, tempat duduk disepanjang pinggiran danau toba sudah disediakan pemerintah. Sehingga, siapapun yang lewat bisa singgah menikmati keindahan danau toba tanpa harus memeriksa isi kantong dulu untuk duduk di rumah makan atau kafe di sekitar danau. Saat menyusuri sepanjang jalan desa Lumban Silintong di sore hari, kita juga akan menemui sekumpulan kerbau yang dihalau gembalanya pulang. Suasana pedesaan seperti ini bisa menjadi alasan bagi setiap orang yang selalu sibuk di kota untuk menenangkan pikiran dari segala kesibukan.

@lumbansilintong

Ada satu tempat yang dinamakan “pagoda” di Lumban Silingtong. Pagoda tersebut adalah sebuah bukit yang bisa dinaiki dari pinggir jalan. Tidak usah takut letih, bukit yang dimaksudkan disini bukan setinggi yang anda maksud. Mendaki sekitar ketinggian 8 meter, kita sudah bisa duduk bersilah di atasny dengan hamparan rumput nan hijau sembari menatap hamparan danau toba, kapal-kapal yang sedang berlabuh dari jauh, dan pebukitan yang mengelilinginya. Bila kamu tertarik, kamu bisa mencari buah kecil yang dinamakan “harimonting” disana. Harimonting adalah buah berbiji di tanah batak yang paling digemari anak-anak. Disamping rasanya yang manis, saat mencari buahnya adalah suatu hal yang sangat menyenangkan. Anda tinggal mencari pohon pendek berdaun kecil,  yang tingginya sekitar setengah meter, dan buahnya lonjong berukuran seperti ceri. Dan untuk mendapatkan buahnya, bukan hal yang mudah. Dari sekian pohon yang berbuah, kamu harus memilih yang berwarna merah ranum dan lembek. Jika buahnya masih berwarna kemerah-merahan dan keras, itu tidak enak rasanya. Menarik bukan?
Setelah letih mencari buah harimonting tersebut, turun dari bukit pagoda dan duduk di salah satu kafe adalah salah satu pilihan. Kamupun bisa memesan makanan dan minuman yang kamu suka, bila perut sudah minta diisi. Dan hal yang perlu kamu ingat saat memesan minuman jus yaitu, bila kamu ingin jusnya dingin (pake es) jangan lupa untuk menyebutnya pake es kepada pemilik warung/kafenya. Karena bila kamu yang terbiasa di kota memperoleh jus dalam keadaan dingin bila memesan jus, maka di sini berbeda. Hal ini dikarenakan Balige adalah kota bercuaca dingin. Maka, saat kamu hanya memesan dengan sebutan jus saja meskipun itu di siang bolong, jus yang sampai di depan kamu hanyalah jus biasa tanpa es.
Salah satu kafe disekitar Lumban Silintong juga ada yang menyediakan kolam renang terbuka. Dimana kolam tersebut bersentuhan langsung dengan air danau. Namun air di dalam kolam adalah air saluran bersih, bukan air yang langsung dari danau. Hal ini menjadi sebuah seuasana berenang yang baru bagi kamu, yaitu berenang di dalam kolam dan menatap langsung danau di depan kamu. Tapi jangan berenang terlalu lama ya, karena badan kamu akan menggigil.
Kalau kamu datang beramai-ramai ke Lumban Silintong, maka pintar-pintarlah memilih tempat. Disepanjang daerah pantai, banyak kafe dan rumah makan yang tersedia. Namun, kamu juga harus pandai memilih tempat yang sesuai dengan yang kamu inginkan dan kamu butuhkan. Di pertengan wilayah Lumban Silintong, kamu bisa mengunjungi kafe yang di daerah pantainya adalah tempat piknik bersama keluarga atau teman-teman. Kamu bisa memasang tikar piknik di pinggiran danau yang terlindungi pepohonan rindang. Memesan ikan mentah dan memanggang ikan sendiri adalah pilihan terbaik. Suasana ramai sembari “bakar-bakar ikan” ditemani udara pantai yang sepoi-sepoi adalah pilihan tepat untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu kebersamaan.

@pantai lumbanbulbul Balige

Mayoritas penduduk lumbanbulbul ataupun Lumban Silintong bekerja sebagai nelayan. Sehingga bila kamu tengah berkunjung ke salah satu kafe yang ada disana pada sore hari maka perahu yang belum dipakai bisa digunakan sebagai objek poto kamu sedangkan pada malam hari, maka kamu akan menjumpai beberapa nelayan yang menggunakan perahu untuk menebar jala untuk menangkap ikan. Pada malam hari juga, nuansa danau yang berombak kecil dengan angin malam yang dingin adalah suatu hal yang harus dirasakan saat berkunjung ke sini. Jika kamu berencana untuk mennelusuri dan bersantai ria di Lumban Silintong tersebut hingga malam,  jangan coba-coba keluar tanpa membawa jaket. Dari terbenamnya matahari, cuaca disini sangatlah dingin, meskipun di siang hari sangat panas. Sehingga, bila kamu keluar dan menikmati pemandangan hingga malam hari maka bersiap-siaplah untuk menggigil.
            Selain melihat panorama danau di malam hari yang dingin, biasanya kamu akan mendengarkan lagu-lagu khas batak yang dinyanyikan oleh penyanyi kafe. Kemudian, dari tempat duduk kamu yang berhadapan dengan danau, kamu bisa menatap jauh kota balige yang bercahaya di malam hari. Riak-riak air danau yang berombak kecil akan membuat kamu terbawa suasana bila ketepatan kamu duduk dan makan berdua dengan pasangan. Duduk di meja berlilin, ditemani oleh angin malam berhembus akan menjadi suasana romantis yang mengesankan.
            Berlibur dan berkunjung ke Lumban Silintong adalah hal yang harus di coba. Terutama bagi kamu yang selama ini sibuk dengan hiruk-pikuk kota yang sesak oleh polusi dimana-mana. Menyegarkan pikiran, serta menikmati nuansa desa yang asri dan berudara segar, maka disinilah tempatnya. Dan yang menjadi daya tarik, meski Lumban Silintong adalah primadona, kamu bisa bepergian ke tempat wisata lainnya. Sebab Balige mempunyai benyak tempat yang bisa kamu kunjungi, yang belum tentu bisa kamu dapatkan di kota lain. Selain dari biayanya yang tidak terlalu mahal, keindahan yang ditawarkan juga memanjakan mata dan pikiran.