Rabu, 02 November 2016

CERPEN

Si Nenek

Kerentaannya bukan lagi sebagai penghalang untuk menempuh jarak dua kilometer menuju pasar. Dia membeli buah-buahan dan sayur bayam kesukaannya namun tak hendak membeli ikan untuk lauknya siang ini. Dia duduk di sebelah Pak Tono si penjual sayur-sayuran seperti sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian tampak dari kejauhan ibu-ibu yang membawa bakul di atas kepalanya, sepertinya dia penjual nasi keliling. Si nenek tersenyum melihat ibu itu mendekat. Ternyata penjual itulah yang membuat nenek rela menunggu di tengah keramaian pasar.

“Kamu kok lama sekali, nenek sudah lama menunggu”
“Ya ampun nenek, kenapa harus menunggu saya? Kan ada penjual nasi yang lain nek?”
“Saya cuma mau masakan kamu! Ikan Arsik masakanmu yang cocok di lidah nenek”
Demikian si nenek setelah membeli ikan arsik kesukaannya dari Ibu Susi. Entah mengapa  si nenek akan dengan setia menanti Ibu Susi setiap hari senin di pasar sementara masih banyak penjual makanan di pasar juga di kampungnya.  
Setibanya di rumah nenek merebus sayur dengan masakan seadanya dan segera makan bersama dengan lauk yang dibelinya tadi. Seusai makan nenek duduk termenung di depan rumah. Meratapi nasibnya yang sebatang kara. Reinhat anak sulungnya yang sukses bekerja d perusahaan asing di Jepang sudah tujuh tahun tak pernah pulang ke kampung halamannya. Bahkan Reinhat juga terkabar sudah berkeluarga dan menikah di negeri orang tersebut. Sementara Sena putrinya yang kedua, 4 tahun lalu pamitan merantau ke kota besar Jakarta hingga saat ini juga tak ada kabar.
Tak jarang ia  menangisi kesebatangkaraannya mengingat umurnya yang kian renta. Rasa takut selalu mengungkung sanubarinya pabila dia membayangkan hari terakhirnya tak ada yang melihat. Dia takut pabila nanti dia mulai sakit-sakitan dan tak seorangpun yang mengurusnya. Di tariknya laci lemari dan mengambil satu lembar foto yang tampak lusuh dan tak berwarna lagi. Pipinya berlinang air mata menatapi poto yang terlihat bersama kakek, dan kedua anaknya di saat mereka masih kecil. Si kakek yang tlah lama meninggal dunia dan meninggalkan nenek yang berjuang sendiri menyekolahkan Reinhat dan Sena. Ditambah lagi kedua anaknya yang meninggalkannya dan tak pernah memberi kabar. Hanya merapalkan doalah yang mampu menguatkan hatinya.
Nenek menyeka air matanya dan menyimpan poto itu kembali ke laci lemari. Dia membuatkan teh manis untuk dirinya sendiri dan menikmati tatapan senja di sore hari dari teras rumahnya. Si nenek kemudian masuk ke rumah setelah menyadari hari mulai gelap. Di sulutnya kayu bakar pada tungku perapian untuk memasak air yang akan dimasukkannya ke dalam botol bekas. Botol itu akan diguling-gulingkannya pada bagian tubuhnya yang nyeri. Kesebatangkaraannya membuat dia harus melakukan apapun sendiri. Meski dengan tenaga seadanya, nenek harus memaksakan dirinya mengerjakan segala sesuatunya sehingga tubuhnya yang ringkih sering merasa nyeri.
Sekitar pukul sembilan malam, nenek membaringkan tubuhnya pada tempat tidurnya. Dia menatapi langit-langit rumah, dan lagi-lagi meneteslah air matanya. Setiap malam air mata itu yang akan menjadi penghantar tidur sang nenek setelah merapalkan doa. berharap Tuhan membukakan mata hati anak-anaknya agar mereka kembali dalam pelukannya. Pelupuk matanya mulai letih, dan akhirnya si nenek tertidur dengan air mata yang belum kering di pipinya.
Si nenek tiba-tiba terbangun dari tidurnya mendengar hujan yang sangat deras mengguyur gubuknya yang rentan terhadap hujan. Dia lekas berlari semampunya kearah dapur untuk mengambil beberapa baskom untuk menampung air hujan yang masuk ke dalam rumah, sebab atap rumah sudah banyak yang bocor. Dia kembali ke kamar dan ternyata kamarnya pun sudah bocor tepat di atas tempat tidurnya. Nenek menghembuskan nafas panjang, tak bisa berkata apa-apa lagi karena air hujan sudah mengenai kasur, bantal juga selimutnya.  Padahal nenek sudah sangat kedinginan dan ingin segera berbaring dan kembali melanjutkan tidurnya. Nenek segera mengambilkan tikar yang terletak di belakang pintu rumah dan tidur di luar kamar hanya beralaskan tikar. Apa daya, selimut dan bantal hanya ada satu dan itu semua sudah basah terkena air hujan. Setelah beberapa menit mencoba memejamkan mata, tak jua bisa si nenek untuk tertidur, dingin merasuk hingga ke persendiannya. Lalu teringat, di lemari masih ada satu sarung usang peninggalan si kakek. Dengan gontai nenek berdiri lagi dan menuju kamar dan mengambil sarung itu yang ternyata sudah banyak sobeknya.
“Hmmm, tak apalah, paling tidak ini bisa memberiku sedikit kehangatan”.
Nenek berujar demikian untuk menguatkan hatinya, meski sebenarnya baginya itu tak cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang renta dan rentan terhadap dingin. Segera dia keluar dari kamar, dan kembali membaringkan diri di tikar. Tanpa bantal, dia mencoba tidur dan menyelimuti tubuhnya dengan sarung usang peninggalan si kakek. Dia terlihat sangat nyenyak.  Seketika itu dia bermimpi, Reinhat dan Sena tiba-tiba saja pulang dari perantauan, bersama dengan cucunya yang lucu-lucu. Dengan meneteskan air mata, nenek menangis bahagia. Si nenek bergegas keluar menemui mereka di halaman rumah. Namun nenek berhenti di depan pintu. Dia heran mengapa anak-anaknya tampak menangis, bukan menangis behagia seperti dirinya, namun tampak sangat bersedih hati. Dilihatnya kedua anaknya berlari kencang setelah turun dari mobil melintasi dirinya yang berdiri di depan pintu tanpa memeluk atau sekedar menyalamnya. Si nenek menoleh ke belakang saat kedua anaknya itu berhenti di tikar tempat dia tidur tadi. Mereka duduk dan menangis tersedu-sedu. Demikian juga para tetanggga nenek mulai berdatangan ke rumah itu, mereka semua datang dengan mata berkaca-kaca. Nenek mendekat. Dia terkejut melihat tubuhnya terbujur kaku dan tak berdaya terbaring di tikar itu. Dia menangis, lalu kemudian tersenyum.
“Terimakasih Tuhan, telah mengembalikan anak-anakku, meski aku bisa melihat      mereka dengan wujud yang berbeda.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar