Si Nenek
Kerentaannya
bukan lagi sebagai penghalang untuk menempuh jarak dua kilometer menuju pasar.
Dia membeli buah-buahan dan sayur bayam kesukaannya namun tak hendak membeli
ikan untuk lauknya siang ini. Dia duduk di sebelah Pak Tono si penjual
sayur-sayuran seperti sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian tampak dari
kejauhan ibu-ibu yang membawa bakul di atas kepalanya, sepertinya dia penjual
nasi keliling. Si nenek tersenyum melihat ibu itu mendekat. Ternyata penjual
itulah yang membuat nenek rela menunggu di tengah keramaian pasar.
“Kamu
kok lama sekali, nenek sudah lama menunggu”
“Ya ampun nenek,
kenapa harus menunggu saya? Kan ada penjual nasi yang lain nek?”
“Saya cuma mau masakan kamu! Ikan Arsik
masakanmu yang cocok di lidah nenek”
Demikian
si nenek setelah membeli ikan arsik kesukaannya dari Ibu Susi. Entah
mengapa si nenek akan dengan setia
menanti Ibu Susi setiap hari senin di pasar sementara masih banyak penjual
makanan di pasar juga di kampungnya.
Setibanya di rumah nenek merebus sayur dengan masakan seadanya dan
segera makan bersama dengan lauk yang dibelinya tadi. Seusai makan nenek duduk
termenung di depan rumah. Meratapi nasibnya yang sebatang kara. Reinhat anak
sulungnya yang sukses bekerja d perusahaan asing di Jepang sudah tujuh tahun
tak pernah pulang ke kampung halamannya. Bahkan Reinhat juga terkabar sudah
berkeluarga dan menikah di negeri orang tersebut. Sementara Sena putrinya yang
kedua, 4 tahun lalu pamitan merantau ke kota besar Jakarta hingga saat ini juga
tak ada kabar.
Tak
jarang ia menangisi kesebatangkaraannya
mengingat umurnya yang kian renta. Rasa takut selalu mengungkung sanubarinya
pabila dia membayangkan hari terakhirnya tak ada yang melihat. Dia takut pabila
nanti dia mulai sakit-sakitan dan tak seorangpun yang mengurusnya. Di tariknya
laci lemari dan mengambil satu lembar foto yang tampak lusuh dan tak berwarna
lagi. Pipinya berlinang air mata menatapi poto yang terlihat bersama kakek, dan
kedua anaknya di saat mereka masih kecil. Si kakek yang tlah lama meninggal
dunia dan meninggalkan nenek yang berjuang sendiri menyekolahkan Reinhat dan
Sena. Ditambah lagi kedua anaknya yang meninggalkannya dan tak pernah memberi
kabar. Hanya merapalkan doalah yang mampu menguatkan hatinya.
Nenek
menyeka air matanya dan menyimpan poto itu kembali ke laci lemari. Dia
membuatkan teh manis untuk dirinya sendiri dan menikmati tatapan senja di sore
hari dari teras rumahnya. Si nenek kemudian masuk ke rumah setelah menyadari
hari mulai gelap. Di sulutnya kayu bakar pada tungku perapian untuk memasak air
yang akan dimasukkannya ke dalam botol bekas. Botol itu akan diguling-gulingkannya
pada bagian tubuhnya yang nyeri. Kesebatangkaraannya membuat dia harus
melakukan apapun sendiri. Meski dengan tenaga seadanya, nenek harus memaksakan
dirinya mengerjakan segala sesuatunya sehingga tubuhnya yang ringkih sering
merasa nyeri.
Sekitar
pukul sembilan malam, nenek membaringkan tubuhnya pada tempat tidurnya. Dia
menatapi langit-langit rumah, dan lagi-lagi meneteslah air matanya. Setiap
malam air mata itu yang akan menjadi penghantar tidur sang nenek setelah
merapalkan doa. berharap Tuhan membukakan mata hati anak-anaknya agar mereka
kembali dalam pelukannya. Pelupuk matanya mulai letih, dan akhirnya si nenek
tertidur dengan air mata yang belum kering di pipinya.
Si
nenek tiba-tiba terbangun dari tidurnya mendengar hujan yang sangat deras
mengguyur gubuknya yang rentan terhadap hujan. Dia lekas berlari semampunya
kearah dapur untuk mengambil beberapa baskom untuk menampung air hujan yang
masuk ke dalam rumah, sebab atap rumah sudah banyak yang bocor. Dia kembali ke kamar
dan ternyata kamarnya pun sudah bocor tepat di atas tempat tidurnya. Nenek
menghembuskan nafas panjang, tak bisa berkata apa-apa lagi karena air hujan
sudah mengenai kasur, bantal juga selimutnya. Padahal nenek sudah sangat kedinginan dan
ingin segera berbaring dan kembali melanjutkan tidurnya. Nenek segera
mengambilkan tikar yang terletak di belakang pintu rumah dan tidur di luar
kamar hanya beralaskan tikar. Apa daya, selimut dan bantal hanya ada satu dan
itu semua sudah basah terkena air hujan. Setelah beberapa menit mencoba
memejamkan mata, tak jua bisa si nenek untuk tertidur, dingin merasuk hingga ke
persendiannya. Lalu teringat, di lemari masih ada satu sarung usang peninggalan
si kakek. Dengan gontai nenek berdiri lagi dan menuju kamar dan mengambil
sarung itu yang ternyata sudah banyak sobeknya.
“Hmmm,
tak apalah, paling tidak ini bisa memberiku sedikit kehangatan”.
Nenek
berujar demikian untuk menguatkan hatinya, meski sebenarnya baginya itu tak
cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang renta dan rentan terhadap dingin. Segera
dia keluar dari kamar, dan kembali membaringkan diri di tikar. Tanpa bantal,
dia mencoba tidur dan menyelimuti tubuhnya dengan sarung usang peninggalan si
kakek. Dia terlihat sangat nyenyak. Seketika itu dia bermimpi, Reinhat dan Sena
tiba-tiba saja pulang dari perantauan, bersama dengan cucunya yang lucu-lucu.
Dengan meneteskan air mata, nenek menangis bahagia. Si nenek bergegas keluar
menemui mereka di halaman rumah. Namun nenek berhenti di depan pintu. Dia heran
mengapa anak-anaknya tampak menangis, bukan menangis behagia seperti dirinya,
namun tampak sangat bersedih hati. Dilihatnya kedua anaknya berlari kencang
setelah turun dari mobil melintasi dirinya yang berdiri di depan pintu tanpa
memeluk atau sekedar menyalamnya. Si nenek menoleh ke belakang saat kedua
anaknya itu berhenti di tikar tempat dia tidur tadi. Mereka duduk dan menangis
tersedu-sedu. Demikian juga para tetanggga nenek mulai berdatangan ke rumah itu, mereka semua datang dengan mata
berkaca-kaca. Nenek mendekat. Dia terkejut melihat tubuhnya terbujur kaku dan
tak berdaya terbaring di tikar itu. Dia menangis, lalu kemudian tersenyum.
“Terimakasih
Tuhan, telah mengembalikan anak-anakku, meski aku bisa melihat mereka dengan wujud yang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar