Drama
Singkat
“Mengasihi
Tuhan dan Tidak Menjadi Hamba Uang”
(terinspirasi
dari kitab 1 Timotius 6:9-11)
By: Naomi Tampubolon
Prolog:
Sejak awal mula penciptaan dunia, Allah menciptakan segala sesuatunya dalam keanekaragaman dan perbedaan. Ada terang ada gelap, ada bulan dan bintang, aneka hewan didarat, di air dan di udara, juga tumbuhan di air dan di darat. Demikian juga dengan manusia, ada pria dan wanita, berbeda sifat dan anggota tubuhnya, dan perbedaan lainnya. Keanekaragaman itu adalah bentuk kemuliaan, keindahan dan kebesaran Tuhan. Namun kini… perbedaan bukan dipandang sebagai keindahan lagi. Manusia memberontak pada kebesaran Tuhan. Manusia menjadi sangat serakah satu dengan yang lain.
Sejak awal mula penciptaan dunia, Allah menciptakan segala sesuatunya dalam keanekaragaman dan perbedaan. Ada terang ada gelap, ada bulan dan bintang, aneka hewan didarat, di air dan di udara, juga tumbuhan di air dan di darat. Demikian juga dengan manusia, ada pria dan wanita, berbeda sifat dan anggota tubuhnya, dan perbedaan lainnya. Keanekaragaman itu adalah bentuk kemuliaan, keindahan dan kebesaran Tuhan. Namun kini… perbedaan bukan dipandang sebagai keindahan lagi. Manusia memberontak pada kebesaran Tuhan. Manusia menjadi sangat serakah satu dengan yang lain.
Jhon:
HAHAHAHA..! Hancurlah kalian. Dengan mudah persatuan kalian kami pecah belah.
Ben : HAHAHA! Betul. Hingga mereka benar-benar pecah. Maka kita mengambil langkah maju untuk menguasai Kota ini.
Ben : HAHAHA! Betul. Hingga mereka benar-benar pecah. Maka kita mengambil langkah maju untuk menguasai Kota ini.
(sementara para orang asing
meningkalkan panggung, masuk 4 orang yang berbeda suku dan Jabatan. Dan mereka
bertikai)
Batak:
Hei kau orang Cina! Tak letihkah kau menguasai pasar negeri ini. Dan tak
memberi sedikitpun ruang untuk kami pribumi untuk berkuasa?
Cina: Apa
kau bilang? Dasar olang-olang Batak berpikiran dangkal! Kalian semua pemalas! Begitu
suburnya lahan negeri ini kalian tidak manfaatkan. Kuasai saja sebangsamu yang
arogan itu!
Jawa: (dengan
lantang namun masih dengan aksen lembut) Tutup Mulut kalian orang-orang munafik!
Kalian ribut mempermasalahkan kekuasaan, uang uang dan uang! Apa kalian pernah berpikir
apa yang telah kalian perbuat bagi negeri ini?
(masyarakat
biasa kebetulan lewat membawa cangkul yang miris melihat pejabat-pejabat itu
bertikai)
Masyarakat Biasa 1: (dengan
nada suara lembut) kalian semua itu sama saja. Kalian mengumpulkan pundi-pundi
kekayaan. Sementara kami, berpeluh sepanjang hari untuk memenuhi kebutuhan
hidup. Tidakkah kalian sadar bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta
uang.
Masyarakat Biasa 2: yah.
Kasihanilah kami wahai wakil-wakil rakyat. Kami memilih kalian bukan untuk menguras
peluh kami hingga tak bersisa.
Cina: beraninya
kalian olang-olang tolol menilai kami. Pergi kalian! (mendorong keras 2 masyarakat biasa itu)
( semua pemain meninggalkan
panggung)
Keesokan harinya, salah
seorang masyarakat ke kebun, kebunnya telah diserang hama.
Masyarakat biasa 2: Bagaimana ini, seluruh ladangku di serang hama. Tak ada satupun yang layak untuk diolah dan dijual. Hu..hu..hu (menangis sambil terduduk)
(petinggi yang bersuku Batak
kebetulan lewat)
Batak:
waaaaah. Ini bahaya. Bagaimana bila ladangmu saya beli. Dan saya akan
mendirikan pabrik di tanah ini. Sehingga semua hasil panen di desa ini semuanya, di olah di pabrik saya.
Masyarakat
biasa 2: lalu, bagaimana dengan keluargaku? Kami bergantung pada
hasil ladangku untuk hidup..
Batak
: haaaah!
Miskin aja belagu kali kau . Kamu bisa kerja di pabrik saya nanti!
Masyarakat
biasa 2: tidak.. saya tidak akan menjual ladang ini..
Batak
: (mendorong
pundak masyarakat tersebut hingga terjatuh) haaaah! Besok saya akan mengurus
semuanya hingga ladang ini menjadi milik sayaa!.
Masyarakat
biasa 2: Tuhan… dimanakah engkau? Kasihani kami dan lindungi kami
dari pada orang-orang jahat itu.
Di tempat lain…
Jhon:
lihat! Hahahaha. Betapa bodohnya mereka. Mereka berpijak pada negeri yang sama.
Hanya dibedakan oleh ras, suku dan keyakinan saja. Tapi mereka berlomba untuk
berkuasa dan menindas yang lemah!
Ben:
hahaha. Benar Jhon. Mereka masing-masing memiliki agama. Tapi sama sekali tak
tau makna dari agama yang mereka anut.
Jawa:
apa yang tengah kalian perbincangkan? Siapa kalian?
Batak: dan
siapa yang kalian katakan bodoh, ha?
Jhon:
hahaha. Ternyata selain penjilat, kalian juga gemar menguping.
Ben:
tentu kalian semua yang kami sebut bodoh. Bangsa yang gemar menindas orang
lemah dan tak segan-segan saling bertikai untuk menduduki kekuasaan!
Jhon:
benar! Kalian pergi beribadah kepada dewa lah, kepada Tuhan manapun itu! Namun tak
sedikitpun kalian mencerminkan kalian makhluk bertuhan!
Ben:
ya. Kalian keji. Tuhan mana yang mengajarkan kalian untuk bertikai satu sama
lain dan menindas yang lain?
Cina:
hayaa! Diam kalian olang-olang asing. Tentu kami punya Tuhan. Tuhan kami
memberi kami kepintaran sehingga bisa menjadi pemimpin di negeri ini!
Jhon: apa? Kami yang akan
menguasai orang-orang bodoh ini dan segala kekayaan alamnya! Kalian tidak
pantas!
Ben: haha
manusia-manusia TOLOL!!!
Tiba-tiba suara
gemuruh terdengar (bisa dibuat melalui suara keyboard pemusik, lalu 1 orang
dibelakang panggung membuat suara Tuhan) saat suara gemuruh dimainkan, semua
yang dipanggung memasang muka bingung dan ketakutan)
Tuhan: Kalian yang ingin
kaya terjatuh ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang
menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan!!
(Masyarakat biasa
1&2 memasuki panggung dengan wajah kalut bercampur bahagia)
Masyarakat biasa 1: Tuhaaaan! Engkaukah itu?
Masyarakat biasa 2: Tuhaaan… janganlah
engkau murka kepada kami makhluk yang berdosa ini. Ampuni.. ampuni kamiii
Jhon: benarkah itu Tuhan? Adakah
Tuhan?
Batak: Yaaaa Tuhann
ampunilah kamiii. Hamba berdosa. Kami telah berdosa.
(suara gemuruh semakin
kencang, dan semua orang memasang wajah mencekam)
TUHAN: siapa menindas orang
yang lemah, menghina penciptanya. Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang
ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi, maka kasih akan Bapa tidak ada di
dalam orang itu.
Demikianlah kehidupan
manusia yang semakin digerus oleh perkembangan zaman. Menjadi hamba uang dan
melakukan hal yang tidah disukai oleh Tuhan. Sebab Tuhan adalah kasih dan
takkan henti memaafkan orang-orang berdosa. Baik engkau kaya ataupun miskin,
tidak menjadikan engkau indah apabila hatimu penuh dengan kejahatan. Hati yang penuh
kasih menjadi persembahan berharga untuk memuliakan nama Tuhan.
(semua pemain
bergandengan tangan dan menyanyikan lagu “kasih itu lemah lembut”)
Semoga bermanfaat J
God bless us.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar