Kamis, 03 November 2016

Naskah Drama Natal

Drama Singkat  
“Mengasihi Tuhan dan Tidak Menjadi Hamba Uang”
(terinspirasi dari kitab 1 Timotius 6:9-11)
By: Naomi Tampubolon
Prolog:
Sejak awal mula penciptaan dunia, Allah menciptakan segala sesuatunya dalam keanekaragaman dan perbedaan. Ada terang ada gelap, ada bulan dan bintang, aneka hewan didarat, di air dan di udara, juga tumbuhan di air dan di darat. Demikian juga dengan manusia, ada pria dan wanita, berbeda sifat dan anggota tubuhnya, dan perbedaan lainnya. Keanekaragaman itu adalah bentuk kemuliaan, keindahan dan kebesaran Tuhan. Namun kini… perbedaan bukan dipandang sebagai keindahan lagi. Manusia memberontak pada kebesaran Tuhan. Manusia menjadi sangat serakah satu dengan yang lain.

Jhon: HAHAHAHA..! Hancurlah kalian. Dengan mudah persatuan kalian kami pecah belah.
Ben : HAHAHA! Betul. Hingga mereka benar-benar pecah. Maka kita mengambil langkah maju untuk menguasai  Kota ini.
(sementara para orang asing meningkalkan panggung, masuk 4 orang yang berbeda suku dan Jabatan. Dan mereka bertikai)
Batak: Hei kau orang Cina! Tak letihkah kau menguasai pasar negeri ini. Dan tak memberi sedikitpun ruang untuk kami pribumi untuk berkuasa?
Cina: Apa kau bilang? Dasar olang-olang Batak berpikiran dangkal! Kalian semua pemalas! Begitu suburnya lahan negeri ini kalian tidak manfaatkan. Kuasai saja sebangsamu yang arogan itu!
Jawa: (dengan lantang namun masih dengan aksen lembut) Tutup Mulut kalian orang-orang munafik! Kalian ribut mempermasalahkan kekuasaan, uang uang dan uang! Apa kalian pernah berpikir apa yang telah kalian perbuat bagi negeri ini?
(masyarakat biasa kebetulan lewat membawa cangkul yang miris melihat pejabat-pejabat itu bertikai)
Masyarakat Biasa 1: (dengan nada suara lembut) kalian semua itu sama saja. Kalian mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. Sementara kami, berpeluh sepanjang hari untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidakkah kalian sadar bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta uang.
Masyarakat Biasa 2: yah. Kasihanilah kami wahai wakil-wakil rakyat. Kami memilih kalian bukan untuk menguras peluh kami hingga tak bersisa.
Cina: beraninya kalian olang-olang tolol menilai kami. Pergi kalian!  (mendorong keras  2 masyarakat biasa itu)
( semua pemain meninggalkan panggung)
Keesokan harinya, salah seorang masyarakat ke kebun, kebunnya telah diserang hama.

Masyarakat biasa 2: Bagaimana ini, seluruh ladangku di serang hama. Tak ada satupun yang layak untuk diolah dan dijual. Hu..hu..hu (menangis sambil terduduk)
(petinggi yang bersuku Batak kebetulan lewat)
Batak: waaaaah. Ini bahaya. Bagaimana bila ladangmu saya beli. Dan saya akan mendirikan pabrik di tanah ini. Sehingga semua hasil panen di desa  ini semuanya, di olah di pabrik saya.
Masyarakat biasa 2: lalu, bagaimana dengan keluargaku? Kami bergantung pada hasil ladangku untuk hidup..
Batak : haaaah! Miskin aja belagu kali kau . Kamu bisa kerja di pabrik saya nanti!
Masyarakat biasa 2: tidak.. saya tidak akan menjual ladang ini..
Batak : (mendorong pundak masyarakat tersebut hingga terjatuh) haaaah! Besok saya akan mengurus semuanya hingga ladang ini menjadi milik sayaa!.
Masyarakat biasa 2: Tuhan… dimanakah engkau? Kasihani kami dan lindungi kami dari pada orang-orang jahat itu.

Di tempat lain…
Jhon: lihat! Hahahaha. Betapa bodohnya mereka. Mereka berpijak pada negeri yang sama. Hanya dibedakan oleh ras, suku dan keyakinan saja. Tapi mereka berlomba untuk berkuasa dan menindas yang lemah!
Ben: hahaha. Benar Jhon. Mereka masing-masing memiliki agama. Tapi sama sekali tak tau makna dari agama yang mereka anut.
Jawa: apa yang tengah kalian perbincangkan? Siapa kalian?
Batak: dan siapa yang kalian katakan bodoh, ha?
Jhon: hahaha. Ternyata selain penjilat, kalian juga gemar menguping.
Ben: tentu kalian semua yang kami sebut bodoh. Bangsa yang gemar menindas orang lemah dan tak segan-segan saling bertikai untuk menduduki kekuasaan!
Jhon: benar! Kalian pergi beribadah kepada dewa lah, kepada Tuhan manapun itu! Namun tak sedikitpun kalian mencerminkan kalian makhluk bertuhan!
Ben: ya. Kalian keji. Tuhan mana yang mengajarkan kalian untuk bertikai satu sama lain dan menindas yang lain?
Cina: hayaa! Diam kalian olang-olang asing. Tentu kami punya Tuhan. Tuhan kami memberi kami kepintaran sehingga bisa menjadi pemimpin di negeri ini!
Jhon: apa? Kami yang akan menguasai orang-orang bodoh ini dan segala kekayaan alamnya! Kalian tidak pantas!
Ben: haha manusia-manusia TOLOL!!!

Tiba-tiba suara gemuruh terdengar (bisa dibuat melalui suara keyboard pemusik, lalu 1 orang dibelakang panggung membuat suara Tuhan) saat suara gemuruh dimainkan, semua yang dipanggung memasang muka bingung dan ketakutan)

Tuhan: Kalian yang ingin kaya terjatuh ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan!!
(Masyarakat biasa 1&2 memasuki panggung dengan wajah kalut bercampur bahagia)

Masyarakat biasa 1: Tuhaaaan! Engkaukah itu?
Masyarakat biasa 2: Tuhaaan… janganlah engkau murka kepada kami makhluk yang berdosa ini. Ampuni.. ampuni kamiii

Jhon: benarkah itu Tuhan? Adakah Tuhan?
Batak: Yaaaa Tuhann ampunilah kamiii. Hamba berdosa. Kami telah berdosa.
(suara gemuruh semakin kencang, dan semua orang memasang wajah mencekam)

TUHAN: siapa menindas orang yang lemah, menghina penciptanya. Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
Demikianlah kehidupan manusia yang semakin digerus oleh perkembangan zaman. Menjadi hamba uang dan melakukan hal yang tidah disukai oleh Tuhan. Sebab Tuhan adalah kasih dan takkan henti memaafkan orang-orang berdosa. Baik engkau kaya ataupun miskin, tidak menjadikan engkau indah apabila hatimu penuh dengan kejahatan. Hati yang penuh kasih menjadi persembahan berharga untuk memuliakan nama Tuhan.

(semua pemain bergandengan tangan dan menyanyikan lagu “kasih itu lemah lembut”)
Semoga bermanfaat J God bless us.

Rabu, 02 November 2016

CERPEN

Si Nenek

Kerentaannya bukan lagi sebagai penghalang untuk menempuh jarak dua kilometer menuju pasar. Dia membeli buah-buahan dan sayur bayam kesukaannya namun tak hendak membeli ikan untuk lauknya siang ini. Dia duduk di sebelah Pak Tono si penjual sayur-sayuran seperti sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian tampak dari kejauhan ibu-ibu yang membawa bakul di atas kepalanya, sepertinya dia penjual nasi keliling. Si nenek tersenyum melihat ibu itu mendekat. Ternyata penjual itulah yang membuat nenek rela menunggu di tengah keramaian pasar.

“Kamu kok lama sekali, nenek sudah lama menunggu”
“Ya ampun nenek, kenapa harus menunggu saya? Kan ada penjual nasi yang lain nek?”
“Saya cuma mau masakan kamu! Ikan Arsik masakanmu yang cocok di lidah nenek”
Demikian si nenek setelah membeli ikan arsik kesukaannya dari Ibu Susi. Entah mengapa  si nenek akan dengan setia menanti Ibu Susi setiap hari senin di pasar sementara masih banyak penjual makanan di pasar juga di kampungnya.  
Setibanya di rumah nenek merebus sayur dengan masakan seadanya dan segera makan bersama dengan lauk yang dibelinya tadi. Seusai makan nenek duduk termenung di depan rumah. Meratapi nasibnya yang sebatang kara. Reinhat anak sulungnya yang sukses bekerja d perusahaan asing di Jepang sudah tujuh tahun tak pernah pulang ke kampung halamannya. Bahkan Reinhat juga terkabar sudah berkeluarga dan menikah di negeri orang tersebut. Sementara Sena putrinya yang kedua, 4 tahun lalu pamitan merantau ke kota besar Jakarta hingga saat ini juga tak ada kabar.
Tak jarang ia  menangisi kesebatangkaraannya mengingat umurnya yang kian renta. Rasa takut selalu mengungkung sanubarinya pabila dia membayangkan hari terakhirnya tak ada yang melihat. Dia takut pabila nanti dia mulai sakit-sakitan dan tak seorangpun yang mengurusnya. Di tariknya laci lemari dan mengambil satu lembar foto yang tampak lusuh dan tak berwarna lagi. Pipinya berlinang air mata menatapi poto yang terlihat bersama kakek, dan kedua anaknya di saat mereka masih kecil. Si kakek yang tlah lama meninggal dunia dan meninggalkan nenek yang berjuang sendiri menyekolahkan Reinhat dan Sena. Ditambah lagi kedua anaknya yang meninggalkannya dan tak pernah memberi kabar. Hanya merapalkan doalah yang mampu menguatkan hatinya.
Nenek menyeka air matanya dan menyimpan poto itu kembali ke laci lemari. Dia membuatkan teh manis untuk dirinya sendiri dan menikmati tatapan senja di sore hari dari teras rumahnya. Si nenek kemudian masuk ke rumah setelah menyadari hari mulai gelap. Di sulutnya kayu bakar pada tungku perapian untuk memasak air yang akan dimasukkannya ke dalam botol bekas. Botol itu akan diguling-gulingkannya pada bagian tubuhnya yang nyeri. Kesebatangkaraannya membuat dia harus melakukan apapun sendiri. Meski dengan tenaga seadanya, nenek harus memaksakan dirinya mengerjakan segala sesuatunya sehingga tubuhnya yang ringkih sering merasa nyeri.
Sekitar pukul sembilan malam, nenek membaringkan tubuhnya pada tempat tidurnya. Dia menatapi langit-langit rumah, dan lagi-lagi meneteslah air matanya. Setiap malam air mata itu yang akan menjadi penghantar tidur sang nenek setelah merapalkan doa. berharap Tuhan membukakan mata hati anak-anaknya agar mereka kembali dalam pelukannya. Pelupuk matanya mulai letih, dan akhirnya si nenek tertidur dengan air mata yang belum kering di pipinya.
Si nenek tiba-tiba terbangun dari tidurnya mendengar hujan yang sangat deras mengguyur gubuknya yang rentan terhadap hujan. Dia lekas berlari semampunya kearah dapur untuk mengambil beberapa baskom untuk menampung air hujan yang masuk ke dalam rumah, sebab atap rumah sudah banyak yang bocor. Dia kembali ke kamar dan ternyata kamarnya pun sudah bocor tepat di atas tempat tidurnya. Nenek menghembuskan nafas panjang, tak bisa berkata apa-apa lagi karena air hujan sudah mengenai kasur, bantal juga selimutnya.  Padahal nenek sudah sangat kedinginan dan ingin segera berbaring dan kembali melanjutkan tidurnya. Nenek segera mengambilkan tikar yang terletak di belakang pintu rumah dan tidur di luar kamar hanya beralaskan tikar. Apa daya, selimut dan bantal hanya ada satu dan itu semua sudah basah terkena air hujan. Setelah beberapa menit mencoba memejamkan mata, tak jua bisa si nenek untuk tertidur, dingin merasuk hingga ke persendiannya. Lalu teringat, di lemari masih ada satu sarung usang peninggalan si kakek. Dengan gontai nenek berdiri lagi dan menuju kamar dan mengambil sarung itu yang ternyata sudah banyak sobeknya.
“Hmmm, tak apalah, paling tidak ini bisa memberiku sedikit kehangatan”.
Nenek berujar demikian untuk menguatkan hatinya, meski sebenarnya baginya itu tak cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang renta dan rentan terhadap dingin. Segera dia keluar dari kamar, dan kembali membaringkan diri di tikar. Tanpa bantal, dia mencoba tidur dan menyelimuti tubuhnya dengan sarung usang peninggalan si kakek. Dia terlihat sangat nyenyak.  Seketika itu dia bermimpi, Reinhat dan Sena tiba-tiba saja pulang dari perantauan, bersama dengan cucunya yang lucu-lucu. Dengan meneteskan air mata, nenek menangis bahagia. Si nenek bergegas keluar menemui mereka di halaman rumah. Namun nenek berhenti di depan pintu. Dia heran mengapa anak-anaknya tampak menangis, bukan menangis behagia seperti dirinya, namun tampak sangat bersedih hati. Dilihatnya kedua anaknya berlari kencang setelah turun dari mobil melintasi dirinya yang berdiri di depan pintu tanpa memeluk atau sekedar menyalamnya. Si nenek menoleh ke belakang saat kedua anaknya itu berhenti di tikar tempat dia tidur tadi. Mereka duduk dan menangis tersedu-sedu. Demikian juga para tetanggga nenek mulai berdatangan ke rumah itu, mereka semua datang dengan mata berkaca-kaca. Nenek mendekat. Dia terkejut melihat tubuhnya terbujur kaku dan tak berdaya terbaring di tikar itu. Dia menangis, lalu kemudian tersenyum.
“Terimakasih Tuhan, telah mengembalikan anak-anakku, meski aku bisa melihat      mereka dengan wujud yang berbeda.


Pemandangan Indah, Balige Tempatnya.

    Balige merupakan ibu kota Kabupaten Tobasa, yang memiliki panorama pantai (bagian dari danau Toba) yang indah.  Di Balige, banyak hal dan tempat menarik yang bisa kamu dapatkan. Beberapa diantaranya yaitu Museum TB Silalahi, Tara Bunga, Pantai Lumban Bulbul, dll. Namun kini, yang paling prioritas adalah desa yang bernama Lumban Bulbul yang memamerkan pantainya, yang merupakan daerah tujuan wisata, terletak di tepi Danau Toba dan dikelilingi oleh pebukitan. Terutama pada akhir pekan mulai dari siang hari hingga petang pantai ini dibanjiri oleh pengunjung.

Selain Lumban Bulbul, Lumban Silintong adalah objek wisata yang ramai pada hari minggu dan hari libur, di mana pengunjung juga bisa mandi di danau dan menyantap ikan mas bakar di kafé-kafé yang berada disekitar desa. Dan tidak usah takut kalau tidak membawa banyak duit. Makanan disana tidak terlalu menguras isi dompet, namun rasa juga tidak akan mengecewakan.
gaya tata ruang dari setiap kafe di Lumban Silintong juga sangat beragam dan menarik, sehingga cocok dijadikan sebagai tempat berkumpul bersama keluarga, maupun bersama teman-teman. Yang lebih menariknya lagi, sembari menyantap makanan yang dipesan, kita ditemani oleh angin sepoi-sepoi serta dimanjakan oleh pemandangan air danau dengan ombak-ombak kecilnya. Apabila Yogyakarta dengan Candi Borobudur, Jakarta dengan Dufan, Bali dengan Pantai Kuta, maka Balige dengan pantai Lumban Silintong.
Untuk bisa berkunjung dan bersenang-senang di Lumban Silintong, harus membawa kendaraan pribadi atau sewaan. Karena belum ada kendaraan umum yang sampai kesana. Sehingga, kalau kamu tidak punya motor atau mobil untuk bepergian ke sana, maka kamu harus menyewa bus bila perginya rombongan, atau kalau bepergiannya sendiri dan  berdua, bisa menggunakan  becak. Sebab kalau menuju Lumban Silintong dengan jalan kaki, yang ada kaki keram, badan juga akan sangat letih. Atau, kamu bisa menginap di hotel yang ada disana. Sehingga, selain dekat dengan tempat wisatanya, kamu tidak akan capek mencari kendaraan umum lagi.
Terbentangnya persawahan hijau milik penduduk setempat, menambah keindahan sebelum mencapai Lumban Silintong. Pengunjung juga dapat dengan bebas memandang jajaran bukit barisan, dan menghirup udara sejuk dan segar yang akan menyegarkan pikiran. Selain berupa pemandangan danau dan pebukitan yang indah, disana juga merupakan tempat untuk memancing ikan. Biasanya, pengunjung ataupun penduduk setempat menghabiskan waktu berjam-jam di sore hari di pinggiran danau untuk memancing ikan. Sayangnya, tempat khusus penyewaan pancing belum ada, sehingga pengunjung yang berminat harus membawa pancingnya masing-masing.
 Hal lain yang paling menarik dari Desa Lumban Silintong, selain berenang dan memancing, yaitu traking menyusuri keindahan alam menuju Huta Ginjang. Untuk memperoleh layanan perjalanan ini, kamu bisa meminta bantuan pemuda setempat sebagai pemandu kamu. Selama menyusuri perjalanan ke sana, tantangannya adalah melewati jalanan setapak berumput bahkan berduri dan banyak pepohonan. Namun, bila sudah sampai di sana, maka letihmu akan terbayarkan. Pada pagi hari saat matahari terbit serta sore hari saat matahari terbenamnya matahari, dari sini dapat dilihat hamparan Danau Toba dan Pulau Samosir yang diselimuti oleh embun tipis. Dahulu, Lumban Silintong ini hanyalah sebatas tempat wisata yang apa adanya tanpa pengindahan lokasinya. Namun sekarang, tempat duduk disepanjang pinggiran danau toba sudah disediakan pemerintah. Sehingga, siapapun yang lewat bisa singgah menikmati keindahan danau toba tanpa harus memeriksa isi kantong dulu untuk duduk di rumah makan atau kafe di sekitar danau. Saat menyusuri sepanjang jalan desa Lumban Silintong di sore hari, kita juga akan menemui sekumpulan kerbau yang dihalau gembalanya pulang. Suasana pedesaan seperti ini bisa menjadi alasan bagi setiap orang yang selalu sibuk di kota untuk menenangkan pikiran dari segala kesibukan.

@lumbansilintong

Ada satu tempat yang dinamakan “pagoda” di Lumban Silingtong. Pagoda tersebut adalah sebuah bukit yang bisa dinaiki dari pinggir jalan. Tidak usah takut letih, bukit yang dimaksudkan disini bukan setinggi yang anda maksud. Mendaki sekitar ketinggian 8 meter, kita sudah bisa duduk bersilah di atasny dengan hamparan rumput nan hijau sembari menatap hamparan danau toba, kapal-kapal yang sedang berlabuh dari jauh, dan pebukitan yang mengelilinginya. Bila kamu tertarik, kamu bisa mencari buah kecil yang dinamakan “harimonting” disana. Harimonting adalah buah berbiji di tanah batak yang paling digemari anak-anak. Disamping rasanya yang manis, saat mencari buahnya adalah suatu hal yang sangat menyenangkan. Anda tinggal mencari pohon pendek berdaun kecil,  yang tingginya sekitar setengah meter, dan buahnya lonjong berukuran seperti ceri. Dan untuk mendapatkan buahnya, bukan hal yang mudah. Dari sekian pohon yang berbuah, kamu harus memilih yang berwarna merah ranum dan lembek. Jika buahnya masih berwarna kemerah-merahan dan keras, itu tidak enak rasanya. Menarik bukan?
Setelah letih mencari buah harimonting tersebut, turun dari bukit pagoda dan duduk di salah satu kafe adalah salah satu pilihan. Kamupun bisa memesan makanan dan minuman yang kamu suka, bila perut sudah minta diisi. Dan hal yang perlu kamu ingat saat memesan minuman jus yaitu, bila kamu ingin jusnya dingin (pake es) jangan lupa untuk menyebutnya pake es kepada pemilik warung/kafenya. Karena bila kamu yang terbiasa di kota memperoleh jus dalam keadaan dingin bila memesan jus, maka di sini berbeda. Hal ini dikarenakan Balige adalah kota bercuaca dingin. Maka, saat kamu hanya memesan dengan sebutan jus saja meskipun itu di siang bolong, jus yang sampai di depan kamu hanyalah jus biasa tanpa es.
Salah satu kafe disekitar Lumban Silintong juga ada yang menyediakan kolam renang terbuka. Dimana kolam tersebut bersentuhan langsung dengan air danau. Namun air di dalam kolam adalah air saluran bersih, bukan air yang langsung dari danau. Hal ini menjadi sebuah seuasana berenang yang baru bagi kamu, yaitu berenang di dalam kolam dan menatap langsung danau di depan kamu. Tapi jangan berenang terlalu lama ya, karena badan kamu akan menggigil.
Kalau kamu datang beramai-ramai ke Lumban Silintong, maka pintar-pintarlah memilih tempat. Disepanjang daerah pantai, banyak kafe dan rumah makan yang tersedia. Namun, kamu juga harus pandai memilih tempat yang sesuai dengan yang kamu inginkan dan kamu butuhkan. Di pertengan wilayah Lumban Silintong, kamu bisa mengunjungi kafe yang di daerah pantainya adalah tempat piknik bersama keluarga atau teman-teman. Kamu bisa memasang tikar piknik di pinggiran danau yang terlindungi pepohonan rindang. Memesan ikan mentah dan memanggang ikan sendiri adalah pilihan terbaik. Suasana ramai sembari “bakar-bakar ikan” ditemani udara pantai yang sepoi-sepoi adalah pilihan tepat untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu kebersamaan.

@pantai lumbanbulbul Balige

Mayoritas penduduk lumbanbulbul ataupun Lumban Silintong bekerja sebagai nelayan. Sehingga bila kamu tengah berkunjung ke salah satu kafe yang ada disana pada sore hari maka perahu yang belum dipakai bisa digunakan sebagai objek poto kamu sedangkan pada malam hari, maka kamu akan menjumpai beberapa nelayan yang menggunakan perahu untuk menebar jala untuk menangkap ikan. Pada malam hari juga, nuansa danau yang berombak kecil dengan angin malam yang dingin adalah suatu hal yang harus dirasakan saat berkunjung ke sini. Jika kamu berencana untuk mennelusuri dan bersantai ria di Lumban Silintong tersebut hingga malam,  jangan coba-coba keluar tanpa membawa jaket. Dari terbenamnya matahari, cuaca disini sangatlah dingin, meskipun di siang hari sangat panas. Sehingga, bila kamu keluar dan menikmati pemandangan hingga malam hari maka bersiap-siaplah untuk menggigil.
            Selain melihat panorama danau di malam hari yang dingin, biasanya kamu akan mendengarkan lagu-lagu khas batak yang dinyanyikan oleh penyanyi kafe. Kemudian, dari tempat duduk kamu yang berhadapan dengan danau, kamu bisa menatap jauh kota balige yang bercahaya di malam hari. Riak-riak air danau yang berombak kecil akan membuat kamu terbawa suasana bila ketepatan kamu duduk dan makan berdua dengan pasangan. Duduk di meja berlilin, ditemani oleh angin malam berhembus akan menjadi suasana romantis yang mengesankan.
            Berlibur dan berkunjung ke Lumban Silintong adalah hal yang harus di coba. Terutama bagi kamu yang selama ini sibuk dengan hiruk-pikuk kota yang sesak oleh polusi dimana-mana. Menyegarkan pikiran, serta menikmati nuansa desa yang asri dan berudara segar, maka disinilah tempatnya. Dan yang menjadi daya tarik, meski Lumban Silintong adalah primadona, kamu bisa bepergian ke tempat wisata lainnya. Sebab Balige mempunyai benyak tempat yang bisa kamu kunjungi, yang belum tentu bisa kamu dapatkan di kota lain. Selain dari biayanya yang tidak terlalu mahal, keindahan yang ditawarkan juga memanjakan mata dan pikiran.
             
           
           
           
           









Rabu, 19 Oktober 2016

Pengaruh Jurnalistik Media terhadap Politik dan Kebudayaan yang Turut Berkembang di Zaman Globalisasi



Jurnalistik atau journalisme berasal dari kata journal, yang artinya catatan harian, catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga diartikan sebagai surat kabar. Journal berasal dari bahasa latin “diurnalis” yang artinya harian atau tiap hari. Jadi, jurnalistik dapat diartikan menghimpun catatan (surat kabar) setiap hari.
Jurnalistik pada jaman dahulu hanya dipahami sebagai publikasi lewat media cetak. Namun sekarang telah muncul media elektronik berupa radio dan televisi bahkan diperoleh secara tersambung yang dikenal dengan media online. Jika pada zaman dahulu kita harus mencari-cari koran jika ingin mendapatkan berita, namun kini kita bisa membacanya lewat internet (online). Dengan demikian, kapanpun dan dimanapun kita dapat memperoleh informasi yang kita butuhkan. Hal ini menunjukkan, seiring berkembangnya teknologi turut memberi pengaruh terhadap berkembangnya dunia jurnalistik
Globalisasi dan Politik Dunia Maya
Pada era globalisasi saat ini, media massa sangat mudah diakses dan telah mempengaruhi hubungan sosial di masyarakat. Melalui media yang sangat terbuka dan mudah terjangkau, masyarakat menerima berbagai informasi tentang peradaban baru dari seluruh penjuru dunia. Misalnya, gaya berpakaian dan bergaul mereka yang terkesan modern. Sementara Indonesia memiliki aturan dan etika tersendiri tentang gaya berpakaian dan pergaulan. Dalam hal ini, media massa-lah yang menyebarluaskan dengan cepat segala informasi tersebut sehingga banyak masyarakat yang menangkap informasi tersebut tanpa disaring sehingga mempengaruhi gaya hidupnya
Selain berpengaruh terhadap keadaan sosial, namun keadaan politik juga seakan dipengaruhi oleh media jurnalistik pada saat ini. Media sosial telah menjadi bagian dalam setiap kehidupan masyarakat termasuk ranah politik yang bisa dimanfaatkan untuk sarana komunikasi, mempromosikan diri, sosialisasi, termasuk promosi partai politik untuk membangun citra partai. Pemanfaatan media sosial untuk berpolitik biasanya akan terlihat ketika akan diselenggarakannya pemilu untuk kampanye politik.
Di satu sisi, dunia maya tersebut memberi wadah bagi para politikus untuk memperkenalkan diri dan misi-misi mereka kepada masyarakat luas. Dengan itu, masyarakat dapat mengenal calon pemimpinnya. Namun yang menjadi fenomena saat ini adalah beberapa media telah menjadi milik para politikus yang menjadikan persaingan di dunia politik tidak lagi seimbang. Keberuntungan seakan berpihak pada mereka yang memiliki media karena memiliki lebih banyak ruang dan waktu mempertontonkan segala hal yang mereka lakukan sebagai pencitraan kepada rakyatnya. Dengan demikian, masyarakat seakan terhipnotis oleh media yang menampilkan calon pemimpin tersebut. Lantas, calon pemimpin yang tidak memiliki media hanya diperkenalkan sepintas saja sementara pemimpin yang memiliki media seolah menjadi calon pemimpin yang lebih banyak berbuat bagi rakyatnya
Sebagai sarana pemberi hiburan dan informasi, berbagai media hendaknya bersifat objektif terhadap pemberitaan apapun. Sehingga, masyarakat sebagai pengguna media tidak serta merta menerima informasi yang hanya menguntungkan pihak tertentu. Si satu sisi, media harus menjadi alat yang membantu masyarakat untuk berpikir kritis dalam memilih para pemimpinnya. Semakin objektif sikap media dalam pemberitaan politik tentu semakin membantu masyarakat untuk memilih yang sesuai dengan suara hatinya.

 
Media Baru dan Kebudayaan
Media baru adalah media yang mempermudah proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia dari waktu ke waktu yang melibatkan teknologi terbaru diantaranya yaitu handphone, komputer, internet, dan social network. Media-media tersebut membawa suatu pola pikir dan sikap terhadap setiap individu ke dalam pola hidup yang serba instan namun efektif. Kemunculan media baru memberi berbagai kemudahan termasuk dalam pengolahan informasi, merangsang kreatifitas, dan berkomunikasi dan berbagi informasi dengan siapa saja dengan cepat. Namun dari beberapa dampak baik tersebut, lebih banyak dampak negatif yang telah merusak citra anak bangsa
Kebutuhan manusia akan teknologi yang semakin canggih seperti sudah tidak bisa dihindari lagi sehingga media baru telah menjadi dunia baru dalam kehidupan masyarakat. Interaksi sosial manusia juga melemah karena munculnya media baru yang semakin lama menjadikan masyarakat yang acuh dalam bersosialisasi
Teknologi informasi yang tumbuh berkembang saat ini telah menciptakan sebuah budaya baru dalam lingkup masyarakat yang lemah pada interaksi langsung (nyata) namun sangat aktif pada interaksi maya. Nilai-nilai dan norma dalam masyarakat saat ini seakan sangat memudar, seperti para remaja yang saat ini kerap menghabiskan waktu dengan gadget yang mengakibatkan hilangnya sikap bersosialisasi dan menjadi individualis
Media baru dapat membawa kembali nilai tradisional yang telah hilang, namun juga dapat merendahkan warisan budaya yang telah ada. Hal ini terjadi ketika segelintir orang terpengaruh pada budaya asing. Mulai dari gaya berpakaian, gaya berbicara yang kebarat-baratan, yang menjadikan budaya Indonesia seakan tidak menarik untuk dilestarikan. Selain itu, sikap konsumtif juga menjadi salah satu sikap yang diakibatkan oleh munculnya media baru. Hal ini dikarenakan banyaknya penjualan online yang menawarkan barang-barang menarik baik nasional maupun internasional yang berhasil memikat masyarakat
Untuk mencegah terbentuknya masyarakat yang individualis, konsumtif, dan kebarat-baratan, masyarakat hendaknya mampu menjadi individu yang selektif terhadap perkembangan zaman, kritis terhadap berbagai informasi yang diterima, dan cinta tanah air. Dengan demikian akan terbentuk masyarakat yang tangguh dan siap untuk menghadapi segala tantangan globalisasi yang menuntut masyarakat untuk lebih cerdas.

x

Rabu, 21 September 2016

Kisah dalam Sajak

Pabila dengan puisi, senjaku bisa kembali. Maka kala kelam, larik-larikku kan tetap bersuara.
Salam Pujangga!!

Tembikar Pilu
Dalam tembikar, bertanak piluku
bercampur dengan golak emosi yang kian mendidih
dengan langkah gontai, dengan lesu
ku tapaki jalan itu, jalan yang penuh duri
Meski duri itu melukai, kian menanah perih
menyiksaku dengan sakit yang teramat tak tertahankan
aku tetap melangkah, bersama mereka
yang tak berpaling, tak peduli dengan lukaku
Pun dengan sebelah mata kau bisa menatapku
mengapa kedua mata itu malah tak menoleh?
tak cukup letihkah engkau
bermuram durja dengan dunia angkuhmu
ahhhh.... sudahlah
kau tak akan peduli!

Kala Malam
Kala malam menghampiri dalam kerosak
bertemankan jangkrik yang meronta dengan nyaring
bersama cicak-cicak yang melata
di sela-sela dinding kamar yang tiada bergeming
sementara aku masih memejamkan mata
bukan tertidur, sayang
namun aku ingin berdamai dengan kelamnya malam
temaramnya hariku ingin kuhapuskan
layaknya cahaya bintang di luar sana
mengusir gelapnya malam
dan senantiasa, aku jua ingin becahaya

Tentang Senja
 Semburat senja menjelma
pada langit jingga yang membias sendu
apa gerangan jiwa yang tiada bergeming
rasanya.. senja ini asing bagiku
menerawang kisahku tak sempurna
kisahku yang menyepi, terpaku dan bisu
sungguh wahai senja.. hadirmu taburkan gundah
engkau pantulkan langitmu yg jingga
sedang jiwaku membiru oleh haru rindu
untuknya..!

Asa dan Rasa
 Jiwa mengaram..
bersemayam dalam tubuhku kian lama
merajut sesal yang bersimphoni haru
jika saja asaku terajut indah
akankah..
akankah rasa yang terikat rindu menyatu
jua mendayung lembut bersama riak rindu yang mencair
biarlah asa itu nyata dengan jalannya sendiri
dan biarkan rasaku tetap di sini
berdiam dengan apik dalam jiwaku
jiwa dengan ribuan harap




Selasa, 20 September 2016

KAJIAN SOSIOLOGI PENGARANG DALAM NOVEL WANITA BAIK UNTUK LELAKI BAIK KARYA TAUFIQURRAHMAN AL-AZIZY

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Karya sastra merupakan luapan spontan dari perasaan yang kuat, cermin emosi yang dikumpulkan oleh pengarang dalam keheningan mendalam, yang kemudian diolah dalam penciptaan melalui pemikiran. Dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai macam permasalahan sosial yang biasanya memberikan pengaruh dan tercermin didalam karya sastra. Permasalahan sosial dipengaruhi oleh adanya ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan. Sebagai anggota masyarakat, pengarang dengan sendirinya lebih berhasil untuk melukiskan msyarakat ditempat ia tinggal, lingkungan hidup yang benar-benar dialaminya secara nyata.
            Damono (1979:7) mengungkapkan bahwa seperti halnya sosiologi, sasta berurusan dengan manusia dalam masyarakat. Usaha manusia untuk menyelesaikan diri dan usahannya untuk merubah masyarakat itu. Hubungan manusia dengan keluargannya, lingkungannya, politik, negara, dan sebagainya. Dalam penelitian murni, jelas tampak bahwa novel berurusan dengan tekstur sosial, ekonomi dan politik yang juga menjadi urusan sosiologi. Novel menyusup, menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukan cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya.
            Sehubungan dengan pendapat di atas, Adisaputera, dkk (2015:49)  menyatakan bahwa apabila ditinjau dari segi sejarahnya, konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra dilukis oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan a silent being, makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam kehidupan empirik masyarakatnya. Dengan demikian, sastra juga dibentuk oleh masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam masyarakatnya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konteks sosial pengarang yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja
karya Achmad Munif.
2.      Bagaimanakah gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja
karya Achmad Munif.
3.      Bagaimanakah fungsi sosial dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.
C.     Tujuan
Tujuan yang akan dicapai dalam analisis ini adalah:
1.      Mendeskripsikan bagaimana konteks sosial pengarang yang tercermin dalam Novel
Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy.
2.      Mendeskripsikan bagaimanakah gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel
Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy.
3.      Mendeskripsikan bagaimanakah fungsi sosial dalam Novel Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy.
D.    Manfaat
1.      Analisis novel ini diharapkan dapat memberikan masukan pada perkembangan sastra khususnya pada analisis dengan pendekatan sosiologi sastra.
2.      Analisis novel ini juga dapat dijadikan bahan bacaan atau pegangan dalam melakukan penelitian berikutnya khususnya penelitian dengan pendekatan sosiologi sastra.



BAB II
PEMBAHASAN
            Wilayah sosiologi sastra cukup luas. Wellek dan Austin Warren (Adisaputera, dkk 2015:49) membagi telaah sosiologis menjadi tiga klasifikasi. Pertama, sosiologi pengarang, yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, ideologi politik, dan lain-lain yang menyangkut diri pengarang. Kedua, sosiologi karya sastra, yakni mempermasalahkan tentang suatu karya sastra. Yang menjadi pokok telaah adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya. Ketiga, sosiologi sastra yang mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.
            Semi dalam Renita, dkk (2013) berpendapat bahwa sastra merupakan media komunikasi yang mampu merekam gejolak hidup masyarakat, dan sastra mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat. Disisi lain, fenomena hidup dalam masyarakat merupakan sumber ide bagi pengarang dalam melahirkan karya sastra. Apa yang dirasakan dan apa yang diungkapkannya tidak hanya berasal dari diri pribadi melainkan perpaduan ide kreatif, imajinasi dan estetiknya dengan persoalan hidup yang ada dalam masyarakat. Apa yang terjadi di sekeliling pengarang akan menjadi bahan yang menarik untuk dimanifestasikan ke bentuk tulisan.
            Sosiologi sastra sendiri  disiplin ilmu dari pendekatan mimesis yang merupakan bagian dari pendekatan ektrinsik. Mimesis sendiri bertolak dari pemikiran yang sastra itu adalah hasil seni yang mencerminkan kehidupan nyata, merupakan tiruan atau pemaduan antara kenyataan dengan imajinasi pengarang. Disini saya mengkaji novel ‘Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy’ dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra.
A.    Sosiologi Pengarang
            Taufiqurrahman al-Azizy, lahir pada 9 Desember 1975. Asli orang Indonesia, tepatnya Jawa Tengah. Pernah nyantri di  Pesantren Ilmu al-Qur’an “Hidayatul Qur’an” yang diasuh oleh KH. Drs. Ahsin Wijaya al-Hafizh, M.A. Pernah pula kuliah di Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jawa Tengah. Namanya melejit setelah meluncurkan trilogi novel spiritual Makrifat Cinta, yang terdiri dari Syahadat Cinta(DIVA Press, 2006), Musafir Cinta (DIVA Press, 2007), dan Makrifat Cinta (DIVA Press, 2007). Novelnya setelah trilogi novel spiritual “Makrifat Cinta” yang juga telah beredar adalah Kitab Cinta Yusuf Zulaikha (DIVA Press, 2007) Munajat Cinta (DIVA Press, 2009), Jangan Biarkan Surau Ini Roboh (DIVA Press, 2009) Sahara Nainawa (DIVA Press, 2009), Kidung Shalawat Zaki dan Zulfa (DIVA Press, 2010), Alif (DIVA Press, 2011), Kecupan yang Sangat Dirindunya (DIVA Press, 2012), Rintihan dari Lembah Lebanon (DIVA Press, 2012), dan Lelaki yang Menggenggam Ayat-Ayat Tuhan (DIVA Press, 2012).
            Konteks sosial sastrawan ada hubungannya dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan karyanya. Dilihat dari kelahiran penulis yaitu dari daerah Jawa Tengah, penulis memberi penamaan tokoh yang berkaitan dengan sukunya yaitu: Sumirah, Neneng, Lawuk, Bu Suminah, Mbak Rohmah dan Mbah Kamiyem. Selain penamaan tokoh tersebut, latar tempat dalam novel tersebut pun berkaitan dengan latar belakang tempat kelahiran pengarang yaitu Temanggung, Wonosobo. Seperti yang diungkapkan oleh Sigalingging (2015:103) bahwa sebagai anggota masyarakat, penulis tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan sosial budaya, politik, keamanan, ekonomi, dan alam yang melingkupinya.
            Pada bagian pengantar novelnya, Al-Azizy menyatakan dengan gamblang “kisah yang saya tulis ini memang fiktif belaka, tetapi isi dan tema yang saya sajikan adalah nyata.” Penulis menyatakan bahwa novelnya merupakan transformasi dari pengalaman kehidupannya. Selain itu, penulis juga menyatakan bahwa yang menginspirasinya dalam penulisan novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik ini pun teringat dari isi firman.  
“Ibunya sangat kolot soal menantu ini, penginnya orang Jawa”
Kutipan tersebut sangatlah berkaitan dengan kehidupan pengarang yang berasal dari Jawa dan juga yang menyelesaikan studinya di Jawa. Pengarang tidak lepas dari pencitraan masyarakat Jawa di dalam penceritaan novelnya. Oleh karena pengarang juga merupakan bagian dari masyarakat dan hidup di tengah pola hidup dan kebudayaan masyarakat, tentu karya yang diciptakannya tak lepas dari sisi-sisi kemasyarakatan dalam kehidupannya yaitu lingkungan Jawa.
B.     Sosiologi  Karya Sastra
Pendekatan ini meninjau sampai sejauh mana sastra dapat mencerminkan keadaan social   masyarakat. Keadaan sosial tersebut dapat mencerminkan berbagai hal tentang masyarakat baik dari segi kehidupan dan mata pencaharian masyarakat, kisah cinta dan kesabaran dalam menjalani hidup, nilai moral, agama dan lain sebagainya.
1.      Penggambaran Pola Hidup Masyarakat
            Dalam novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik, digambarkan kehidupan masyarakat Temanggung yang  bekerja sebagai petani tembakau.
“telah puluhan bahkan ratusan tahun para orangtua sudah mengajarkan bakat bertani tembakau kepada anak-anak mereka.tanpa sekolah, tanpa kuliah, toh banyak warga yang  bisa membeli mobil-mobil mewah. (14)”
Hal tersebut memperjelas penggambaran kehidupan masyarakat yang di cantumkan ke dalam cerita novel. Bahwa masyarakat sudah memiliki persepsi kehidupan yang sama, yaitu mengajarkan kehidupan bertani yang merupakan sumber uang dan kehidupan masyarakat. Dalam novel tersebut pun digambarkan bahwa sekolah bukan sebagai hal yang penting. Mereka beranggapan bahwa sekolah adalah cara yang licik untuk menghabiskan uang orangtua.
            Selain itu,relasi yang erat masyarakaat paponan dengan tokoh yang bernama Koh Adi penganut budaya Cina yang tinggal di Indonesia. Hal ini memberi penggambaran dalam novel tentang hubungan masyarakat yang tidak hanya berhubungan dengan masyarakat sebudayanya, namun akrab juga dengan kebudayaan lain.
2.      Nilai Moral dan Kesantunan
Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Hal tersebut terlihat dalam kutipan:
“Kaum laki-laki yang menyelempangkan kain sarung dan perempuan-perempuan desa yang mengenakan baju tertutup rapat dengan mengenakan jaket, bahkan bila mereka berangkat ke ladang tembakau.(11)”
Selain itu, dalam novel Al-Azizy ini, kita dapat menemukan permasalahan nilai moral yang digambarkan oleh pemuda yang anarkis yang melakukan aksi demo untuk menuntut hak mereka yaitu Agung dan Lawuk beserta pemuda-pemuda kampung melakukan demo untuk menolak gerakan antirokok dan antitembakau yang digalakkan Pemerintah. Hal tersebut dikarenakan mereka menghawatirkan nasib kehidupan mereka yang bergantung pada pertanian tembakau di kampung(60).
            Dalam novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik inipun menggambarkan masalah sosial pemuda yang anarkis yang melakukan aksi demo untuk menuntut hak mereka. Dalam novel tersebut digambarkan tokoh Agung dan Lawuk beserta pemuda-pemuda kampung melakukan demo untuk menolak gerakan antirokok dan antitembakau yang digalakkan Pemerintah. Hal tersebut dikarenakan mereka menghawatirkan nasib kehidupan mereka yang bergantung pada pertanian tembakau di kampung.
“ Zina adalah perbuatan buruk yang sanagat dicela agama. Disebut sebagai fakhisyah dan jalan yang buruk untuk melampiaskan syahwat dan mendapatkan keturunan.(329)”
Dalam novel Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman ini memang berisi kisah percintaan yang berakhir menyedihkan oleh sebab perselingkuhan Yazid yang begitu sempurna di mata Sumirah gadis desa yang sangat baik. Selain mengemas cerita dengan kisah-kisah yang mengena di hati, pengarang juga banyak menuliskan ajaran-ajaran moral di sela-sela cerita, termasuk pesan moral dalam kutipan di atas.
3.      Nilai-Nilai Sosial dalam Kekeluargaan
Dalam kekeluargaan tentu memiliki nilai-nilai dalm kehidupan bermasyarakat. Dan nilai-nilai itu pun terdapat dalam novel karya Tauifqurrahman.
“Kita ini orang kecil nduk, tetapi kita tak boleh sembarangan dalam menjalin hubungan(27)”
pada kutipan ini, terlihat jelas pada lingkungan keluarga di masyarakat bahwa orangtua selalu mengharapkan yang terbaik untuk anaknya salah satunya yaitu untuk pendamping hidup yang diharapkan.
“Dan, dia ingat pesan neneknya. Dimanapun kau tinggal, jangan pernah melupakan adat dan sopan santunmu sebagai putri Jawa. Jangan pernah tinggalkan sopan santun itu, sebab sia akan menjadi penolongmu dimanapun kau berada.(188)”
Dalam kehidupan kekeluargaan yang tak lepas dari nasehat-nasehat, dalam tokoh Sumirah ini pengarang menanamkannya. Dimana sang tokoh memegang teguh segala ajaran yang didapatkannya  dalam keluarganya.  Seperti yang dinyatakan Renita, dkk (2013) dalam jurnalnya bahwa keluarga orang Jawa adalah merupakan keluarga dimana dikembangkan rasa kasihan, merasakan penderitaan orang lain, rasa tanggung jawab, dan perhatian terhadap sesama. Di mata orang Jawa, menjadi seorang masyarakat Jawa berarti menjadi manusia beradab, yang mengetahui bagaimana seharusnya bertingkah laku atau mengetahui tatanan Jawa.
“apa pun, yang penting kita ada penghasilan. Aku khawatir, keadaan tidak segera membaik, bu. Besok aku akan pergi ke kota. Siapa tahu aku bisa mengerjakan sesuatu yang menghasilkan uang.(68)”
Dalam kutipan di atas menunjukkan tanggung jawab seorang suami yang memang harus memenuhi nafkah istri dan anak-anaknya. Pengarang menggambarkan seorang suami sekaligus ayah yang berjuang demi menghidupkan keluarganya di saat sumber mata pencahariannya tak lagi ada. Selain ayah yang bertanggungjawab, pengarang juga menggambarkan tokoh Sumirah sebagai anak yang berbakti pada orang tuanya. Hal tersebut terlihat pada kutipan dibawah ini:
“Sumirah menggeleng. Pada detik selanjutnya, Sumirah memberanikan diri. Dia berkata kepada Bapaknya, Pak Bolehkah saya bekerja?(69)”
Pada novel tersebut menunjukkan seorang bunga desa yang bernama Sumirah sebagai bunga desa yang hidup dalam keluarga yang sederhana. Pada kutipan di atas menunjukkan dia sebagai anak yang berbakti sebab tak ingin melihat orangtuanya yang begitu pusing memikirkan pekerjaan dan uang yang disebabkan hilangnya sumber mata pencaharian kedua orangtuanya sebagai petani tambakau.
4.      Nilai Keagamaan
Kehidupan beragama juga terlihat pada cuplikan cerita novel, yang menggambarkan aktivitas tokoh yang sedang menunaikan ibadah sholat.
“didorong rasa penasaran yang teramat sangat, usai menjalankan shalat Zhuhur, Lawuk mendekati Agung yang tampak duduk merenung di depan masjid sembari memandang kejauhan.(61)”
Dalam novel Wanita Baik untuk Lekaki Baik tersebut pun menggambarkan tentang permasalahan sosial tentang tokkoh Agung yang bertato dan terkenal preman. Hal tersebut membuat persepsi warga bahwa penampilannya seburuk penampilannya. Namun, malah sebaliknya seorang berpenampilan layaknya preman tidak menutup kemungkinan bahwa akhlak dan perbuatannya malah lebih baik dari yang berpenampilan kalam. Agung menuntut ilmu agama. Dalam kehidupan kita juga masalah ini kerap terjadi. Kita memandang perilaku seseorang hanya dari tampilan luarnya saja. Dan setelah kita mengenal lebih jauh, ternyata kenyataannya berbeda.
5.      Penggambaran Sikap Wanita Baik dan Lelaki Baik dalam Masyarakat
Apabila pada kehidupan masyarakat jawa kita beranggapan bahwa seorang waanita Jawa hendaknya hidup sebagai wanita yang murah senyum dan ramah pada siapa saja, dalam hal ini, pengarang menggambarkan masalah sosial dalam harga diri wanita yang merupakan makhluk terhormat, bukan makhluk penggoda. Pengarang memberi penegasaan pada keindahan wanita yang hendaknya dijaga agar tetap indah dan berharga.
“Wanita harus sombong karena kesombongan itulah yang akan menjadikan dirinya terhormat di hadapan pria. Dalam kesombongan itu, harga dirinya ditambatkan(91).
Pengarang berpendapat lain, bahwa kehormatan dan keindahan wanita tidak selayaknya diumbar pada siapa saja. Melainkan lewat keosmbongan itulah wanita terjaga.
“Sumirah yang polos dan lugu tidak memiliki jiwanya sendiri. Sebab, kepada ayah dan ibunya itulah hati dan jiwanya terikat(26)”
Kutipan diatas menunjukkan sikap baik tokoh Sumirah yang sangat mematuhi orangtuanya. Dimana segala hal yang mencakup dirinya tidak dengan semena-mena mengambil keputusan sendiri secara egois. Namun semua hal akan dipertanyakan kepada kedua orangtuanya sebab keyakinannya, mereka akan memberi jawaban yang trerbaik untuk hidupnya.
“Mas kok hanya bilang-bilang terus sih? Aku harus bagaimana? Maafkan isterimu ini Mas. Aku ingin taat dan berbakti kepadamu”
Dalam kutipan itu juga pengarang menggambarkan wanita yang taat pada suami. Sama halnya dengan pernyataan Ritzer dan Goodman (2004:415) bahwa perempuan digambarkan memiliki posisi inferior dan tunduk pada laki-laki.
“Dia seperti gados-gadis laain pada umumnya, melihat seseorang dari apa yang dimilikinya, bukan melihat sebagai seseorang itu sendiri. Belum juga jadian, dia telah meminta ini dan itu.(179)”
Dalam novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik tersebut, menyiratkan bahwa seorang wanita yang baik tidaklah memandang siapapun dari segi keberadaan materi. Namun memandang dari segi kepribadian sebagaimana seseorang itu bersikap. Dan sikap yang baik itu tergambar pada sosok Sumirah yang menerima siapapun apa adanya dan sama sekali tak menoleh pada harta dan kekayaan.
Selain penggambaran Wanit Baik, dalam novel tersebut pun terdapat penggamabaran bagaimana seorang lelaki dikatakan baik.
“kalu dia benar-benar pemuda baik dan tak jahat, tentu dia akan ikhlas mengantar jemput kau selama ini.(29)”
Kutipan diatas membuktikan bahwa pengarang menggambarkan sosok lelaki yang baik yaitu lelaki yang ikhlas, yang tidak menuntut balas, dan tidak memaksa.
 “tato yang tadinya bagus, kini terhapus, sedang kulit lengan Agung tempat bekas tato itu berada tampak menjadi buruk sekali.(61)”
Tokoh Agung dalam kutipan diatas tampak menghapus tatonya. Sebab dalam pandangan masyarakat yang memandangnya buruk oleh otot dan tatonya itu. Sosok lelaki baik yang digambarkan sebagai lelaki yang tak bertato diwujudkannya.
“Kalau sekarang aku rajin sembahyang, karena aku sadar bahwa tidak ada yang bisa membantu dan menolong kita kecuali Dzat yang lebih kuat yaitu Allah kita kepadanya kita mengadu, memohon pertolongan dan kekuatan. Karna itulah aku shalat.(64)”
Dapat dikatakan, melalui kutipan diatas bahwa pengarang menggambarkan tokoh lelaki baik yaitu lelaki yang kelak akan menjadi imam yang baik bagi keluarganya yaitu lelaki yang taat menunaikan ibadah.
“Yazid menahan geram. Tetapi, dia tetap bersabar. Yang penting, isterinya mau dipertemukan dengan atasan dan isterinya.(226)”
Dalam kutipan diatas, menyiratkan bahwa pengarang juga menggambarkan sosok lelaki baik yang penyabar dan tidak emosional. Sifat yang dituangkannya terhadap tokoh Yazid tersebut memberi penjelasan secara tidak langsung bahwa lelaki yang baik adalah lelaki yang yang tidak d4engan semena-mena memaksakan kehendaknya terhadap istrinya dengan meninggikan statusnya sebagai suami. Seperti yang dikatakan Wildan (2009:32) dalam skripsinya bahwa batas kepemimpinan pria tidak menyinggung perasaan wanita atas kehormatannya. Dalam kebiasaan, yang memimpin adalah yang mengatur dan berlaku adil, bukan menindas dan menguasai.
C.     Sosiologi Sastra
Sosiologi Sastra mengharapkan dampak ataupun perubahan social yang ditimbulkan oleh pembaca setelah membaca novelnya. Novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik ini sangat banyak memberi nilai moral terhadap pembaca dengan penyajian bahasa yang tidak monoton. Setiap cerita yang dipaparkan selalu dibubuhkan cerita lucu yang tentu saja tidak membuat pembaca bosan. Dan apabila dilihat dari isi cerita, pengarang sangat peduli terhadap situasi masyarakat yang kerap kali muncul berbagai masalah dalam setiap lika-liku kehidupan. Yang paling utama pengarang mengajarkan tentang arti cinta dan bagaimana mengelola hati dan mengahadapi setiap persoalan hidup. Kemarahan, kecemburuan, iri hati, dengan cara khusus dituturkannya dalam cerita. Kemarahan tidak harus berarti dilampiaskan, menjadi anarkis, mencaci maki, dan lain sebagainya.




BAB III
KESIMPULAN
            Sosiologi Sastra dibentuk oleh masyarakatnya dan memiliki keterkaitan timbal-balik dengan masyarakat, dan sosiologi sastra berupaya meneliti hubungan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai aspek. Hal tersebut dikarenakan sebuah karya sastra merupakan cerminan dari alam dan kehidupan manusia yang dikemas dengan pemilihan bahasa dan gaya bercerita sebagaimana agar cerita tersebut terasa lebih nyata dan memberi kesan bagi pembacanya.
            Dan saya pun menyimpulkan bahwa novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy merupakan sebuah cerminan dari kehidupan pengarang. Sebab begitu banyak kesamaan yang dapat ditemukan antara latar belakang pengarang serta gaya penceritaan pengarang dalam novelnya. Pengarang yang besar pada lingkungan Jawa, demikian pula isi cerita novel yang banyak menyinggung tentang kehidupan dan pola hidup masyarakat Jawa. Selain itu, latar dalam cerita juga berkisar pada wilayah Jawa, serta penamaan-penamaan tokoh yang banyak terpengaruh pada penamaan masyarakat Jawa.











DAFTAR PUSTAKA
Adisaputera, dkk. 2015. Modul Pengantar Pengkajian Prosa Fiksi. Medan: Universitas Negeri     Medan.
Al-Azizy, Taufiqurrahman. Wanita Baik untuk Lelaki Baik. Jogjakarta: Najah
Damono, Sapardi Djoko.1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta:
            Depdikbud.
Sigalingging. 2015. Pengantar Kritik Sastra. Jakarta: Halaman Moeka.
Wildan, Syaiful.  2009. Kedudukan dan Peran Perempuan sebagai Istri dalam Masyarakat           Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Skripsi Ilmu Hukum Islam. Hal 1-63.












LAMPIRAN
SINOPSIS NOVEL
            Sumirah adalah bunga desa. Rumit dan berliku jalan kehidupan yang dilalui Sumirah. Bunga desa yang lahir dan tumbuh di Paponan, sebuah tempat di Temanggung. Dia adalah cermin dari gadis yang polos dan lugu. Jiwa pedesaan telah menanamkan berbagai sifat yang baik dan mulia kepada dirinya. Dia tidak pernah pacaran dan mengenal jatuh cinta. Dia selalu taat dan patuh pada orangtuanya. Gadis sebaik dia, mnurut anggapan warga, mustahil harus menerima cinta seorang pemuda dari ndesa tetangga, Agung namanya. Agung dianggap terlalu buruk. Dia bertato di lengan dan hanya tukang ojek. Bunga desa tak pantas bersanding dengan pemuda preman yang pekerjaannya hanya tukang ojek.
            Keadaan pun berubah, sebab waktu selalu berubah. Kala itu, muncul isu tentang gerakan antirokok dan anti tembakau. Isu yang seperti ini sangat mencemaskan dan membuat kecut serta takut masyarakat Temanggung. Mereka selama ini bekerja sebagai peta ni temabakau. Banyak pula yang hanya menjadi buruh tani tembakau. Seperti kedua orangtua Sumirah yang menjadi buruh ladang tembakau Koh Adi.
            Cinta bertepuk sebelah tangan yang dialami Agung telah merubah kehidupan Agung sendiri. Anggapan orang memang tidak selalu sesuai dengaan kenyataan. Orang yang dianggap baik dan mulia belum tentu sebenar-benarnya baik dan mulia. Dia yang dicap sebagai preman, bisa jadi memiuliki hati yang bersih. Nurani Agung terpanggil untuk membela masyarakatnya. Demo-demo digelar dan dipimpinnnya hingga mengantarkannya ke penjara.
            Pada saat yang bersamaan, seorang pemuda baik, tampan, kaya, dan terhormat, datang ke Paponan untuk berjumpa dengan Sumirah. Yazid namanya. Pemuda sukses yang tinggal di Jakarta ini, atas nasihat dan saran Rohmah dan suaminya yang membuka warung Mi Ayam Narsis di daerah Kebayoran Baru dan menjadi karib Sumirah ingin berkenalan langsung dengan Sumirah. Pandangan pertama pun terjadilah.
            Yazid suka kepada Sumirah.
            Sumirah pun jatuh  hati kepada Yazid.
            Mereka menikah. Sumirah yang lugu dan polos akhirnya harus meninggalkan Paponan menuju tampat baru, tempat yang belum pernah didatanginya: kota besar Jakarta. Pasangan suami-istri inipun bagai langit dan bumi. Keluguan dan kepolosan hati Sumirah membuat Sumirah sering kali terjebak pada keadaan yang sulit. Misalnya, Sumirah akan selalu jongkok di toilet duduk. Begitulah sumirah yang tenyata sangat ndeso. Tangan Sumirah juga pernah terkilir ketika pertama kali naik eskalator. Banyak kejadian-kejadian lucu dan menggelikan yang dilakukan Sumirah. Puncaknyaa, ulah Sumirah telah meledakkan rasa malu suaminya dihadapan atasannya dan para kolega dari atasannya.  Gadis dari masa lalu Yazid pun datang kembali atas permintaan Yazid. Neneng namanya. Dengan caranya, Neneng membantu Sumirah untuk mengubah citra dirinya. Akhirnya Sumirah menjadi diva. Tetapi tak lama kemudian apa yang tak pernah terbayang olehnya menimpa dirinya.
            Segala permasalahan bertubi-tubi didapatkannya termasuk suaminya yang tenyata secara diam-diam telah menjalin hubungan dengan Neneng. Kemarahan, kecemburuan, serta iri hati, semua bercampur aduk. Kemarahan tidak harus berarti dilampiaskan dengan cara brutal, berteriak-teriak, mencaci maki, dan seterusnyaa. Ada cara yang cerdas dan bijak menyalurkan hati yang dipenuhi kegalauan, kemarahan, dan sakit hati. Sumirah mengajarkan hal itu. Begitu pula Agung.