Blog ini berisi tentang ulasan, opini, sastra, curhatan, dan apapun yang bisa saya bagi dengan teman-teman. Semoga suka, semoga bermanfaat, semoga memotivasi.
Rabu, 23 November 2016
Media Massa Berbasis Keindonesiaan
Label: sastra, travel, opini, etc
Membangun Media Massa Indonesia
Kamis, 03 November 2016
Naskah Drama Natal
Drama
Singkat
“Mengasihi
Tuhan dan Tidak Menjadi Hamba Uang”
(terinspirasi
dari kitab 1 Timotius 6:9-11)
By: Naomi Tampubolon
Prolog:
Sejak awal mula penciptaan dunia, Allah menciptakan segala sesuatunya dalam keanekaragaman dan perbedaan. Ada terang ada gelap, ada bulan dan bintang, aneka hewan didarat, di air dan di udara, juga tumbuhan di air dan di darat. Demikian juga dengan manusia, ada pria dan wanita, berbeda sifat dan anggota tubuhnya, dan perbedaan lainnya. Keanekaragaman itu adalah bentuk kemuliaan, keindahan dan kebesaran Tuhan. Namun kini… perbedaan bukan dipandang sebagai keindahan lagi. Manusia memberontak pada kebesaran Tuhan. Manusia menjadi sangat serakah satu dengan yang lain.
Sejak awal mula penciptaan dunia, Allah menciptakan segala sesuatunya dalam keanekaragaman dan perbedaan. Ada terang ada gelap, ada bulan dan bintang, aneka hewan didarat, di air dan di udara, juga tumbuhan di air dan di darat. Demikian juga dengan manusia, ada pria dan wanita, berbeda sifat dan anggota tubuhnya, dan perbedaan lainnya. Keanekaragaman itu adalah bentuk kemuliaan, keindahan dan kebesaran Tuhan. Namun kini… perbedaan bukan dipandang sebagai keindahan lagi. Manusia memberontak pada kebesaran Tuhan. Manusia menjadi sangat serakah satu dengan yang lain.
Jhon:
HAHAHAHA..! Hancurlah kalian. Dengan mudah persatuan kalian kami pecah belah.
Ben : HAHAHA! Betul. Hingga mereka benar-benar pecah. Maka kita mengambil langkah maju untuk menguasai Kota ini.
Ben : HAHAHA! Betul. Hingga mereka benar-benar pecah. Maka kita mengambil langkah maju untuk menguasai Kota ini.
(sementara para orang asing
meningkalkan panggung, masuk 4 orang yang berbeda suku dan Jabatan. Dan mereka
bertikai)
Batak:
Hei kau orang Cina! Tak letihkah kau menguasai pasar negeri ini. Dan tak
memberi sedikitpun ruang untuk kami pribumi untuk berkuasa?
Cina: Apa
kau bilang? Dasar olang-olang Batak berpikiran dangkal! Kalian semua pemalas! Begitu
suburnya lahan negeri ini kalian tidak manfaatkan. Kuasai saja sebangsamu yang
arogan itu!
Jawa: (dengan
lantang namun masih dengan aksen lembut) Tutup Mulut kalian orang-orang munafik!
Kalian ribut mempermasalahkan kekuasaan, uang uang dan uang! Apa kalian pernah berpikir
apa yang telah kalian perbuat bagi negeri ini?
(masyarakat
biasa kebetulan lewat membawa cangkul yang miris melihat pejabat-pejabat itu
bertikai)
Masyarakat Biasa 1: (dengan
nada suara lembut) kalian semua itu sama saja. Kalian mengumpulkan pundi-pundi
kekayaan. Sementara kami, berpeluh sepanjang hari untuk memenuhi kebutuhan
hidup. Tidakkah kalian sadar bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta
uang.
Masyarakat Biasa 2: yah.
Kasihanilah kami wahai wakil-wakil rakyat. Kami memilih kalian bukan untuk menguras
peluh kami hingga tak bersisa.
Cina: beraninya
kalian olang-olang tolol menilai kami. Pergi kalian! (mendorong keras 2 masyarakat biasa itu)
( semua pemain meninggalkan
panggung)
Keesokan harinya, salah
seorang masyarakat ke kebun, kebunnya telah diserang hama.
Masyarakat biasa 2: Bagaimana ini, seluruh ladangku di serang hama. Tak ada satupun yang layak untuk diolah dan dijual. Hu..hu..hu (menangis sambil terduduk)
(petinggi yang bersuku Batak
kebetulan lewat)
Batak:
waaaaah. Ini bahaya. Bagaimana bila ladangmu saya beli. Dan saya akan
mendirikan pabrik di tanah ini. Sehingga semua hasil panen di desa ini semuanya, di olah di pabrik saya.
Masyarakat
biasa 2: lalu, bagaimana dengan keluargaku? Kami bergantung pada
hasil ladangku untuk hidup..
Batak
: haaaah!
Miskin aja belagu kali kau . Kamu bisa kerja di pabrik saya nanti!
Masyarakat
biasa 2: tidak.. saya tidak akan menjual ladang ini..
Batak
: (mendorong
pundak masyarakat tersebut hingga terjatuh) haaaah! Besok saya akan mengurus
semuanya hingga ladang ini menjadi milik sayaa!.
Masyarakat
biasa 2: Tuhan… dimanakah engkau? Kasihani kami dan lindungi kami
dari pada orang-orang jahat itu.
Di tempat lain…
Jhon:
lihat! Hahahaha. Betapa bodohnya mereka. Mereka berpijak pada negeri yang sama.
Hanya dibedakan oleh ras, suku dan keyakinan saja. Tapi mereka berlomba untuk
berkuasa dan menindas yang lemah!
Ben:
hahaha. Benar Jhon. Mereka masing-masing memiliki agama. Tapi sama sekali tak
tau makna dari agama yang mereka anut.
Jawa:
apa yang tengah kalian perbincangkan? Siapa kalian?
Batak: dan
siapa yang kalian katakan bodoh, ha?
Jhon:
hahaha. Ternyata selain penjilat, kalian juga gemar menguping.
Ben:
tentu kalian semua yang kami sebut bodoh. Bangsa yang gemar menindas orang
lemah dan tak segan-segan saling bertikai untuk menduduki kekuasaan!
Jhon:
benar! Kalian pergi beribadah kepada dewa lah, kepada Tuhan manapun itu! Namun tak
sedikitpun kalian mencerminkan kalian makhluk bertuhan!
Ben:
ya. Kalian keji. Tuhan mana yang mengajarkan kalian untuk bertikai satu sama
lain dan menindas yang lain?
Cina:
hayaa! Diam kalian olang-olang asing. Tentu kami punya Tuhan. Tuhan kami
memberi kami kepintaran sehingga bisa menjadi pemimpin di negeri ini!
Jhon: apa? Kami yang akan
menguasai orang-orang bodoh ini dan segala kekayaan alamnya! Kalian tidak
pantas!
Ben: haha
manusia-manusia TOLOL!!!
Tiba-tiba suara
gemuruh terdengar (bisa dibuat melalui suara keyboard pemusik, lalu 1 orang
dibelakang panggung membuat suara Tuhan) saat suara gemuruh dimainkan, semua
yang dipanggung memasang muka bingung dan ketakutan)
Tuhan: Kalian yang ingin
kaya terjatuh ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang
menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan!!
(Masyarakat biasa
1&2 memasuki panggung dengan wajah kalut bercampur bahagia)
Masyarakat biasa 1: Tuhaaaan! Engkaukah itu?
Masyarakat biasa 2: Tuhaaan… janganlah
engkau murka kepada kami makhluk yang berdosa ini. Ampuni.. ampuni kamiii
Jhon: benarkah itu Tuhan? Adakah
Tuhan?
Batak: Yaaaa Tuhann
ampunilah kamiii. Hamba berdosa. Kami telah berdosa.
(suara gemuruh semakin
kencang, dan semua orang memasang wajah mencekam)
TUHAN: siapa menindas orang
yang lemah, menghina penciptanya. Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang
ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi, maka kasih akan Bapa tidak ada di
dalam orang itu.
Demikianlah kehidupan
manusia yang semakin digerus oleh perkembangan zaman. Menjadi hamba uang dan
melakukan hal yang tidah disukai oleh Tuhan. Sebab Tuhan adalah kasih dan
takkan henti memaafkan orang-orang berdosa. Baik engkau kaya ataupun miskin,
tidak menjadikan engkau indah apabila hatimu penuh dengan kejahatan. Hati yang penuh
kasih menjadi persembahan berharga untuk memuliakan nama Tuhan.
(semua pemain
bergandengan tangan dan menyanyikan lagu “kasih itu lemah lembut”)
Semoga bermanfaat J
God bless us.
Label: sastra, travel, opini, etc
Drama Natal
Rabu, 02 November 2016
CERPEN
Si Nenek
Kerentaannya
bukan lagi sebagai penghalang untuk menempuh jarak dua kilometer menuju pasar.
Dia membeli buah-buahan dan sayur bayam kesukaannya namun tak hendak membeli
ikan untuk lauknya siang ini. Dia duduk di sebelah Pak Tono si penjual
sayur-sayuran seperti sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian tampak dari
kejauhan ibu-ibu yang membawa bakul di atas kepalanya, sepertinya dia penjual
nasi keliling. Si nenek tersenyum melihat ibu itu mendekat. Ternyata penjual
itulah yang membuat nenek rela menunggu di tengah keramaian pasar.
“Kamu
kok lama sekali, nenek sudah lama menunggu”
“Ya ampun nenek,
kenapa harus menunggu saya? Kan ada penjual nasi yang lain nek?”
“Saya cuma mau masakan kamu! Ikan Arsik
masakanmu yang cocok di lidah nenek”
Demikian
si nenek setelah membeli ikan arsik kesukaannya dari Ibu Susi. Entah
mengapa si nenek akan dengan setia
menanti Ibu Susi setiap hari senin di pasar sementara masih banyak penjual
makanan di pasar juga di kampungnya.
Setibanya di rumah nenek merebus sayur dengan masakan seadanya dan
segera makan bersama dengan lauk yang dibelinya tadi. Seusai makan nenek duduk
termenung di depan rumah. Meratapi nasibnya yang sebatang kara. Reinhat anak
sulungnya yang sukses bekerja d perusahaan asing di Jepang sudah tujuh tahun
tak pernah pulang ke kampung halamannya. Bahkan Reinhat juga terkabar sudah
berkeluarga dan menikah di negeri orang tersebut. Sementara Sena putrinya yang
kedua, 4 tahun lalu pamitan merantau ke kota besar Jakarta hingga saat ini juga
tak ada kabar.
Tak
jarang ia menangisi kesebatangkaraannya
mengingat umurnya yang kian renta. Rasa takut selalu mengungkung sanubarinya
pabila dia membayangkan hari terakhirnya tak ada yang melihat. Dia takut pabila
nanti dia mulai sakit-sakitan dan tak seorangpun yang mengurusnya. Di tariknya
laci lemari dan mengambil satu lembar foto yang tampak lusuh dan tak berwarna
lagi. Pipinya berlinang air mata menatapi poto yang terlihat bersama kakek, dan
kedua anaknya di saat mereka masih kecil. Si kakek yang tlah lama meninggal
dunia dan meninggalkan nenek yang berjuang sendiri menyekolahkan Reinhat dan
Sena. Ditambah lagi kedua anaknya yang meninggalkannya dan tak pernah memberi
kabar. Hanya merapalkan doalah yang mampu menguatkan hatinya.
Nenek
menyeka air matanya dan menyimpan poto itu kembali ke laci lemari. Dia
membuatkan teh manis untuk dirinya sendiri dan menikmati tatapan senja di sore
hari dari teras rumahnya. Si nenek kemudian masuk ke rumah setelah menyadari
hari mulai gelap. Di sulutnya kayu bakar pada tungku perapian untuk memasak air
yang akan dimasukkannya ke dalam botol bekas. Botol itu akan diguling-gulingkannya
pada bagian tubuhnya yang nyeri. Kesebatangkaraannya membuat dia harus
melakukan apapun sendiri. Meski dengan tenaga seadanya, nenek harus memaksakan
dirinya mengerjakan segala sesuatunya sehingga tubuhnya yang ringkih sering
merasa nyeri.
Sekitar
pukul sembilan malam, nenek membaringkan tubuhnya pada tempat tidurnya. Dia
menatapi langit-langit rumah, dan lagi-lagi meneteslah air matanya. Setiap
malam air mata itu yang akan menjadi penghantar tidur sang nenek setelah
merapalkan doa. berharap Tuhan membukakan mata hati anak-anaknya agar mereka
kembali dalam pelukannya. Pelupuk matanya mulai letih, dan akhirnya si nenek
tertidur dengan air mata yang belum kering di pipinya.
Si
nenek tiba-tiba terbangun dari tidurnya mendengar hujan yang sangat deras
mengguyur gubuknya yang rentan terhadap hujan. Dia lekas berlari semampunya
kearah dapur untuk mengambil beberapa baskom untuk menampung air hujan yang
masuk ke dalam rumah, sebab atap rumah sudah banyak yang bocor. Dia kembali ke kamar
dan ternyata kamarnya pun sudah bocor tepat di atas tempat tidurnya. Nenek
menghembuskan nafas panjang, tak bisa berkata apa-apa lagi karena air hujan
sudah mengenai kasur, bantal juga selimutnya. Padahal nenek sudah sangat kedinginan dan
ingin segera berbaring dan kembali melanjutkan tidurnya. Nenek segera
mengambilkan tikar yang terletak di belakang pintu rumah dan tidur di luar
kamar hanya beralaskan tikar. Apa daya, selimut dan bantal hanya ada satu dan
itu semua sudah basah terkena air hujan. Setelah beberapa menit mencoba
memejamkan mata, tak jua bisa si nenek untuk tertidur, dingin merasuk hingga ke
persendiannya. Lalu teringat, di lemari masih ada satu sarung usang peninggalan
si kakek. Dengan gontai nenek berdiri lagi dan menuju kamar dan mengambil
sarung itu yang ternyata sudah banyak sobeknya.
“Hmmm,
tak apalah, paling tidak ini bisa memberiku sedikit kehangatan”.
Nenek
berujar demikian untuk menguatkan hatinya, meski sebenarnya baginya itu tak
cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang renta dan rentan terhadap dingin. Segera
dia keluar dari kamar, dan kembali membaringkan diri di tikar. Tanpa bantal,
dia mencoba tidur dan menyelimuti tubuhnya dengan sarung usang peninggalan si
kakek. Dia terlihat sangat nyenyak. Seketika itu dia bermimpi, Reinhat dan Sena
tiba-tiba saja pulang dari perantauan, bersama dengan cucunya yang lucu-lucu.
Dengan meneteskan air mata, nenek menangis bahagia. Si nenek bergegas keluar
menemui mereka di halaman rumah. Namun nenek berhenti di depan pintu. Dia heran
mengapa anak-anaknya tampak menangis, bukan menangis behagia seperti dirinya,
namun tampak sangat bersedih hati. Dilihatnya kedua anaknya berlari kencang
setelah turun dari mobil melintasi dirinya yang berdiri di depan pintu tanpa
memeluk atau sekedar menyalamnya. Si nenek menoleh ke belakang saat kedua
anaknya itu berhenti di tikar tempat dia tidur tadi. Mereka duduk dan menangis
tersedu-sedu. Demikian juga para tetanggga nenek mulai berdatangan ke rumah itu, mereka semua datang dengan mata
berkaca-kaca. Nenek mendekat. Dia terkejut melihat tubuhnya terbujur kaku dan
tak berdaya terbaring di tikar itu. Dia menangis, lalu kemudian tersenyum.
“Terimakasih
Tuhan, telah mengembalikan anak-anakku, meski aku bisa melihat mereka dengan wujud yang berbeda.
Label: sastra, travel, opini, etc
sastra
Pemandangan Indah, Balige Tempatnya.
Balige
merupakan ibu kota Kabupaten Tobasa, yang memiliki panorama pantai (bagian dari
danau Toba) yang indah. Di Balige,
banyak hal dan tempat menarik yang bisa kamu dapatkan. Beberapa diantaranya
yaitu Museum TB Silalahi, Tara Bunga, Pantai Lumban Bulbul, dll. Namun kini, yang
paling prioritas adalah desa yang bernama Lumban Bulbul yang memamerkan
pantainya, yang merupakan daerah tujuan wisata, terletak di tepi Danau Toba dan
dikelilingi oleh pebukitan. Terutama pada akhir pekan mulai dari siang hari
hingga petang pantai ini dibanjiri oleh pengunjung.
Selain
Lumban Bulbul, Lumban Silintong adalah objek wisata yang ramai pada hari minggu
dan hari libur, di mana pengunjung juga bisa mandi di danau dan menyantap ikan
mas bakar di kafé-kafé yang berada disekitar desa. Dan tidak usah takut kalau
tidak membawa banyak duit. Makanan disana tidak terlalu menguras isi dompet,
namun rasa juga tidak akan mengecewakan.
gaya tata ruang dari setiap kafe di Lumban Silintong juga sangat beragam dan menarik,
sehingga cocok dijadikan sebagai tempat berkumpul bersama keluarga, maupun
bersama teman-teman. Yang lebih menariknya lagi, sembari menyantap makanan yang
dipesan, kita ditemani oleh angin sepoi-sepoi serta dimanjakan oleh pemandangan
air danau dengan ombak-ombak kecilnya. Apabila Yogyakarta dengan Candi
Borobudur, Jakarta dengan Dufan, Bali dengan Pantai Kuta, maka Balige dengan
pantai Lumban Silintong.
Untuk
bisa berkunjung dan bersenang-senang di Lumban Silintong, harus membawa
kendaraan pribadi atau sewaan. Karena belum ada kendaraan umum yang sampai
kesana. Sehingga, kalau kamu tidak punya motor atau mobil untuk bepergian ke
sana, maka kamu harus menyewa bus bila perginya rombongan, atau kalau
bepergiannya sendiri dan berdua, bisa
menggunakan becak. Sebab kalau menuju
Lumban Silintong dengan jalan kaki, yang ada kaki keram, badan juga akan sangat
letih. Atau, kamu bisa menginap di hotel yang ada disana. Sehingga, selain
dekat dengan tempat wisatanya, kamu tidak akan capek mencari kendaraan umum
lagi.
Terbentangnya
persawahan hijau milik penduduk setempat, menambah keindahan sebelum mencapai
Lumban Silintong. Pengunjung juga dapat dengan bebas memandang jajaran bukit
barisan, dan menghirup udara sejuk dan segar yang akan menyegarkan pikiran.
Selain berupa pemandangan danau dan pebukitan yang indah, disana juga merupakan
tempat untuk memancing ikan. Biasanya, pengunjung ataupun penduduk setempat
menghabiskan waktu berjam-jam di sore hari di pinggiran danau untuk memancing
ikan. Sayangnya, tempat khusus penyewaan pancing belum ada, sehingga pengunjung
yang berminat harus membawa pancingnya masing-masing.
Hal lain yang paling menarik dari Desa Lumban
Silintong, selain berenang dan memancing, yaitu traking menyusuri keindahan
alam menuju Huta Ginjang. Untuk memperoleh layanan perjalanan ini, kamu bisa
meminta bantuan pemuda setempat sebagai pemandu kamu. Selama menyusuri
perjalanan ke sana, tantangannya adalah melewati jalanan setapak berumput
bahkan berduri dan banyak pepohonan. Namun, bila sudah sampai di sana, maka
letihmu akan terbayarkan. Pada pagi hari saat matahari terbit serta sore hari
saat matahari terbenamnya matahari, dari sini dapat dilihat hamparan Danau Toba
dan Pulau Samosir yang diselimuti oleh embun tipis. Dahulu, Lumban Silintong
ini hanyalah sebatas tempat wisata yang apa adanya tanpa pengindahan lokasinya.
Namun sekarang, tempat duduk disepanjang pinggiran danau toba sudah disediakan
pemerintah. Sehingga, siapapun yang lewat bisa singgah menikmati keindahan
danau toba tanpa harus memeriksa isi kantong dulu untuk duduk di rumah makan
atau kafe di sekitar danau. Saat menyusuri sepanjang jalan desa Lumban
Silintong di sore hari, kita juga akan menemui sekumpulan kerbau yang dihalau
gembalanya pulang. Suasana pedesaan seperti ini bisa menjadi alasan bagi setiap
orang yang selalu sibuk di kota untuk menenangkan pikiran dari segala
kesibukan.
Ada satu tempat yang dinamakan “pagoda” di Lumban
Silingtong. Pagoda tersebut adalah sebuah bukit yang bisa dinaiki dari pinggir
jalan. Tidak usah takut letih, bukit yang dimaksudkan disini bukan setinggi
yang anda maksud. Mendaki sekitar ketinggian 8 meter, kita sudah bisa duduk
bersilah di atasny dengan hamparan rumput nan hijau sembari menatap hamparan
danau toba, kapal-kapal yang sedang berlabuh dari jauh, dan pebukitan yang
mengelilinginya. Bila kamu tertarik, kamu bisa mencari buah kecil yang
dinamakan “harimonting” disana. Harimonting adalah buah berbiji di tanah batak
yang paling digemari anak-anak. Disamping rasanya yang manis, saat mencari
buahnya adalah suatu hal yang sangat menyenangkan. Anda tinggal mencari pohon
pendek berdaun kecil, yang tingginya
sekitar setengah meter, dan buahnya lonjong berukuran seperti ceri. Dan untuk
mendapatkan buahnya, bukan hal yang mudah. Dari sekian pohon yang berbuah, kamu
harus memilih yang berwarna merah ranum dan lembek. Jika buahnya masih berwarna
kemerah-merahan dan keras, itu tidak enak rasanya. Menarik bukan?
Setelah letih mencari buah harimonting tersebut,
turun dari bukit pagoda dan duduk di salah satu kafe adalah salah satu pilihan.
Kamupun bisa memesan makanan dan minuman yang kamu suka, bila perut sudah minta
diisi. Dan hal yang perlu kamu ingat saat memesan minuman jus yaitu, bila kamu
ingin jusnya dingin (pake es) jangan lupa untuk menyebutnya pake es kepada
pemilik warung/kafenya. Karena bila kamu yang terbiasa di kota memperoleh jus
dalam keadaan dingin bila memesan jus, maka di sini berbeda. Hal ini
dikarenakan Balige adalah kota bercuaca dingin. Maka, saat kamu hanya memesan
dengan sebutan jus saja meskipun itu di siang bolong, jus yang sampai di depan
kamu hanyalah jus biasa tanpa es.
Salah satu kafe disekitar Lumban Silintong juga ada
yang menyediakan kolam renang terbuka. Dimana kolam tersebut bersentuhan langsung
dengan air danau. Namun air di dalam kolam adalah air saluran bersih, bukan air
yang langsung dari danau. Hal ini menjadi sebuah seuasana berenang yang baru
bagi kamu, yaitu berenang di dalam kolam dan menatap langsung danau di depan
kamu. Tapi jangan berenang terlalu lama ya, karena badan kamu akan menggigil.
Kalau
kamu datang beramai-ramai ke Lumban Silintong, maka pintar-pintarlah memilih
tempat. Disepanjang daerah pantai, banyak kafe dan rumah makan yang tersedia.
Namun, kamu juga harus pandai memilih tempat yang sesuai dengan yang kamu
inginkan dan kamu butuhkan. Di pertengan wilayah Lumban Silintong, kamu bisa
mengunjungi kafe yang di daerah pantainya adalah tempat piknik bersama keluarga
atau teman-teman. Kamu bisa memasang tikar piknik di pinggiran danau yang
terlindungi pepohonan rindang. Memesan ikan mentah dan memanggang ikan sendiri
adalah pilihan terbaik. Suasana ramai sembari “bakar-bakar ikan” ditemani udara
pantai yang sepoi-sepoi adalah pilihan tepat untuk bersenang-senang dan menghabiskan
waktu kebersamaan.
Mayoritas
penduduk lumbanbulbul ataupun Lumban Silintong bekerja sebagai nelayan.
Sehingga bila kamu tengah berkunjung ke salah satu kafe yang ada disana pada
sore hari maka perahu yang belum dipakai bisa digunakan sebagai objek poto kamu
sedangkan pada malam hari, maka kamu akan menjumpai beberapa nelayan yang
menggunakan perahu untuk menebar jala untuk menangkap ikan. Pada malam hari
juga, nuansa danau yang berombak kecil dengan angin malam yang dingin adalah
suatu hal yang harus dirasakan saat berkunjung ke sini. Jika kamu berencana
untuk mennelusuri dan bersantai ria di Lumban Silintong tersebut hingga
malam, jangan coba-coba keluar tanpa
membawa jaket. Dari terbenamnya matahari, cuaca disini sangatlah dingin,
meskipun di siang hari sangat panas. Sehingga, bila kamu keluar dan menikmati
pemandangan hingga malam hari maka bersiap-siaplah untuk menggigil.
Selain melihat panorama danau di
malam hari yang dingin, biasanya kamu akan mendengarkan lagu-lagu khas batak
yang dinyanyikan oleh penyanyi kafe. Kemudian, dari tempat duduk kamu yang
berhadapan dengan danau, kamu bisa menatap jauh kota balige yang bercahaya di
malam hari. Riak-riak air danau yang berombak kecil akan membuat kamu terbawa
suasana bila ketepatan kamu duduk dan makan berdua dengan pasangan. Duduk di
meja berlilin, ditemani oleh angin malam berhembus akan menjadi suasana romantis
yang mengesankan.
Berlibur dan berkunjung ke Lumban
Silintong adalah hal yang harus di coba. Terutama bagi kamu yang selama ini
sibuk dengan hiruk-pikuk kota yang sesak oleh polusi dimana-mana. Menyegarkan
pikiran, serta menikmati nuansa desa yang asri dan berudara segar, maka
disinilah tempatnya. Dan yang menjadi daya tarik, meski Lumban Silintong adalah
primadona, kamu bisa bepergian ke tempat wisata lainnya. Sebab Balige mempunyai
benyak tempat yang bisa kamu kunjungi, yang belum tentu bisa kamu dapatkan di
kota lain. Selain dari biayanya yang tidak terlalu mahal, keindahan yang
ditawarkan juga memanjakan mata dan pikiran.
Label: sastra, travel, opini, etc
Eksplor Sumut
Rabu, 19 Oktober 2016
Pengaruh Jurnalistik Media terhadap Politik dan Kebudayaan yang Turut Berkembang di Zaman Globalisasi
Jurnalistik atau journalisme berasal dari kata journal, yang artinya catatan harian, catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga diartikan sebagai surat kabar. Journal berasal dari bahasa latin “diurnalis” yang artinya harian atau tiap hari. Jadi, jurnalistik dapat diartikan menghimpun catatan (surat kabar) setiap hari.
Jurnalistik pada jaman dahulu hanya dipahami sebagai publikasi lewat media cetak. Namun sekarang telah muncul media elektronik berupa radio dan televisi bahkan diperoleh secara tersambung yang dikenal dengan media online. Jika pada zaman dahulu kita harus mencari-cari koran jika ingin mendapatkan berita, namun kini kita bisa membacanya lewat internet (online). Dengan demikian, kapanpun dan dimanapun kita dapat memperoleh informasi yang kita butuhkan. Hal ini menunjukkan, seiring berkembangnya teknologi turut memberi pengaruh terhadap berkembangnya dunia jurnalistik.
Globalisasi dan Politik Dunia Maya
Pada era globalisasi saat ini, media massa sangat mudah diakses dan telah mempengaruhi hubungan sosial di masyarakat. Melalui media yang sangat terbuka dan mudah terjangkau, masyarakat menerima berbagai informasi tentang peradaban baru dari seluruh penjuru dunia. Misalnya, gaya berpakaian dan bergaul mereka yang terkesan modern. Sementara Indonesia memiliki aturan dan etika tersendiri tentang gaya berpakaian dan pergaulan. Dalam hal ini, media massa-lah yang menyebarluaskan dengan cepat segala informasi tersebut sehingga banyak masyarakat yang menangkap informasi tersebut tanpa disaring sehingga mempengaruhi gaya hidupnya.
Selain berpengaruh terhadap keadaan sosial, namun keadaan politik juga seakan dipengaruhi oleh media jurnalistik pada saat ini. Media sosial telah menjadi bagian dalam setiap kehidupan masyarakat termasuk ranah politik yang bisa dimanfaatkan untuk sarana komunikasi, mempromosikan diri, sosialisasi, termasuk promosi partai politik untuk membangun citra partai. Pemanfaatan media sosial untuk berpolitik biasanya akan terlihat ketika akan diselenggarakannya pemilu untuk kampanye politik.
Di satu sisi, dunia maya tersebut memberi wadah bagi para politikus untuk memperkenalkan diri dan misi-misi mereka kepada masyarakat luas. Dengan itu, masyarakat dapat mengenal calon pemimpinnya. Namun yang menjadi fenomena saat ini adalah beberapa media telah menjadi milik para politikus yang menjadikan persaingan di dunia politik tidak lagi seimbang. Keberuntungan seakan berpihak pada mereka yang memiliki media karena memiliki lebih banyak ruang dan waktu mempertontonkan segala hal yang mereka lakukan sebagai pencitraan kepada rakyatnya. Dengan demikian, masyarakat seakan terhipnotis oleh media yang menampilkan calon pemimpin tersebut. Lantas, calon pemimpin yang tidak memiliki media hanya diperkenalkan sepintas saja sementara pemimpin yang memiliki media seolah menjadi calon pemimpin yang lebih banyak berbuat bagi rakyatnya.
Sebagai sarana pemberi hiburan dan informasi, berbagai media hendaknya bersifat objektif terhadap pemberitaan apapun. Sehingga, masyarakat sebagai pengguna media tidak serta merta menerima informasi yang hanya menguntungkan pihak tertentu. Si satu sisi, media harus menjadi alat yang membantu masyarakat untuk berpikir kritis dalam memilih para pemimpinnya. Semakin objektif sikap media dalam pemberitaan politik tentu semakin membantu masyarakat untuk memilih yang sesuai dengan suara hatinya.
Media Baru dan Kebudayaan
Media baru adalah media yang mempermudah proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia dari waktu ke waktu yang melibatkan teknologi terbaru diantaranya yaitu handphone, komputer, internet, dan social network. Media-media tersebut membawa suatu pola pikir dan sikap terhadap setiap individu ke dalam pola hidup yang serba instan namun efektif. Kemunculan media baru memberi berbagai kemudahan termasuk dalam pengolahan informasi, merangsang kreatifitas, dan berkomunikasi dan berbagi informasi dengan siapa saja dengan cepat. Namun dari beberapa dampak baik tersebut, lebih banyak dampak negatif yang telah merusak citra anak bangsa.
Kebutuhan manusia akan teknologi yang semakin canggih seperti sudah tidak bisa dihindari lagi sehingga media baru telah menjadi dunia baru dalam kehidupan masyarakat. Interaksi sosial manusia juga melemah karena munculnya media baru yang semakin lama menjadikan masyarakat yang acuh dalam bersosialisasi.
Teknologi informasi yang tumbuh berkembang saat ini telah menciptakan sebuah budaya baru dalam lingkup masyarakat yang lemah pada interaksi langsung (nyata) namun sangat aktif pada interaksi maya. Nilai-nilai dan norma dalam masyarakat saat ini seakan sangat memudar, seperti para remaja yang saat ini kerap menghabiskan waktu dengan gadget yang mengakibatkan hilangnya sikap bersosialisasi dan menjadi individualis.
Media baru dapat membawa kembali nilai tradisional yang telah hilang, namun juga dapat merendahkan warisan budaya yang telah ada. Hal ini terjadi ketika segelintir orang terpengaruh pada budaya asing. Mulai dari gaya berpakaian, gaya berbicara yang kebarat-baratan, yang menjadikan budaya Indonesia seakan tidak menarik untuk dilestarikan. Selain itu, sikap konsumtif juga menjadi salah satu sikap yang diakibatkan oleh munculnya media baru. Hal ini dikarenakan banyaknya penjualan online yang menawarkan barang-barang menarik baik nasional maupun internasional yang berhasil memikat masyarakat.
Untuk mencegah terbentuknya masyarakat yang individualis, konsumtif, dan kebarat-baratan, masyarakat hendaknya mampu menjadi individu yang selektif terhadap perkembangan zaman, kritis terhadap berbagai informasi yang diterima, dan cinta tanah air. Dengan demikian akan terbentuk masyarakat yang tangguh dan siap untuk menghadapi segala tantangan globalisasi yang menuntut masyarakat untuk lebih cerdas.
x
Label: sastra, travel, opini, etc
Media Baru
Rabu, 21 September 2016
Kisah dalam Sajak
Pabila dengan puisi, senjaku bisa kembali. Maka kala kelam, larik-larikku kan tetap bersuara.
Salam Pujangga!!
Salam Pujangga!!
Tembikar
Pilu
Dalam tembikar, bertanak piluku
bercampur dengan golak emosi yang kian mendidih
dengan langkah gontai, dengan lesu
ku tapaki jalan itu, jalan yang penuh duri
Meski duri itu melukai, kian menanah perih
menyiksaku dengan sakit yang teramat tak tertahankan
aku tetap melangkah, bersama mereka
yang tak berpaling, tak peduli dengan lukaku
Pun dengan sebelah mata kau bisa menatapku
mengapa kedua mata itu malah tak menoleh?
tak cukup letihkah engkau
bermuram durja dengan dunia angkuhmu
ahhhh.... sudahlah
kau tak akan peduli!
Dalam tembikar, bertanak piluku
bercampur dengan golak emosi yang kian mendidih
dengan langkah gontai, dengan lesu
ku tapaki jalan itu, jalan yang penuh duri
Meski duri itu melukai, kian menanah perih
menyiksaku dengan sakit yang teramat tak tertahankan
aku tetap melangkah, bersama mereka
yang tak berpaling, tak peduli dengan lukaku
Pun dengan sebelah mata kau bisa menatapku
mengapa kedua mata itu malah tak menoleh?
tak cukup letihkah engkau
bermuram durja dengan dunia angkuhmu
ahhhh.... sudahlah
kau tak akan peduli!
Kala
Malam
Kala malam menghampiri dalam kerosak
bertemankan jangkrik yang meronta dengan nyaring
bersama cicak-cicak yang melata
di sela-sela dinding kamar yang tiada bergeming
sementara aku masih memejamkan mata
bukan tertidur, sayang
namun aku ingin berdamai dengan kelamnya malam
temaramnya hariku ingin kuhapuskan
layaknya cahaya bintang di luar sana
mengusir gelapnya malam
dan senantiasa, aku jua ingin becahaya
Kala malam menghampiri dalam kerosak
bertemankan jangkrik yang meronta dengan nyaring
bersama cicak-cicak yang melata
di sela-sela dinding kamar yang tiada bergeming
sementara aku masih memejamkan mata
bukan tertidur, sayang
namun aku ingin berdamai dengan kelamnya malam
temaramnya hariku ingin kuhapuskan
layaknya cahaya bintang di luar sana
mengusir gelapnya malam
dan senantiasa, aku jua ingin becahaya
Tentang
Senja
Semburat senja menjelma
pada langit jingga yang
membias sendu
apa gerangan jiwa yang
tiada bergeming
rasanya.. senja ini
asing bagiku
menerawang kisahku tak
sempurna
kisahku yang menyepi,
terpaku dan bisu
sungguh wahai senja..
hadirmu taburkan gundah
engkau pantulkan
langitmu yg jingga
sedang jiwaku membiru
oleh haru rindu
untuknya..!
Asa
dan Rasa
Jiwa mengaram..
bersemayam dalam
tubuhku kian lama
merajut sesal yang bersimphoni
haru
jika saja asaku terajut
indah
akankah..
akankah rasa yang
terikat rindu menyatu
jua mendayung lembut
bersama riak rindu yang mencair
biarlah asa itu nyata
dengan jalannya sendiri
dan biarkan rasaku
tetap di sini
berdiam dengan apik
dalam jiwaku
jiwa dengan ribuan
harap
Label: sastra, travel, opini, etc
sastra
Selasa, 20 September 2016
KAJIAN SOSIOLOGI PENGARANG DALAM NOVEL WANITA BAIK UNTUK LELAKI BAIK KARYA TAUFIQURRAHMAN AL-AZIZY
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Karya sastra merupakan luapan
spontan dari perasaan yang kuat, cermin emosi yang dikumpulkan oleh pengarang dalam
keheningan mendalam, yang kemudian diolah dalam penciptaan melalui pemikiran.
Dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai macam permasalahan sosial yang
biasanya memberikan pengaruh dan tercermin didalam karya sastra. Permasalahan
sosial dipengaruhi oleh adanya ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan.
Sebagai anggota masyarakat, pengarang dengan sendirinya lebih berhasil untuk
melukiskan msyarakat ditempat ia tinggal, lingkungan hidup yang benar-benar
dialaminya secara nyata.
Damono (1979:7) mengungkapkan bahwa
seperti halnya sosiologi, sasta berurusan dengan manusia dalam masyarakat.
Usaha manusia untuk menyelesaikan diri dan usahannya untuk merubah masyarakat
itu. Hubungan manusia dengan keluargannya, lingkungannya, politik, negara, dan
sebagainya. Dalam penelitian murni, jelas tampak bahwa novel berurusan dengan
tekstur sosial, ekonomi dan politik yang juga menjadi urusan sosiologi. Novel
menyusup, menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukan cara-cara manusia
menghayati masyarakat dengan perasaannya.
Sehubungan dengan pendapat di atas,
Adisaputera, dkk (2015:49) menyatakan
bahwa apabila ditinjau dari segi sejarahnya, konsep sosiologi sastra didasarkan
pada dalil bahwa karya sastra dilukis oleh seorang pengarang, dan pengarang
merupakan a silent being, makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam
kehidupan empirik masyarakatnya. Dengan demikian, sastra juga dibentuk oleh
masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam
masyarakatnya.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
konteks sosial pengarang yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja
karya Achmad Munif.
karya Achmad Munif.
2. Bagaimanakah
gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel Perempuan Jogja
karya Achmad Munif.
karya Achmad Munif.
3. Bagaimanakah
fungsi sosial dalam Novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif.
C. Tujuan
Tujuan
yang akan dicapai dalam analisis ini adalah:
1. Mendeskripsikan
bagaimana konteks sosial pengarang yang tercermin dalam Novel
Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy.
Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy.
2. Mendeskripsikan
bagaimanakah gambaran masyarakat yang tercermin dalam Novel
Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy.
Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy.
3. Mendeskripsikan
bagaimanakah fungsi sosial dalam Novel Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya
Taufiqurrahman Al-Azizy.
D. Manfaat
1. Analisis
novel ini diharapkan dapat memberikan masukan pada perkembangan sastra
khususnya pada analisis dengan pendekatan sosiologi sastra.
2. Analisis
novel ini juga dapat dijadikan bahan bacaan atau pegangan dalam melakukan
penelitian berikutnya khususnya penelitian dengan pendekatan sosiologi sastra.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
Wilayah sosiologi sastra cukup luas.
Wellek dan Austin Warren (Adisaputera, dkk 2015:49) membagi telaah sosiologis
menjadi tiga klasifikasi. Pertama, sosiologi pengarang, yakni yang
mempermasalahkan tentang status sosial, ideologi politik, dan lain-lain yang
menyangkut diri pengarang. Kedua, sosiologi karya sastra, yakni
mempermasalahkan tentang suatu karya sastra. Yang menjadi pokok telaah adalah
tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau
amanat yang hendak disampaikannya. Ketiga, sosiologi sastra yang
mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.
Semi dalam Renita, dkk (2013) berpendapat
bahwa sastra merupakan media komunikasi yang mampu merekam gejolak hidup
masyarakat, dan sastra mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat. Disisi
lain, fenomena hidup dalam masyarakat merupakan sumber ide bagi pengarang dalam
melahirkan karya sastra. Apa yang dirasakan dan apa yang diungkapkannya tidak
hanya berasal dari diri pribadi melainkan perpaduan ide kreatif, imajinasi dan estetiknya
dengan persoalan hidup yang ada dalam masyarakat. Apa yang terjadi di
sekeliling pengarang akan menjadi bahan yang menarik untuk dimanifestasikan ke
bentuk tulisan.
Sosiologi sastra sendiri disiplin ilmu dari pendekatan mimesis yang
merupakan bagian dari pendekatan ektrinsik. Mimesis sendiri bertolak dari
pemikiran yang sastra itu adalah hasil seni yang mencerminkan kehidupan nyata,
merupakan tiruan atau pemaduan antara kenyataan dengan imajinasi pengarang. Disini
saya mengkaji novel ‘Wanita Baik Untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman
Al-Azizy’ dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra.
A. Sosiologi
Pengarang
Taufiqurrahman al-Azizy, lahir pada
9 Desember 1975. Asli orang Indonesia, tepatnya Jawa Tengah. Pernah nyantri
di Pesantren Ilmu al-Qur’an “Hidayatul Qur’an” yang diasuh oleh KH. Drs.
Ahsin Wijaya al-Hafizh, M.A. Pernah pula kuliah di Institut Ilmu al-Qur’an
(IIQ) Jawa Tengah. Namanya melejit setelah meluncurkan trilogi novel
spiritual Makrifat Cinta, yang terdiri dari Syahadat Cinta(DIVA
Press, 2006), Musafir Cinta (DIVA Press, 2007), dan Makrifat
Cinta (DIVA Press, 2007). Novelnya setelah trilogi novel
spiritual “Makrifat Cinta” yang juga telah beredar adalah Kitab
Cinta Yusuf Zulaikha (DIVA Press, 2007) Munajat Cinta (DIVA Press,
2009), Jangan Biarkan Surau Ini Roboh (DIVA Press, 2009) Sahara
Nainawa (DIVA Press, 2009), Kidung Shalawat Zaki dan Zulfa (DIVA Press, 2010),
Alif (DIVA Press, 2011), Kecupan yang Sangat Dirindunya (DIVA Press, 2012),
Rintihan dari Lembah Lebanon (DIVA Press, 2012), dan Lelaki yang Menggenggam
Ayat-Ayat Tuhan (DIVA Press, 2012).
Konteks sosial sastrawan ada
hubungannya dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya
dengan karyanya. Dilihat dari kelahiran penulis yaitu dari daerah Jawa Tengah,
penulis memberi penamaan tokoh yang berkaitan dengan sukunya yaitu: Sumirah,
Neneng, Lawuk, Bu Suminah, Mbak Rohmah dan Mbah Kamiyem. Selain penamaan tokoh
tersebut, latar tempat dalam novel tersebut pun berkaitan dengan latar belakang
tempat kelahiran pengarang yaitu Temanggung, Wonosobo. Seperti yang diungkapkan
oleh Sigalingging (2015:103) bahwa sebagai anggota masyarakat, penulis tidak
dapat melepaskan diri dari lingkungan sosial budaya, politik, keamanan,
ekonomi, dan alam yang melingkupinya.
Pada bagian pengantar novelnya,
Al-Azizy menyatakan dengan gamblang “kisah yang saya tulis ini memang fiktif
belaka, tetapi isi dan tema yang saya sajikan adalah nyata.” Penulis menyatakan
bahwa novelnya merupakan transformasi dari pengalaman kehidupannya. Selain itu,
penulis juga menyatakan bahwa yang menginspirasinya dalam penulisan novel
Wanita Baik untuk Lelaki Baik ini pun teringat dari isi firman.
“Ibunya
sangat kolot soal menantu ini, penginnya orang Jawa”
Kutipan
tersebut sangatlah berkaitan dengan kehidupan pengarang yang berasal dari Jawa
dan juga yang menyelesaikan studinya di Jawa. Pengarang tidak lepas dari
pencitraan masyarakat Jawa di dalam penceritaan novelnya. Oleh karena pengarang
juga merupakan bagian dari masyarakat dan hidup di tengah pola hidup dan
kebudayaan masyarakat, tentu karya yang diciptakannya tak lepas dari sisi-sisi
kemasyarakatan dalam kehidupannya yaitu lingkungan Jawa.
B. Sosiologi
Karya Sastra
Pendekatan ini
meninjau sampai sejauh mana sastra dapat mencerminkan keadaan social masyarakat. Keadaan sosial tersebut dapat
mencerminkan berbagai hal tentang masyarakat baik dari segi kehidupan dan mata
pencaharian masyarakat, kisah cinta dan kesabaran dalam menjalani hidup, nilai
moral, agama dan lain sebagainya.
1. Penggambaran
Pola Hidup Masyarakat
Dalam
novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik, digambarkan kehidupan masyarakat Temanggung
yang bekerja sebagai petani tembakau.
“telah puluhan
bahkan ratusan tahun para orangtua sudah mengajarkan bakat bertani tembakau
kepada anak-anak mereka.tanpa sekolah, tanpa kuliah, toh banyak warga yang bisa membeli mobil-mobil mewah. (14)”
Hal tersebut memperjelas
penggambaran kehidupan masyarakat yang di cantumkan ke dalam cerita novel.
Bahwa masyarakat sudah memiliki persepsi kehidupan yang sama, yaitu mengajarkan
kehidupan bertani yang merupakan sumber uang dan kehidupan masyarakat. Dalam
novel tersebut pun digambarkan bahwa sekolah bukan sebagai hal yang penting.
Mereka beranggapan bahwa sekolah adalah cara yang licik untuk menghabiskan uang
orangtua.
Selain
itu,relasi yang erat masyarakaat paponan dengan tokoh yang bernama Koh Adi
penganut budaya Cina yang tinggal di Indonesia. Hal ini memberi penggambaran
dalam novel tentang hubungan masyarakat yang tidak hanya berhubungan dengan
masyarakat sebudayanya, namun akrab juga dengan kebudayaan lain.
2. Nilai
Moral dan Kesantunan
Budaya Jawa
mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari
hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Hal tersebut terlihat
dalam kutipan:
“Kaum laki-laki
yang menyelempangkan kain sarung dan perempuan-perempuan desa yang mengenakan
baju tertutup rapat dengan mengenakan jaket, bahkan bila mereka berangkat ke
ladang tembakau.(11)”
Selain itu, dalam novel Al-Azizy
ini, kita dapat menemukan permasalahan nilai moral yang digambarkan oleh pemuda
yang anarkis yang melakukan aksi demo untuk menuntut hak mereka yaitu Agung dan
Lawuk beserta pemuda-pemuda kampung melakukan demo untuk menolak gerakan
antirokok dan antitembakau yang digalakkan Pemerintah. Hal tersebut dikarenakan
mereka menghawatirkan nasib kehidupan mereka yang bergantung pada pertanian
tembakau di kampung(60).
Dalam
novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik inipun menggambarkan masalah sosial pemuda
yang anarkis yang melakukan aksi demo untuk menuntut hak mereka. Dalam novel
tersebut digambarkan tokoh Agung dan Lawuk beserta pemuda-pemuda kampung
melakukan demo untuk menolak gerakan antirokok dan antitembakau yang digalakkan
Pemerintah. Hal tersebut dikarenakan mereka menghawatirkan nasib kehidupan
mereka yang bergantung pada pertanian tembakau di kampung.
“ Zina adalah perbuatan
buruk yang sanagat dicela agama. Disebut sebagai fakhisyah dan jalan yang buruk untuk melampiaskan syahwat dan
mendapatkan keturunan.(329)”
Dalam novel Wanita Baik Untuk
Lelaki Baik karya Taufiqurrahman ini memang berisi kisah percintaan yang
berakhir menyedihkan oleh sebab perselingkuhan Yazid yang begitu sempurna di
mata Sumirah gadis desa yang sangat baik. Selain mengemas cerita dengan kisah-kisah
yang mengena di hati, pengarang juga banyak menuliskan ajaran-ajaran moral di
sela-sela cerita, termasuk pesan moral dalam kutipan di atas.
3. Nilai-Nilai
Sosial dalam Kekeluargaan
Dalam
kekeluargaan tentu memiliki nilai-nilai dalm kehidupan bermasyarakat. Dan
nilai-nilai itu pun terdapat dalam novel karya Tauifqurrahman.
“Kita ini orang kecil
nduk, tetapi kita tak boleh sembarangan dalam menjalin hubungan(27)”
pada kutipan ini, terlihat jelas
pada lingkungan keluarga di masyarakat bahwa orangtua selalu mengharapkan yang
terbaik untuk anaknya salah satunya yaitu untuk pendamping hidup yang
diharapkan.
“Dan, dia ingat pesan
neneknya. Dimanapun kau tinggal, jangan pernah melupakan adat dan sopan
santunmu sebagai putri Jawa. Jangan pernah tinggalkan sopan santun itu, sebab
sia akan menjadi penolongmu dimanapun kau berada.(188)”
Dalam kehidupan kekeluargaan yang
tak lepas dari nasehat-nasehat, dalam tokoh Sumirah ini pengarang
menanamkannya. Dimana sang tokoh memegang teguh segala ajaran yang didapatkannya dalam keluarganya. Seperti yang dinyatakan Renita, dkk (2013)
dalam jurnalnya bahwa keluarga orang Jawa adalah merupakan keluarga dimana
dikembangkan rasa kasihan, merasakan penderitaan orang lain, rasa tanggung
jawab, dan perhatian terhadap sesama. Di mata orang Jawa, menjadi seorang
masyarakat Jawa berarti menjadi manusia beradab, yang mengetahui bagaimana
seharusnya bertingkah laku atau mengetahui tatanan Jawa.
“apa pun, yang penting
kita ada penghasilan. Aku khawatir, keadaan tidak segera membaik, bu. Besok aku
akan pergi ke kota. Siapa tahu aku bisa mengerjakan sesuatu yang menghasilkan
uang.(68)”
Dalam kutipan di atas menunjukkan
tanggung jawab seorang suami yang memang harus memenuhi nafkah istri dan
anak-anaknya. Pengarang menggambarkan seorang suami sekaligus ayah yang
berjuang demi menghidupkan keluarganya di saat sumber mata pencahariannya tak
lagi ada. Selain ayah yang bertanggungjawab, pengarang juga menggambarkan tokoh
Sumirah sebagai anak yang berbakti pada orang tuanya. Hal tersebut terlihat
pada kutipan dibawah ini:
“Sumirah menggeleng.
Pada detik selanjutnya, Sumirah memberanikan diri. Dia berkata kepada Bapaknya,
Pak Bolehkah saya bekerja?(69)”
Pada novel tersebut menunjukkan
seorang bunga desa yang bernama Sumirah sebagai bunga desa yang hidup dalam
keluarga yang sederhana. Pada kutipan di atas menunjukkan dia sebagai anak yang
berbakti sebab tak ingin melihat orangtuanya yang begitu pusing memikirkan
pekerjaan dan uang yang disebabkan hilangnya sumber mata pencaharian kedua
orangtuanya sebagai petani tambakau.
4. Nilai
Keagamaan
Kehidupan beragama juga terlihat
pada cuplikan cerita novel, yang menggambarkan aktivitas tokoh yang sedang
menunaikan ibadah sholat.
“didorong rasa
penasaran yang teramat sangat, usai menjalankan shalat Zhuhur, Lawuk mendekati
Agung yang tampak duduk merenung di depan masjid sembari memandang
kejauhan.(61)”
Dalam novel Wanita Baik untuk
Lekaki Baik tersebut pun menggambarkan tentang permasalahan sosial tentang
tokkoh Agung yang bertato dan terkenal preman. Hal tersebut membuat persepsi
warga bahwa penampilannya seburuk penampilannya. Namun, malah sebaliknya seorang
berpenampilan layaknya preman tidak menutup kemungkinan bahwa akhlak dan
perbuatannya malah lebih baik dari yang berpenampilan kalam. Agung menuntut
ilmu agama. Dalam kehidupan kita juga masalah ini kerap terjadi. Kita memandang
perilaku seseorang hanya dari tampilan luarnya saja. Dan setelah kita mengenal
lebih jauh, ternyata kenyataannya berbeda.
5. Penggambaran
Sikap Wanita Baik dan Lelaki Baik dalam Masyarakat
Apabila pada
kehidupan masyarakat jawa kita beranggapan bahwa seorang waanita Jawa hendaknya
hidup sebagai wanita yang murah senyum dan ramah pada siapa saja, dalam hal
ini, pengarang menggambarkan masalah sosial dalam harga diri wanita yang
merupakan makhluk terhormat, bukan makhluk penggoda. Pengarang memberi
penegasaan pada keindahan wanita yang hendaknya dijaga agar tetap indah dan
berharga.
“Wanita harus sombong
karena kesombongan itulah yang akan menjadikan dirinya terhormat di hadapan
pria. Dalam kesombongan itu, harga dirinya ditambatkan(91).
Pengarang berpendapat lain, bahwa kehormatan dan keindahan
wanita tidak selayaknya diumbar pada siapa saja. Melainkan lewat keosmbongan
itulah wanita terjaga.
“Sumirah yang polos dan
lugu tidak memiliki jiwanya sendiri. Sebab, kepada ayah dan ibunya itulah hati
dan jiwanya terikat(26)”
Kutipan diatas menunjukkan sikap
baik tokoh Sumirah yang sangat mematuhi orangtuanya. Dimana segala hal yang
mencakup dirinya tidak dengan semena-mena mengambil keputusan sendiri secara
egois. Namun semua hal akan dipertanyakan kepada kedua orangtuanya sebab
keyakinannya, mereka akan memberi jawaban yang trerbaik untuk hidupnya.
“Mas kok hanya
bilang-bilang terus sih? Aku harus bagaimana? Maafkan isterimu ini Mas. Aku
ingin taat dan berbakti kepadamu”
Dalam kutipan itu juga pengarang
menggambarkan wanita yang taat pada suami. Sama halnya dengan pernyataan Ritzer
dan Goodman (2004:415) bahwa perempuan digambarkan memiliki posisi inferior dan
tunduk pada laki-laki.
“Dia seperti
gados-gadis laain pada umumnya, melihat seseorang dari apa yang dimilikinya,
bukan melihat sebagai seseorang itu sendiri. Belum juga jadian, dia telah
meminta ini dan itu.(179)”
Dalam novel Wanita Baik untuk
Lelaki Baik tersebut, menyiratkan bahwa seorang wanita yang baik tidaklah
memandang siapapun dari segi keberadaan materi. Namun memandang dari segi
kepribadian sebagaimana seseorang itu bersikap. Dan sikap yang baik itu
tergambar pada sosok Sumirah yang menerima siapapun apa adanya dan sama sekali
tak menoleh pada harta dan kekayaan.
Selain penggambaran Wanit Baik,
dalam novel tersebut pun terdapat penggamabaran bagaimana seorang lelaki
dikatakan baik.
“kalu dia
benar-benar pemuda baik dan tak jahat, tentu dia akan ikhlas mengantar jemput
kau selama ini.(29)”
Kutipan diatas membuktikan bahwa
pengarang menggambarkan sosok lelaki yang baik yaitu lelaki yang ikhlas, yang
tidak menuntut balas, dan tidak memaksa.
“tato yang tadinya bagus, kini terhapus,
sedang kulit lengan Agung tempat bekas tato itu berada tampak menjadi buruk sekali.(61)”
Tokoh Agung dalam kutipan diatas
tampak menghapus tatonya. Sebab dalam pandangan masyarakat yang memandangnya
buruk oleh otot dan tatonya itu. Sosok lelaki baik yang digambarkan sebagai
lelaki yang tak bertato diwujudkannya.
“Kalau sekarang
aku rajin sembahyang, karena aku sadar bahwa tidak ada yang bisa membantu dan
menolong kita kecuali Dzat yang lebih kuat yaitu Allah kita kepadanya kita
mengadu, memohon pertolongan dan kekuatan. Karna itulah aku shalat.(64)”
Dapat dikatakan, melalui kutipan diatas
bahwa pengarang menggambarkan tokoh lelaki baik yaitu lelaki yang kelak akan
menjadi imam yang baik bagi keluarganya yaitu lelaki yang taat menunaikan
ibadah.
“Yazid menahan
geram. Tetapi, dia tetap bersabar. Yang penting, isterinya mau dipertemukan
dengan atasan dan isterinya.(226)”
Dalam kutipan diatas, menyiratkan
bahwa pengarang juga menggambarkan sosok lelaki baik yang penyabar dan tidak
emosional. Sifat yang dituangkannya terhadap tokoh Yazid tersebut memberi
penjelasan secara tidak langsung bahwa lelaki yang baik adalah lelaki yang yang
tidak d4engan semena-mena memaksakan kehendaknya terhadap istrinya dengan
meninggikan statusnya sebagai suami. Seperti yang dikatakan Wildan (2009:32)
dalam skripsinya bahwa batas kepemimpinan pria tidak menyinggung perasaan
wanita atas kehormatannya. Dalam kebiasaan, yang memimpin adalah yang mengatur
dan berlaku adil, bukan menindas dan menguasai.
C. Sosiologi
Sastra
Sosiologi Sastra
mengharapkan dampak ataupun perubahan social yang ditimbulkan oleh pembaca
setelah membaca novelnya. Novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik ini sangat banyak
memberi nilai moral terhadap pembaca dengan penyajian bahasa yang tidak
monoton. Setiap cerita yang dipaparkan selalu dibubuhkan cerita lucu yang tentu
saja tidak membuat pembaca bosan. Dan apabila dilihat dari isi cerita,
pengarang sangat peduli terhadap situasi masyarakat yang kerap kali muncul
berbagai masalah dalam setiap lika-liku kehidupan. Yang paling utama pengarang
mengajarkan tentang arti cinta dan bagaimana mengelola hati dan mengahadapi
setiap persoalan hidup. Kemarahan, kecemburuan, iri hati, dengan cara khusus
dituturkannya dalam cerita. Kemarahan tidak harus berarti dilampiaskan, menjadi
anarkis, mencaci maki, dan lain sebagainya.
BAB III
KESIMPULAN
Sosiologi Sastra dibentuk oleh
masyarakatnya dan memiliki keterkaitan timbal-balik dengan masyarakat, dan
sosiologi sastra berupaya meneliti hubungan antara sastra dengan kenyataan
masyarakat dalam berbagai aspek. Hal tersebut dikarenakan sebuah karya sastra
merupakan cerminan dari alam dan kehidupan manusia yang dikemas dengan
pemilihan bahasa dan gaya bercerita sebagaimana agar cerita tersebut terasa
lebih nyata dan memberi kesan bagi pembacanya.
Dan saya pun menyimpulkan bahwa
novel Wanita Baik untuk Lelaki Baik karya Taufiqurrahman Al-Azizy merupakan sebuah
cerminan dari kehidupan pengarang. Sebab begitu banyak kesamaan yang dapat
ditemukan antara latar belakang pengarang serta gaya penceritaan pengarang
dalam novelnya. Pengarang yang besar pada lingkungan Jawa, demikian pula isi
cerita novel yang banyak menyinggung tentang kehidupan dan pola hidup
masyarakat Jawa. Selain itu, latar dalam cerita juga berkisar pada wilayah
Jawa, serta penamaan-penamaan tokoh yang banyak terpengaruh pada penamaan
masyarakat Jawa.
DAFTAR PUSTAKA
Adisaputera,
dkk. 2015. Modul Pengantar Pengkajian Prosa
Fiksi. Medan: Universitas Negeri Medan.
Al-Azizy,
Taufiqurrahman. Wanita Baik untuk Lelaki
Baik. Jogjakarta: Najah
Damono,
Sapardi Djoko.1978. Sosiologi Sastra
Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta:
Depdikbud.
Depdikbud.
Sigalingging.
2015. Pengantar Kritik Sastra.
Jakarta: Halaman Moeka.
Wildan,
Syaiful. 2009. Kedudukan dan Peran Perempuan sebagai Istri dalam Masyarakat Kraton Yogyakarta Hadiningrat.
Skripsi Ilmu Hukum Islam. Hal 1-63.
LAMPIRAN
SINOPSIS
NOVEL
Sumirah adalah bunga desa. Rumit dan
berliku jalan kehidupan yang dilalui Sumirah. Bunga desa yang lahir dan tumbuh
di Paponan, sebuah tempat di Temanggung. Dia adalah cermin dari gadis yang
polos dan lugu. Jiwa pedesaan telah menanamkan berbagai sifat yang baik dan
mulia kepada dirinya. Dia tidak pernah pacaran dan mengenal jatuh cinta. Dia
selalu taat dan patuh pada orangtuanya. Gadis sebaik dia, mnurut anggapan
warga, mustahil harus menerima cinta seorang pemuda dari ndesa tetangga, Agung
namanya. Agung dianggap terlalu buruk. Dia bertato di lengan dan hanya tukang
ojek. Bunga desa tak pantas bersanding dengan pemuda preman yang pekerjaannya
hanya tukang ojek.
Keadaan pun berubah, sebab waktu
selalu berubah. Kala itu, muncul isu tentang gerakan antirokok dan anti
tembakau. Isu yang seperti ini sangat mencemaskan dan membuat kecut serta takut
masyarakat Temanggung. Mereka selama ini bekerja sebagai peta ni temabakau.
Banyak pula yang hanya menjadi buruh tani tembakau. Seperti kedua orangtua
Sumirah yang menjadi buruh ladang tembakau Koh Adi.
Cinta bertepuk sebelah tangan yang
dialami Agung telah merubah kehidupan Agung sendiri. Anggapan orang memang
tidak selalu sesuai dengaan kenyataan. Orang yang dianggap baik dan mulia belum
tentu sebenar-benarnya baik dan mulia. Dia yang dicap sebagai preman, bisa jadi
memiuliki hati yang bersih. Nurani Agung terpanggil untuk membela
masyarakatnya. Demo-demo digelar dan dipimpinnnya hingga mengantarkannya ke
penjara.
Pada saat yang bersamaan, seorang
pemuda baik, tampan, kaya, dan terhormat, datang ke Paponan untuk berjumpa
dengan Sumirah. Yazid namanya. Pemuda sukses yang tinggal di Jakarta ini, atas
nasihat dan saran Rohmah dan suaminya yang membuka warung Mi Ayam Narsis di
daerah Kebayoran Baru dan menjadi karib Sumirah ingin berkenalan langsung
dengan Sumirah. Pandangan pertama pun terjadilah.
Yazid suka kepada Sumirah.
Sumirah pun jatuh hati kepada Yazid.
Mereka menikah. Sumirah yang lugu
dan polos akhirnya harus meninggalkan Paponan menuju tampat baru, tempat yang
belum pernah didatanginya: kota besar Jakarta. Pasangan suami-istri inipun
bagai langit dan bumi. Keluguan dan kepolosan hati Sumirah membuat Sumirah
sering kali terjebak pada keadaan yang sulit. Misalnya, Sumirah akan selalu
jongkok di toilet duduk. Begitulah sumirah yang tenyata sangat ndeso. Tangan Sumirah juga pernah
terkilir ketika pertama kali naik eskalator. Banyak kejadian-kejadian lucu dan
menggelikan yang dilakukan Sumirah. Puncaknyaa, ulah Sumirah telah meledakkan
rasa malu suaminya dihadapan atasannya dan para kolega dari atasannya. Gadis dari masa lalu Yazid pun datang kembali
atas permintaan Yazid. Neneng namanya. Dengan caranya, Neneng membantu Sumirah
untuk mengubah citra dirinya. Akhirnya Sumirah menjadi diva. Tetapi tak lama
kemudian apa yang tak pernah terbayang olehnya menimpa dirinya.
Segala permasalahan bertubi-tubi
didapatkannya termasuk suaminya yang tenyata secara diam-diam telah menjalin
hubungan dengan Neneng. Kemarahan, kecemburuan, serta iri hati, semua bercampur
aduk. Kemarahan tidak harus berarti dilampiaskan dengan cara brutal,
berteriak-teriak, mencaci maki, dan seterusnyaa. Ada cara yang cerdas dan bijak
menyalurkan hati yang dipenuhi kegalauan, kemarahan, dan sakit hati. Sumirah
mengajarkan hal itu. Begitu pula Agung.
Label: sastra, travel, opini, etc
Tugas Kuliah
Langganan:
Komentar (Atom)

